
"Hah~" Fiona tersenyum tak percaya.
Dia menyentuh pipinya yang terasa panas karena tamparan itu. Kemudian menatap Vivian dengan tatapan kebencian.
"Puluhan tahun kita telah berteman. Tapi akhirnya seperti ini?"
"Kau menamparku karena dia? hah?" Fiona mulai meninggikan suaranya.
Vivian membalikkan badannya tidak menghiraukan Fiona. Dia menarik tangan Yelena untuk meninggalkan tempat itu.
"Kau akan menyesal! kalian semua! terutama kau, pengganti sialan!" teriak Fiona emosi.
Yelena sedikit menoleh kebelakang untuk melihat Fiona. Fiona terlihat kacau, wajahnya sangat suram.
"Tidak usah menoleh kebelakang!" ujar Vivian sambil terus menarik tangan Yelena.
Yelena mengikuti setiap langkah kaki Vivian, mengikuti kemana dia menariknya. Vivian menghentikan langkahnya, kemudian menghela napas kesal. Yelena yang menatapnya dari belakang.
Yelena memundurkan langkahnya kaget saat Vivian tiba-tiba berbalik ke arahnya.
"Apa dia melukai mu?" tanya Vivian sembari memegang kedua pundak Yelena.
"Ti- tidak.." jawab Yelena tergagap.
__ADS_1
Vivian menghela napas lega, sembari melepas pegangannya pada pundak Yelena.
"Hah~ syukurlah.." gumamnya.
Vivian melanjutkan langkahnya mendahului Yelena. Dan Yelena pun senantiasa mengikuti langah Vivian.
Vivian kembali menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Kenapa kamu mengekor di belakang ku?" ujarnya sembari melambaikan tangannya untuk Yelena berjalan di sampingnya.
Yelena sudah berjalan di sampingnya, tapi rasanya masih tetap canggung. Rasanya tidak nyaman. Apalagi mengingat apa yang telah dikatakan Fiona.
Vivian tidak tahu apa saja yang telah di katakan Fiona kepada Yelena. Dia melirik Yelena yang sedari tadi menatapnya.
"Tanyakan saja..apa ada yang mengganggu pikiran mu?" ujar Vivian.
Yelena tertunduk malu karena merasa ekspresi wajahnya sangat mudah untuk di tebak. Kemudian dia mengangkat kepalanya dengan percaya diri, dan menanyakan hal apa yang sedang mengganjal dalam hatinya.
"Allesa..siapa itu Allesa?" tanyanya.
Vivian sudah menduga Yelena akan menanyakan tentang itu.
"Allesa adalah teman kami.." jawab Vivian singkat.
__ADS_1
"Ah.. bagaimana kamu bisa mengenal Fiona? tidak mungkin kan dia menghampiri mu begitu saja? setau ku dia baru saja kembali dari luar negeri.." lanjut Vivian.
"Tengah malam tadi Sean memintaku untuk menjemputnya di bar."
"Sean? meminta mu?" tanya Vivian curiga.
Tidak mungkin dia Sean ceroboh itu. Dia tidak mungkin mengungkap keberadaan Yelena di depan teman-temannya. Pikir Vivian.
"Dan dia menyebutkan satu nama. Tapi bukan aku...dia menyebut nama Allesa," ujar Yelena dengan senyum kecutnya.
"Dia mengatakan jika dia sangat merindukannya.." lanjutnya.
Vivian hanya terdiam. Dia tidak bisa menjelaskan semuanya. Dia tidak mampu untuk mengarang cerita.
Jika tidak menjawab, hal itu akan membuat Yelena semakin curiga. Maka sebisa mungkin dia menceritakan masa pertemanan mereka berempat, tanpa mengikutsertakan cerita tentang hubungan pribadi Sean dan Allesa.
"Kami berempat teman sejak kecil. Aku, Aiden, Sean, dan juga Allesa.."
"Sebuah kecelakaan menewaskan orang tua Allesa, dan saat itu ketika kami pergi berlibur bersama. Ayah Allesa sempat menitipkan Allesa pada Sean sebelum wafat. Setelah tumbuh dewasa dan sukses menjadi model, tiba-tiba dia menghilang tanpa kabar. Mungkin karena itu Sean jadi merasa bersalah.."
Vivian menceritakannya secara singkat. Semoga setelah itu Yelena tidak merasa curiga lagi.
Yelena mengangguk paham akan cerita Vivian. Namun sayangnya hal itu tidak dapat merubah ekspresi wajahnya. Dia menjadi semakin sedih setelah mendengar cerita Allesa itu.
__ADS_1
'Aku harap kita bisa menjadi teman saat ada kesempatan untuk kami bertemu nanti..' batin Yelena.