
tok tok tok~
Yohan memasuki ruangan bertuliskan CEO's Room itu. Kedatangannya disambut hangat oleh pria pemilik ruangan itu.
"Oh Boy, apa kabarmu?" pria itu memeluk Yohan.
"Wah, ternyata bintang kita sudah tubuh sebesar ini. Kamu semakin tampan."
"Terima kasih, Pak," Yohan tersenyum canggung.
"No, i've told you this for so many times. Don't call me sir. Just call me by my name, or call me brother!" ujar pria itu sembari menepuk pundak Yohan.
"So, apa yang membawamu jauh-jauh datang ke sini?" tanyanya kemudian sembari mempersilahkan Yohan untuk duduk.
"Saya ingin meninta izin cuti untuk beberapa hari ke depan," ucap Yohan dengan yakin.
Namun yang dia dapatkan hanyalah suara tawa. Ya, Bos nya itu menertawainya. Yohan dibuat heran dengannya. Pikiran seperti tidak boleh mengambil cuti sempat terlintas di kepalanya, sebelum Bos nya angkat bicara.
"Kamu datang sejauh ini hanya untuk meminta izin?"
Ya, karena itu adalah perusahaan luar negeri. Semalam dia telah memesan tiket penerbangan paling pagi untuk hari ini. Dan subuh tadi Yohan melakukan penerbangannya.
"Jika diingat lagi, ini adalah pertama kalinya kamu meminta izin untuk cuti,"
"Kamu jarang menemui ku, and now kamu menemui ku hanya untuk meminta izin? what the hell!? mengapa tidak telepon saja? hah? dasar bocah ini!" celoteh Bos nya itu yang membuat Yohan menahan tawanya.
"Hayd~ oh maaf.. Kak Hayden."
"Wah andai sifat adikku semanis dirimu.."
CEO dari Perusahaan Entertainment terbesar di negara itu, Hayden Xu. Pemimpin dari SG Entertainment itu baru saja menginjak kepala 3, dia adalah pria yang tegas, berwibawa, disiplin, ramah, dan juga kejam di waktu bersamaan.
Memiliki aktris dan aktor bertalenta yang terlatih. Produksi film yang di hasilkan setiap tahunnya selalu meraih rating tertinggi di kaca internasional. Para penyanyinya pun tak kalah dengan itu. Konser yang digelar selalu menjadi trending dunia.
Di balik kehebatannya itu, dia hanyalah pria kekanakan di mata Yohan. Entah, sifat yang sudah disebutkan tadi seakan menghilang saat berhadapan dengan Yohan. Yohan sempat berpikir jika Hayden adalah seorang gay dan sedang menyukainya. Karena itu sifatnya berbeda saat bersamanya. Namun pikiran konyol itu menghilang seiring berjalannya waktu saat Yohan mengetahui cerita tentang adiknya yang selalu menentangnya dan tak jarang untuk menghormatinya.
"Anda pernah bilang untuk membantuku saat aku membutuhkan kekuatan anda bukan?" pertanyaan Yohan membuat Hayden mengerutkan keningnya.
"Apakah kamu sedang dalam bahaya?"
"Tidak..tidak!" Yohan menyangkalnya secepat mungkin.
__ADS_1
"So what?" Hayden mengangkat sebelah alisnya.
"Tidak, saya hanya bertanya. Jika saat itu tiba, apakah anda akan membantu saya?"
"Sure! kamu sudah ku anggap seperti adikku sendiri!" jawab Hayden dengan yakin.
Yohan menundukkan kepalanya dan memainkan jarinya. Dia ingin menanyakan hal lain yang sedang berputar di kepalanya. Namun dia tak yakin.
"Ada yang ingin kau katakan?" tanya Hayden seperti membaca isi pikiran Yohan.
Yohan mengangkat kepalanya dan menatap pria dihadapannya itu dengan canggung. Kemudian memalingkan tatapannya.
"Kenapa anda sangat baik kepada saya? dan mengapa menganggap saya yang orang asing ini seperti adik sendiri?" tanyanya yang kembali menatap Hayden.
Hayden menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan pasrah.
"Aku membaca resume mu, dan sempat mengirim orang ke panti asuhan tempatmu tinggal. Ya, aku merasa sedikit iba saat mendengar hal yang telah menimpamu,"
"Kamu sama seperti ku, bedanya aku masih memiliki kakek," lanjutnya.
Yohan tak percaya mendengar hal itu. Dia sempat di selidiki? Yohan menyandarkan tubuhnya pada bahu sofa dan menghela napas beratnya.
"Hei!" seru Hayden.
"Aishh, anak ini membuatku gila! Aku membuat mu bekerja disini bukan karena kasihan! tapi aku melihat upaya mu yang besar meskipun sedang dalam keterpurukan dari rumor besar itu. Sisanya hanyalah reward!"
"Anda tau? saya sempat mengira anda adalah seorang gay karena terlalu baik kepada saya," ujar Yohan dengan selingan tawanya.
"Hey, watch your mouth!"
Yohan semakin tidak bisa menahan tawanya. Hayden menghela napas kesal melihat dirinya ditertawakan. Dia mengalihkan pandangannya ke luar bangunan kaca itu.
"Namun saya tetap harus berterima kasih.."
Hayden hanya meliriknya dan tidak menoleh.
"Berkat anda, saya merasakan sedikit kasih sayang sep~"
"Hei, stop! siapa yang bilang aku menyayangimu! kau sidah gila?" Hayden memotong pembicaraan Yohan yang belum selesai.
Suara tawa Yohan kembali terdengar. Hal itu membuat Hayden semakin kesal. Dia melempar majalah dihadapannya ke arah Yohan dan tepat sasaran mengenai kepalanya. Membuat tawa Yohan berhenti dalam seketika. Kini berganti suara tawa Hayden yang terdengar.
__ADS_1
"Bos, jangan sampai anda kehilangan muka hanya karena suara tawa anda terdengar hingga keluar sana!"
"Sialan! sudahlah pergi sana jika kamu tidak ada hal lain untuk dibicarakan. Aku memberimu waktu cuti 4 hari." ujar Hayden sembari beranjak dan kembali ke meja kerjanya.
Yohan ikut beranjak dan membungkuk memberi hormat kepada Hayden yang telah kembali ke mejanya. Saat menegakkan tubuhnya, sebuah benda yang terlihat tak asing itu terlintas di pandangannya. Dia menatapnya dengan detail.
"Apa yang sedang kau lihat? cepat pergi sana!"
"Kak?"
"Apa?" sahut Hayden yang mulai fokus pada laptop di hadapannya.
"Apa kalung itu milik anda?" tanya Yohan yang sontak membuat Hayden menghentikan kegiatannya dan menatap ke tempat kalung itu berada, tergantung di vas bunga.
"Ya, itu adalah simbol keluarga kami. Mendiang Ibu kami yang memberikannya," ujarnya sembari melanjutkan kembali kegiatannya.
"Apa mungkin jika orang lain memilikinya?"
Kali ini Hayden benar-benar tidak bisa fokus. Dia menghela napas panjang dan menutup layar laptopnya.
"Apa kamu pernah melihatnya di suatu tempat?" tanya Hayden antusias.
Yohan menatap Hayden yang nada bicaranya mulai berubah itu. Dia merasa aneh. Tatapan Hayden juga berubah, seperti orang yang mendengar kabar tentang sesuatu miliknya yang hilang telah ditemukan. Merasa tak enak karena mungkin menyinggung nya, Yohan menggeleng pelan.
"Tidak, saya mungkin salah melihatnya. Sekilas itu hanya terlihat mirip saja," Yohan mencoba membuat alasan yang akan membuat Hayden percaya.
"Tidak!" ujar Hayden.
Yohan yang hampir berbalik untuk pergi itu menghentikan langkahnya.
"Kamu harus memastikannya baik-baik apakah benda itu benar-benar mirip atau hanya kebutuhan mirip!" ucap Hayden yang kini mulai serius dengan nada tegasnya.
"Bolehkah saya melihatnya lebih dekat?"
Tanya iseng Yohan yang ternyata mendapat izin darinya untuk melihat kalung itu lebih dekat. Yohan melihat baik-baik liontin matahari itu. Dia menyentuhnya, lalu dengan sengaja membaliknya. Sebuah ukiran. Yohan membelalakkan matanya kaget.
"Ada apa?" tanya Hayden.
"Tidak apa. Saya akan memastikannya jika saya melihatnya lagi. Saya pamit undur diri, permisi."
BERSAMBUNG...
__ADS_1