Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Maafkan Aku...


__ADS_3

"Selamat malam, Tuan.."


Bugh!


Sean melayangkan tinjunya pada Xenon. Pria itu terlimbung ke lantai karena pukulan keras Sean. Pastinya itu bukan pukulan biasa. Karena Sean mengumpulkan semua emosinya kedalam sana.


"Dari mana saja kau!?" bentaknya.


"Bukankah aku menyuruhmu untuk mengawasinya jika ada hal yang mencurigakan!? bahkan saat dia mati pun kau tidak tau!?"


Xenon segera berdiri dan membungkukkan tubuhnya.


"Maafkan saya, Tuan. Saya baru saja keluar dari rumah sakit.."


Sean baru menyadari jika ada sebuah arm sling gyps yang tergantung di lengan kiri Xenon.


"Kenapa kau?" tanya Sean sedikit melemah.


"Sebenarnya malam itu saya mengikuti Nona, karena saat Nona keluar dari rumah ada sebuah mobil yang mengikutinya. Saat sampai tak jauh dari taman tempat tujuan Nona, saya melihat mobil yang mengikuti Nona tadi sedang mengincarnya. Lalu menabraknya hingga terpental.."


"Setelah orang itu menabrak Nona, dia memundurkan mobilnya kembali dan berhenti di samping tubuh Nona. Kemudian orang itu kabur. Saat saya mencoba untuk mengejarnya, sebuah mobil yang lain menabrak saya. Dan dalam keadaan setengah sadar, saya melihat mobil yang ada di samping Nona itu meledak," jelas Xenon.


"Yelena bukan berasal dari sini. Jika dia diincar, maka orang itu tidak lain adalah seseorang di antara kami.." gumam Sean.


"Allesa dan Fiona. Menurutmu apakah mungkin?"

__ADS_1


"Saya tidak berani untuk menuduh Nona Allesa," ujar Xenon.


"Ehem~" Sean berdehem pelan, kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu. Dia memijat pangkal hidungnya.


"Apa kau sudah memeriksa ulang tempat itu? apa tidak ada CCTV di sekitar sana?"


"Tidak ada, Tuan.."


Sean menghela napas panjangnya.


"Beberapa hari ini awasi terus Allesa!"


"Baik, Tuan."


......................


Memang hanya ucapan seorang Ibu yang dapat menyadarkan anaknya. Saat ini semua ucapan Gloria sedang memenuhi isi kepalanya.


Kini Sean tengah duduk di meja makan dan menatap kursi di depannya yang kosong. Kursi yang biasanya diduduki oleh orang yang menatapnya dengan senyuman itu, kini telah kosong. Orang itu juga telah pergi.


Setiap kejadian yang terjadi di tempat itu berputar seperti layar tancap di kepalanya. Sulit untuk mengakui jika dia merasa kehilangan. Namun hati tidak bisa berbohong.


Dia bangkit dari duduknya dan pergi ke kamar Yelena. Hawa dingin langsung menyerangnya saat dia membuka pintu. Entah sejak kapan balkon itu terbuka.


Dia berjalan masuk dalam ruangan gelap itu. Kemudian duduk di ranjang dan mengusap bed dengan sprei putih itu.

__ADS_1


Sebuah benda keras dia rasakan di balik selimut yang dia sentuh. Dia membukanya dan mendapati sebuah bingkai foto yang tergeletak di sana.


Sean mengambilnya dan perlahan membaliknya. Rahangnya mulai mengeras, otot di tangannya juga mulai terlihat. Dia mencengkeram bingkai foto itu, lalu melemparnya hingga pecah.


Itu adalah bingkai foto yang Yelena ambil dari gudang waktu itu. Ya, foto Sean dan Allesa.


Sean meremas kepalanya sembari menunduk. Kemudian mengangkat kepalanya dan menghela napas dengan kasar. Dia masih terdiam, merasakan kesunyian dalam kamar itu.


"Apa seperti ini rasanya? apa setiap malam dia juga merasakan perasaan yang sunyi seperti ini?" gumamnya.


Angin kembali bertiup kencang, membuat gorden bergerak seperti seseorang yang sedang melangkah mendekat ke arahnya.


"Apa kau ada di sini saat ini?" ucapnya.


"Jika kau benar-benar telah mati, apa sekarang kau ada di sini!? tunjukkan wujud mu agar aku dapat melihatmu!" teriaknya.


"Atau meskipun kau telah menjadi arwah, kau tidak akan pernah sudi untuk melihatku?" lirihnya.


Dia menundukkan kepala, lalu mulai tertawa. Tawanya semakin keras saat dia menengadahkan kepalanya untuk menatap langit-langit kamar itu. Perlahan dia menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.


Aku yakin dia tadi tertawa. Bahkan sekarang pun dia masih tertawa. Tapi dari mana datangnya air itu? Dari mana datangnya air yang mulai menggenang di wajahnya itu?


Dia mengangkat sebelah tangannya dan meletakkannya di atas matanya.


"Maafkan aku.." gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2