
"Bagaimana keadaannya?"
Aiden terengah-engah saat membuka pintu kamar Yelena. Vivian yang melihat hal itu menghampiri Aiden dengan segelas air mineral di tangannya. Dia menyodorkan nya pada Aiden.
"Minum dulu.." ujar Vivian.
Aiden berjalan ke arah kursi di sebelah ranjang Yelena setelah menerima segelas air itu dari Vivian. Dia menghempaskan tubuhnya di atas kursi itu sembari meneguk airnya hingga tak tersisa setetes pun.
"Apakah kamu se peduli itu pada gadis asing ini?" tanya Vivian terang-terangan.
Aiden meletakkan gelas airnya di atas meja, kemudian menatap infus yang terhubung dengan tubuh Yelena. Melihat hal itu membuatnya teringat akan hari itu.
Dialah yang membereskan ulah kakaknya di jalan itu. Dia melihat barang-barang Yelena berhamburan di tengah jalan raya. Darah segar yang masih menggenangi jalanan itu seakan menjadi saksi bisu ketakutannya saat itu.
Aiden memijat pangkal hidungnya sembari memejamkan matanya. Sedangkan Vivian masih menatapnya, menanti jawaban yang tak kunjung terlontar dari mulut Aiden.
Vivian menghela napas pasrah, kemudian memalingkan pandangannya. Dia berjalan ke arah balkon yang pintunya masih terbuka. Dia mencari udara segar untuk menghilangkan kekesalannya setelah melihat kekasihnya begitu peduli pada gadis asing itu.
__ADS_1
"Aku juga bagian dari semua ini.."
Aiden yang tiba-tiba muncul di belakangnya dan memeluk dirinya itu membuatnya menjingkat kaget.
Aiden menenggelamkan wajahnya di pundak Vivian.
"Gadis malang itu harus mengalami perlakuan tidak adil seperti ini.."
"Dia yang terbangun dengan isi kepala kosong itu telah dipermainkan,"
"Aku bagian dalam permainan ini. Aku juga mempermainkannya. Aku hanya menggunakan kebaikanku sebagai dalih. Sebagai dalih untuk menutupi kesalahan ku. Aku tidak dapat melakukan apa-apa selain melindungi nya."
"Apakah aku terlalu naif?"
"Tidak. Aku adalah orang yang munafik!" dia menjawab dirinya sendiri.
"Selamanya aku tidak akan pernah bisa menghapus dosa ini. Gadis itu telah kehilangan masa depannya. Kehilangan waktunya untuk hal gila ini! Dia hanya gadis biasa yang ingin bekerja dengan normal di kantor itu. Namun.."
__ADS_1
Vivian sudah tidak kuat mendengar semua itu. Dia menggenggam erat lengan Aiden yang merengkuh tubuhnya. Dia tahu beban yang di tanggung Aiden. Dia tahu Aiden adalah pria yang baik. Dia tahu kelemahan Aiden adalah wanita lemah. Dia tahu semuanya. Karena kelemahan itu berasal darinya.
Dia tidak membenci Yelena. Dia juga merasa kasihan padanya. Gadis yang tak tahu apa-apa itu harus menjadi duplikat orang lain. Gadis dengan harapan besar dalam hidupnya itu harus melupakan dan juga meninggalkan harapannya.
Vivian tahu jika semua itu sudah menjadi jalan takdir. Sudah menjadi takdir Yelena untuk mengalami kecelakaan dan kehilangan ingatannya.
'Namun sekali lagi takdir itu diubah. Takdir itu telah dikacaukan oleh Sean!' gumam Vivian dalam hati.
Takdir baru telah dituliskan. Ya, takdir tidak akan berjalan sejauh ini jika Sean tidak mengakuinya sebagai tunangan. Yelena juga akan dengan tenang menjalani rehabilitasi untuk memulihkan ingatannya.
Vivian ikut merasa kesal mengingat semua yang telah dia ketahui itu.
"Kita akan menjaganya bersama-sama.." ujar Vivian sembari berbalik dan memeluk Aiden.
"Ha- haus~" suara itu membuat Aiden dan Vivian melepaskan pelukannya dengan segera karena kaget.
"Dia sudah sadar.." ujar Vivian yang segera berlari ke dalam untuk melihat kondisi Yelena.
__ADS_1