
10 Tahun yang lalu...
Hari itu adalah perayaan kelulusan Sean dari sekolah menengah atas, juga perayaan kelulusan Aiden dari sekolah menengah pertama.
Cuaca sangat mendukung acara liburan ketiga keluarga itu. Keluarga Li, Grey, dan keluarga Mulya.
Sean dan Allesa Grey adalah sepantaran. Ibu Allesa adalah teman lama Ibu Sean. Sejak mereka umur 10 tahun, mereka berdua menjadi bahan guyonan orang-orang dewasa yang mengatakan jika mereka serasi. Dan intinya, mereka berdua terikat perjodohan secara lisan.
Sedangkan Aiden dan Vivian, putri dari keluarga Mulya juga sepantaran. Ibu Vivian adalah kakak ipar Ibu Allesa. Jadi secra silsilah Vivian Mulya dan Allesa Grey adalah satu keluarga.
Sayangnya Vivian menjadi yatim piatu saat berusia 10 tahun, kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Sejak itu Vivian dirawat oleh Keluarga Grey.
Berbeda seperti Sean dan Allesa yang dibilang serasi, Aiden dan Vivian adalah kebalikannya. Mereka seperti musuh bebuyutan.
Rencana liburan kelulusan kali ini adalah ide dari Aiden. Dia ingin merayakan kelulusan dan libur panjangnya itu di pantai. Namun siapa sangka kedua keluarga itu juga diundang oleh orang tuanya.
Sepanjang perjalanan Aiden memanyunkan bibirnya, merasa tak senang ada Vivian yang duduk di sampingnya.
Di mobil itu Ayah Allesa yang menyopir, Rudianto Grey. Disampingnya duduk Sean. Di kursi tengah, ada Aiden, Vivian dan Lusia, Ibu Allesa. Tempat duduk belakang adalah tempat Allesa.
Sedangkan orang tua Sean, Gloria Li dan Yudhistira Li menyusul di belakang karena ada sedikit masalah di perusahaan.
"Jangan menyentuh tanganku!" tegur Aiden saat Vivian tidak sengaja menyenggol tangannya.
"Aku tidak menyentuh mu!" balas teriak Vivian.
Sedangkan seseorang yang berbaring dengan nyaman dibelakang sana menertawakan kedua anak-anak itu.
"Oh iya Sean, Om dengan kamu keterima masuk di Harvard?"
Sean mengangguk.
"Oh iya? wow... pasti ambil jurusan bisnis kan?" sahut Lusia.
"Iya tante," jawab Sean seperlunya.
"Allesa aja belum menentukan tujuannya...tuh, main HP mulu!" lanjutnya sembari berbalik dan mengulurkan tangannya kebelakang untuk menjewer telinga Allesa.
"Ihhh... Mama! aku tuh lagi liat video fashion show. Aku sudah menentukan tujuanku. Aku ingin jadi model, jika bisa aku ingin berada di bawah naungan perusahaan Li."
"Mana mau Om Yudhistira menerima anak nakal kayak kamu di perusahaannya.." sahut Rudianto.
"Papa..!" rengeknya yang membuat Aiden menutup kedua telinganya.
Kata membenci mungkin sedikit keterlaluan. Lebih tepatnya tidak suka. Aiden tidak suka dengan Allesa karena sifatnya yang kekanakan dan selalu seenaknya sendiri. Tidak hanya Aiden, Allesa pun juga begitu, karena menurutnya Aiden selalu menghancurkan kesempatannya bersama Sean.
Sekarang kita membahas Sean.
Sean adalah anak yang pendiam dan dingin, mewarisi sifat ayahnya. Namun rasa perhatian pada adiknya tidak pernah luntur. Aiden yang mewarisi sifat lembut dari ibunya itu membuat Sean berpikir jika dia harus melindungi adiknya yang mudah ditindas dengan sifatnya . Jika tersenyum bukanlah gayanya, maka Aiden adalah alasannya untuk tersenyum. Aiden juga paling penurut dengan Sean. Namun pernah suatu hari Aiden menginginkan kakak perempuan hanya karena Sean mengganggunya hingga menangis.
Tentang perjodohan yang selalu diucapkan oleh orang-orang dewasa sejak dia masih kecil, dia tidak pernah menghiraukannya. Awalnya dia tidak menyukai Allesa karena sifatnya. Namun Allesa yang selalu mengejarnya itu berhasil menciumnya pada sebuah kesempatan. Seperti es yang terkena panas matahari, hatinya pun luluh.
"Kamu akan menerima ku di sana kan Sean saat kamu menjadi penerus perusahaan?" rengek Allesa pada Sean.
"Hi nenek lampir! jangan memanfaatkan kakak ku!" sahut Aiden.
"Kamu anak kecil jangan ikut campur urusan orang dewasa!" ucap Allesa.
Lusia dibuat tertawa dengan pertikaian anak-anak itu. Begitupun juga dengan Rudianto. Akhirnya tawa mereka pun menular. Hanya Sean yang tidak terpengaruh.
__ADS_1
"Om awas!!!" teriak Sean.
Brakkk~
Truk bermuatan besi melintas dari arah seberang dengan kencang dan menghantam mobil mereka. Mobil mereka terpental dan berputar. Hingga menabrak truk pengangkut besi lainnya yang ada di depan sana.
Allesa yang duduk di kursi belakang pingsan dengan luka yang tidak terlalu parah. Sedangkan Lusia yang sigap saat tabrakan keras itu terjadi memeluk Aiden dan Vivian. Tubuh Lusia penuh dengan darah akibat pecahan kaca yang menembus beberapa bagian tubuhnya. Entah sejak kapan dia melepas sabuk pengamannya demi meraih tubuh kedua anak itu.
"Bibi..?" Vivian terisak.
Lusia tersenyum, "Bibi baik-baik saja nak, kamu tidak boleh menangis," ucapnya.
Namun rasa sakit itu tidak tidak memungkinkannya untuk tidak mengeluarkan air mata. Rasa takut untuk pergi dari dunia ini membuat tangisnya semakin pecah.
"Bibi juga jangan menangis..." ucap Vivian.
Kedua perempuan itu menangis. Sedangkan Aiden, Aiden merasa takut mendengar tangisan itu. Tangisan rasa sakit itu sungguh mengerikan. Dia tidak terluka parah, namun tubuhnya bergetar hebat karena rasa takutnya. Hal itulah yang menjadi kelemahannya hingga saat ini. Air mata seorang wanita.
"Aiden, nak, genggam tangan Vivian. Tolong jangan dilepas ya..Bibi akan istirahat sebentar sampai bantuan datang.."
Mereka tidak tahu jika itu adalah pesan terakhir Lusia.
"Paman... paman bangun!"
Suara teriakan Sean di kursi depan membuat Aiden semakin takut.
"Kakak, kakak tidak apa?"
"Paman mengeluarkan banyak darah dari kepalanya..apa yang harus aku lakukan?" ucap Sean panik.
"Tolong!!" teriaknya.
Namun jalanan yang sepi itu tidak memungkinkan mereka untuk segera tertolong.
Suara Rudianto dengan napas yang berat. Dia memegang tangan Sean dengan sisa kekuatannya.
"Tolong jaga Allesa~" ucapan terakhirnya sebelum napasnya pergi.
"Tidak! buka mata Om!" teriak Sean.
"Arrgghh! semua karena kamu Aiden! Jika kamu tidak kekanakan untuk meminta berlibur di pantai, hal ini tidak akan terjadi!" teriak Sean pada Aiden.
Setelah hari itu... hubungan kakak beradik itu tidak sebaik sebelumnya.
...****************...
7 Tahun kemudian setelah kejadian maut...
Sean telah menjadi Direktur di perusahaan Li. DC Entertainment. Allesa juga telah meraih mimpinya sebagai seorang model.
Sedangkan Aiden dan Vivian masih belum merampungkan kuliahnya.
Seperti biasa kedatangan Allesa selalu membawa keributan di perusahaan Li. Dan Sean akan selalu turun tangan sendiri menangani masalah itu.
"Kenapa kamu datang?" tanya Sean.
"Apa aku tidak boleh menemui calon tunangan ku sendiri?" jawab Allesa sambil bermanja di pelukan Sean.
"Sudahlah, aku sibuk!" ujar Sean dengan dingin.
__ADS_1
"Nada bicara mu memang tidak pernah berubah.." ucap Allesa yang kemudian mengecup bibir Sean.
Tok tok tok~
"Sial! selalu saja ada pengganggu!" gerutu Allesa.
Ternyata itu adalah Aiden bersama dengan Vivian.
"Wah...apakah ini reuni?" ucap Vivian.
"Dasar kalian bocah pengganggu!" pekik Allesa.
"Ternyata sifat nenek lampir ini tidak berubah.." Aiden menyeringai.
"Sudah, tolong jangan menghancurkan acara perpisahan ku ini~"
"Perpisahan? apa maksudmu?" tanya Allesa.
"Nenek menyuruh ku untuk pindah ke Negara M,"
"Oh..aku lupa jika kamu masih memiliki nenek," ucap Allesa yang menghancurkan suasana.
Vivian yang merasa tersinggung akan hal itu langsung membungkukkan badan dan keluar.
"Hei Vivian! tunggu aku!" teriak Aiden.
Dia menatap tajam Allesa sebelum meninggalkan ruang kerja kakaknya.
"Kamu lihat itu? dia memelototi ku," adunya kepada Sean.
"Kamu memang sedikit kelewatan!"
"Apa kamu mencintai ku?" tanya Allesa.
"Tentu saja, aku sangat mencintaimu sejak kamu mencium ku pertama kali saat dulu.."
Allesa mendekat dan duduk dipangkuan Sean. Dia bergelayut di pangkuannya.
"Hari pertunangan kita tinggal satu minggu lagi. Apa kita langsung menikah saja?"
Ring..ring~
"Argghh..ini benar-benar hari yang menyebalkan!" gurunya saat ponselnya berbunyi.
Dia turun dari pangkuan Sean saat melihat layar ponselnya. Dia mengangkat telponnya sedikit menjauh dari Sean.
"Aku ada pemotretan di Negara S..sampai jumpa di hari pertunangan kita,"
Ucapannya pada Sean setelah mematikan telepon. Tidak lupa dia mengecup bibir Sean sebelum pergi.
...****************...
Hari pertunangan...
"Apa Allesa sudah datang?"
Tanya Sean pada Aiden dengan panik. Dia mencoba menghubungi Allesa, namun nomornya tidak aktif.
Pada hari yang cerah itu hujan turun dengan tiba-tiba. Membuat tamu undangan yang tiba hati itu pergi. Acara yang diadakan secara outdoor itu pun hancur.
__ADS_1
Setelah hari itu Sean selalu menanti kedatangannya. Hinga berbulan-bulan berlalu. Sean yang frustasi itu menjadi seperti orang gila. Aiden yang mencoba menenangkannya pun menjadi pelampiasan kemarahan.
Hingga saat ini Allesa belum juga kembali. Dalam hati kecil Sean pun masih tersimpan sebuah harapan untuk kembalinya Allesa. Tidak tahu apa yang akan terjadi jika tiba-tiba sosok Allesa yang sebenarnya datang.