Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Pergi Selama Sebulan


__ADS_3

"Aku akan pergi ke luar negeri.."


"Selama sebulan."


Yelena yang duduk di kasur dengan menundukkan kepala itu sontak mendongak setelah mendengar suara yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.


Sebuah koper kecil yang berdiri di samping Sean diliriknya. Dia menatap lama koper itu. Benda itu mengingatkan dia tentang mimpinya semalam.


"Yelena?" panggil Sean menyadarkan dia dari lamunannya.


"Iya.." sahut Yelena


"Apa tahun baru nanti kamu sudah kembali?" tanyanya kemudian.


"Sebelum tahun baru aku pasti sudah kembali," jawabnya.


"Baiklah, hati-hati di jalan.." ucap singkat Yelena.


Sean menatap Yelena dengan tatapan tidak puas. Dia menggenggam erat handle koper di tangannya. Wanita itu mengabaikannya. Wanita penurut itu kini berani memalingkan wajahnya sebelum dia pergi dari hadapannya.


Sean meninggalkan kopernya di depan pintu dan kini berjalan masuk ke kamar Yelena. Dia berhenti di hadapan Yelena. Namun wanita itu tetap tidak menghiraukannya, secara terang-terangan dia tidak menatap Sean.

__ADS_1


"Yelena~" panggilnya.


"Yelena?"


"Ah? kamu belum berangkat?" sahut Yelena setelah beberapa saat.


Sean mengusap rambutnya dengan gusar sembari menatap langit-langit kamar Yelena. Kemudian menghela napasnya dengan kasar dan menatap Yelena.


Yelena tak bereaksi sedikit pun. Jika biasanya dia sudah menunjukkan air muka sedihnya, kini hanya ekspresi wajah datar yang dia tunjukkan.


Dia berubah, dia membangkang. Sean tidak suka dengan perubahannya.


"Apa kamu marah padaku?" tanya Sean dengan nada rendah.


"Apa kamu merasa telah membuat kesalahan?" ucapnya cukup untuk menampar wajah Sean. Biarkan dia meraba dirinya sendiri.


Sean terdiam. Dia menatap kedua bola mata Yelena yang menatapnya dengan tatapan kosong. Seharusnya itu menjadi hal yang baik untuk Sean. Dia tidak perlu melepasnya, biar Yelena sendiri yang melepaskan dirinya sendiri. Namun setelah melihat Yelena yang berubah seperti ini membuat hati Sean terasa tak nyaman.


Dia bangkit dari jongkoknya, lalu pergi menyeret kopernya tanpa mengatakan apapun lagi. Yelena menatap kosong punggung Sean yang semakin menjauh dan menghilang dari balik pintu itu. Dia memejamkan matanya dan menghela napas beratnya.


tok tok~

__ADS_1


Seseorang mengetuk kaca mobil Sean saat dia hendak melajukan mobilnya. Sean menurunkan kaca mobilnya. Xenon membungkuk untuk memberi hormat.


"Apa saya perlu mengawasi Nona selama anda pergi?" tanya Xenon.


Sean terlihat sedang berpikir keras.


"Tidak, biarkan saja.."


"Ya, lagipula apa yang bisa dia lakukan.." gumamnya kemudian.


'Benar, pasti tidak akan terjadi apa-apa. Ya, semuanya akan baik-baik saja, karena Allesa akan ikut denganku. Tidak akan ada yang mengganggu Yelena,' batin Sean.


"Baik, Tuan. Semoga selamat sampai tujuan anda," ujar Xenon.


"Tapi untuk berjaga-jaga, awasi dia jika ada hal yang mencurigakan. Laporkan padaku saat aku kembali nanti, aku tidak ingin diganggu.." ujar Sean kemudian.


Xenon membungkukkan tubuhnya memberi hormat sampai mobil Sean melaju pergi. Dia kembali menegakkan tubuhnya dan menatap ke atas balkon tempat Yelena berdiri sejak tadi. Mata mereka bertemu.


"Tidak tau mengapa Tuan masih menahan wanita itu di sampingnya, padahal Nona Allesa telah kembali," gumam Xenon.


Xenon sedikit membungkukkan tubuh dan menundukkan kepalanya untuk memberi salam pada Yelena yang menatapnya di atas sana. Kemudian berlalu.

__ADS_1


__ADS_2