
"Tangan kamu.." ucap Yelena gemetar melihat bercak darah di tangan Sean saat melepas pelukannya.
"Itu bukan milikku," jawab Sean seraya sibuk untuk membopong Yelena.
Kedua alisnya hampir menyatu, tatapannya tajam lurus ke depan, rahangnya pun masih terlihat kaku. Sean masih dalam perasaan kacau.
"Kamu bisa membunuh nyamuk dengan menjepitnya diantara kedua alis mu.." ujar Yelena yang sedang digendong seperti seorang putri itu sembari membelai alis Sean.
Sean menatap Yelena masih dengan tatapan menyeramkan nya. Tanpa rasa takut Yelena tersenyum pada Sean.
Sean sudah pernah marah besar padanya, jadi jika hal itu terulang lagi bukanlah masalah untuknya. Sesungguhnya dia sudah terbiasa di acuhkan.
"Terima kasih, Sean~ kamu tidak tau betapa lega rasanya hatiku saat mendengar suaramu tadi.." ujar Yelena.
"Diam, beban mu bertambah berat saat kamu bicara!" ujar dingin Sean.
Bugh!
Yelena tertawa kecil sembari mendaratkan pukulan kecilnya di dada Sean.
"Apa kamu sedang bercanda?" ujarnya.
__ADS_1
Sean meliriknya. Rahangnya sudah tidak sekaku tadi, alisnya juga mulai kembali rata. Dia tersenyum tipis, kemudian kembali fokus pada langkahnya.
Jika boleh jujur, Yelena ingin mengatakan hal ini pada Sean. 'Aku harap kamu bisa mempertahankan senyuman itu untukku'.
'Tapi, bukankah aku terlalu serakah akhir-akhir ini? seharusnya aku bersyukur. Tapi aku malah berharap lebih..' batin Yelena.
Dia menatap langit berbintang di atas sana dan mulai terkurung dalam lamunannya. Lalu secara tiba-tiba tubuhnya terasa melayang.
"Ahh~" teriaknya. Dia berpegang erat pada pundak Sean.
Dari posisi di gendongan seperti putri, Sean merubah posisi tubuh Yelena. Kini dia menggendongnya seperti anak kecil di dadanya. Sontak Yelena mengalungkan kedua kakinya di pinggang Sean, juga tangannya dengan erat memeluk tubuhnya.
"Apa aku se ringan itu sehingga kamu selalu membalik balik tubuhku seenaknya!?" pekik Yelena.
Yelena mendarat dengan aman di kursi mobil, namun Sean tidak segera masuk kedalam mobil. Yelena mencari-cari sosok Sean dari balik kaca mobil.
Tidak ada. Yelena sangat khawatir. Bagaimana jika pria tadi memanggil komplotan nya dan kembali menyerang? Dia hendak membuka pintu mobil.
"Mau kemana kamu?"
"Sean?"
__ADS_1
"Syukurlah.." Yelena menghela napas lega.
"Hmm~" gumam Sean sembari menyodorkan sebotol minuman manis pada Yelena.
"Jadi kamu habis membeli ini?" tanya Yelena.
"Lalu?"
"Aku kira pria itu kembali dengan komplotan nya dan menyerang mu~" gumam Yelena tak jelas.
"Apa aku se lemah itu di matamu?" ujar Sean mengacak-acak rambut Yelena.
Sean menyalakan mobilnya setelah Yelena meneguk minumannya. Yelena terlihat sibuk dengan benda dalam tas nya. Sean belum juga melajukan mobilnya karena Yelena yang tampak sibuk sendiri itu terlihat belum siap dan belum memasang sabuk pengaman nya.
Sean mendekat hendak memasangkan sabuk pengaman Yelena, namun Yelena menangkap tangannya. Sean sempat kaget karena mengira Yelena menolak niatnya. Namun ternyata tidak. Dia membasuh tangan Sean dengan tisu basah.
"Ini bukan apa-apa.." ujar Sean mencoba menarik tangannya. Namun dengan kuat Yelena menahannya.
"Kamu harus membersihkan nya. Aku tidak ingin sifat jahat pria itu menular pada mu melalui darahnya!" Yelena menatap Sean dengan tegas.
Pria jahat? Jadi menurut mu yang ada dihadapan mu saat ini adalah pria baik? Sean memalingkan wajahnya.
__ADS_1
'Mungkin aku juga salah satu di antara mereka..' batin Sean.