Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Double Kiss


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Sean sudah pergi. Tak tau juga mengapa hari ini Yelena bangun lebih siang. Mungkin dia sudah lelah dan malas untuk melayani pria itu.


Dia menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu. Matanya mulai menyusuri setiap sudut ruangan yang ada di dalam rumah itu.


Bagaimana pun juga rumah itu telah memberikan kenyamanan dan rasa aman untuknya. Namun entah sampai kapan dia harus mendekam di sana. Dan entah kapan juga Sean akan mengakhiri permainannya.


Yelena jadi ingin sedikit merubah pemikirannya. Bagaimana jika dia membuat Sean tidak dapat berpaling darinya, lalu ditinggalnya pergi? Yelena memikirkan hal itu saat ini.


"Makan siang.."


"Apa aku kirim makan siang ke kantornya saja?" gumamnya.


Yelena mulai beranjak untuk membuat masakan. Entah apa jadinya nanti, Yelena harus mencobanya dulu. Akan bagus jika Sean memberikan respon baik.


...****************...


Saat mobil hendak masuk ke gerbang perusahaan, Yelena menoleh menatap halte yang ada di sebelah sana. Tempat itu adalah tempat pemberhentian terakhirnya saat itu. Sebelum dia kehilangan semuanya.


Yelena tersenyum pahit saat mobil sampai di depan perusahaan. Perusahaan itu adalah tempat dia akan bekerja dulu. Bekerja sebagai sekretaris Sean. Namun siapa sangka dia malah berakhir menjadi tunangan palsu Sean.


"Apa perlu saya tunggu, Non?" tanya Pak Daus.


"Tidak perlu Pak, terima kasih.." jawab Yelena.


Yelena turun dari mobil, kemudian menengadahkan kepalanya menatap gedung tinggi itu. Sedangkan seseorang yang ada di sebelah sana, menatap Yelena dari dalam mobilnya.


"Apa yang sedang dia lakukan di sini!?" gumam Yohan.


Tadi Yohan sengaja datang ke perusahaan itu untuk menemui Sean. Namun ternyata dia malah melihat sesuatu yang tak terduga. Dan sekarang Yelena akan masuk ke dalam sana. Yohan tidak bisa membiarkan Yelena terluka.


"Tidak, dia tidak boleh melihatnya.."


Pertama Yohan harus memarkir mobilnya di basemen. Dengan perasaan panik dia melajukan mobilnya, kemudian bergegas masuk ke dalam lift setelah mobilnya di parkir.


......................


"Permisi, apa Bapak Sean sedang tidak ada di kantor?" tanyanya pada seorang perempuan yang keluar dari ruangan sebelah ruangan Sean.


"Pak Sean ke atap~"

__ADS_1


"Baik, terima kasih.."


Perempuan itu menutup mulutnya dan membuat ekspresi seakan dia telah membuat kesalahan.


"Emm, maaf Nona.." panggilnya yang membuat Yelena menghentikan langkahnya.


Yelena menoleh dengan senyum ramahnya. Perempuan itu merasa tidak tega setelah melihat senyum Yelena. Namun dia sudah terlanjur mengatakannya.


"Mari.." pamit Yelena.


Perempuan itu terlihat gelisah.


"Semoga tidak terjadi apa-apa.." gumamnya.


Sedangkan Yohan baru saja sampai di lantai itu. Sayang sekali mereka tidak bertemu. Saat pintu lift Yohan terbuka, kebetulan bersamaan dengan Yelena yang baru saja masuk di lift sebelahnya.


Yohan menatap sekeliling lantai itu berharap dia tidak terlambat untuk mencegah Yelena.


Tidak menyangka, beberapa tahun yang lalu dia bersumpah tidak akan menginjakkan kakinya di perusahaan ini lagi. Namun saat ini dia berdiri di lantai perusahaan itu. Terlebih lagi di lantai yang paling dia benci. Di tempat ini dulu dia di diadili dan tidak mendapat apa-apa selain reputasi buruk.


"Permisi, apa tadi ada seorang wanita yang mencari Pak CEO?" tanya Yohan kebetulan pada perempuan yang berbicara dengan Yelena tadi.


"Terima kasih.."


"Sama- sam~ tunggu. Yohan Audika?" ucapnya setelah Yohan berlari pergi.


Yohan segera berlari, mungkin dia sudah ketinggalan jauh. Atau mungkin juga Yelena sudah melihat semuanya.


"Sialan kau, Sean!" gerutunya.


...****************...


"Mengapa kamu tidak bisa kembali bersama ku?"


"Jawab Sean! kenapa?"


"Apa karena wanita itu?"


"Apa kau benar-benar jatuh cinta padanya?"

__ADS_1


"Jawab aku!"


Jawaban yang sudah pasti berada di dalam kepalanya itu sulit sekali untuk dia ucapkan. Seolah ada yang menahannya untuk keluar.


"Aku.." Sean menggantung ucapannya.


"Ti- tidak! aku tidak mencintai nya! dan tidak akan pernah!"


"Dia hanyalah pengganti mu. Aku menahannya di samping ku karena dia mirip denganmu."


"Aku sudah mengatakannya padamu kan? dia kehilangan ingatannya karena aku tidak sengaja menabraknya."


"Lalu kapan kamu akan mengakhiri semuanya?" tanya Allesa.


Sean menatap gedung-gedung yang terlihat kecil dari atas sana. Dia tidak dapat menjawab pertanyaan kali ini.


Dari pintu yang sedikit terbuka itu, Yelena dapat mendengar semuanya. Apa yang baru saja Sean katakan. Dia menutup mulutnya, menahan tangisnya.


Dia pikir dia sudah siap jika sewaktu-waktu Sean mengatakannya. Namun ternyata tidak. Sakit. Entah apa yang selanjutnya mereka berdua bicarakan. Yelena sudah tidak dapat mendengar apapun. Kepalanya berdengung.


Namun dia masih dapat melihat. Melihat Allesa yang mendekatkan tubuhnya pada Sean. Dia menciumnya. Tangis Yelena semakin pecah saat Sean merengkuh tubuh Allesa dan membalas ciumannya.


Hari itu dia berencana mengejutkan Sean, namun malah dia sendiri yang terkejut. Dunia benar-benar tidak adil padanya.


Yohan, dia sudah terlambat. Sangat-sangat terlambat. Dia baru saja sampai dan juga telah melihat semuanya. Dengan mata berkaca-kaca nya dia menghampiri Yelena yang ada di depan sana. Dia meraih lengan Yelena.


"Yohan? kenapa kamu.."


"Maafkan aku, Yelena," ucapnya yang kemudian meraih tengkuk Yelena dan menciumnya.


Yelena memejamkan matanya, dengan air matanya yang terus mengalir dia mencengkeram baju Yohan. Dia tidak menolak.


'Hanya sekali ini saja..' batin Yohan.


Dia merengkuh tubuh Yelena, memeluknya erat dengan ciumannya yang masih berlanjut.


Yohan melepas ciumannya dan mendekap Yelena dalam pelukannya.


"Aku akan pergi denganmu..bawa aku pergi dari sini, Yohan.." pinta Yelena.

__ADS_1


"Tidak, lebih tepatnya dari orang-orang ini. Bawa aku pergi jauh.."


__ADS_2