
Gelap gulita dalam rumah itu. Tidak ada setitik cahaya pun. Sepi, hanya terdengar suara ketukan meja yang tiada henti. Seolah menggambarkan kekacauan dalam kepalanya.
Berhenti. Dia menghentikan ketukannya. Kini dia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju lemari pendingin yang ada di belakangnya.
Kertas memo banyak di tempelkan pada setiap bagian kulkas saat dia membukanya. Dia mencabut salah satu kertas yang bertuliskan 'jangan terlalu banyak minum minuman berkarbonasi, banyak-banyak minum air hangat!', pada bagian rak minuman kaleng beralkohol nya.
Matanya kembali melihat sebuah box kecil yang tepat berada di depannya. Dia mengambilnya, lalu mencabut memo yang tertempel di atas tutupnya. 'Aku sudah menduga jika kamu akan pulang malam. Apa kamu sudah makan malam? Jika belum, kamu tinggal memanaskannya kembali.'
"Arggh!"
Dia melempar box itu hingga isinya berhamburan keluar. Nasi goreng yang di buat Yelena kemarin malam.
Brak!
Pintu rumahnya terbuka dengan keras, karena seseorang yang baru datang itu menghempasnya dengan keras.
"Aku sedang malas berdebat denganmu!" serunya saat Aiden berjalan ke arahnya.
Plak!
Aiden melempar sebuah map coklat ke arahnya. Sean hanya melirik benda yang ada di bawah kakinya itu.
"Hasil forensik dari tubuh yang sudah tak berwujud itu!" ucapnya dengan suara gemetar.
__ADS_1
"Satu lagi.."
Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah benda dalam plastik klip. Dia kembali melakukan hal yang sama. Melemparkannya ke arah Sean.
"Selain ponselnya, benda itu juga di temukan di sana!"
Tanpa berlama-lama lagi, Aiden pergi dari sana setelah tak kuasa menatap meja makan yang dulu dia pernah tertawa bersama Yelena di sana.
"Dan lagi! nyalakan lampunya, karena Yelena takut pada kegelapan!" ucap terakhirnya sebelum pergi.
Sean masih mematung di tempatnya berdiri dengan kalimat terakhir Aiden yang masih berdengung di telinganya. Dia kemudian menatap benda-benda di bawah kakinya. Setelah menarik napas panjang, dia mulai merendahkan tubuhnya untuk memungut benda-benda itu.
Sebuah kalung yang sedikit menghitam dalam kantung itu, dia meremasnya. Kini beralih pada map coklat itu.
"Kau kira benda ini bisa menipu ku?"
"Aku tidak akan tertipu!" teriaknya lalu menyobek kertas di tangannya.
drrtt.. drtt!
Dia merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya yang berbunyi. Setelah melihat nama adiknya tertera di layar ponselnya, dia mengangkatnya dengan malas.
'Hm?' serunya.
__ADS_1
'Besok, jam 10..'
'Jangan lupa datang ke pemakamannya!'
"Sial!" teriaknya seraya melempar ponselnya hingga menghantam dinding.
Dia mengacak-acak rambutnya dengan gusar.
"Tidak. Kau tidak bisa seperti ini, Sean!"
"Dia bukan siapa-siapa!" gumamnya.
Dia bangun dan bergegas pergi ke kamarnya. Dia pikir di dalam sana dia akan menemukan ketenangan. Namun ternyata sama saja. Tidak hanya di dalam kulkas Yelena meninggalkan memo. Tapi dalam lemari Sean juga.
Beberapa dasi yang sudah di simpul dengan tempelan memo bertuliskan 'Kamu terlalu buruk dalam mengikat dasi!'. Juga setelan jas yang sudah di siapkan dengan memo 'Aku hanya menyiapkan untuk seminggu ini, selanjutnya harus merepotkan mu.'
Yelena seolah tak melepaskan Sean dengan meninggalkan jejaknya di sana. Sean semakin menggila di buatnya.
Dalam kegelapan kamarnya itu, dia duduk berselonjor di samping kasurnya. Dengan sebelah kakinya yang di tekuk, dia menyangga kepalanya di atas lututnya.
"Mati setelah memenuhi rumahku dengan tulisannya, apa dia sudah gila!?" gumamnya.
"Sudah selesai main petak umpet nya. Aku akan segera menemukan mu!"
__ADS_1