Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Bersujud Di Makam Yelena


__ADS_3

Saat membuka mata, Sean telah berbaring di ranjang rumah sakit dengan kepala yang dibalut perban.


Aiden yang duduk di sebelah sana menatapnya dengan enggan. Begitupun juga dengan Vivian. Setelah mendengar cerita dari Gloria, Vivian mengajak Aiden pergi ke tempat Allesa. Namun saat sampai sana mereka menemukan Sean yang telah tergeletak dengan luka di kepalanya.


"Sebagai seorang wanita, aku mengakui jika Yelena itu orang yang baik. Sedangkan kau yang seorang pria malah.."


Vivian menghentikan ucapannya karena Aiden menggenggam tangannya, isyarat untuk dia agar tidak melanjutkan ucapannya.


"Dia sangat marah saat mengetahui segalanya. Dia berteriak di depan wajahku dan Vivian. Dia memaki kami. Aku tidak menyalahkan nya karena semua yang dia ucapkan memang benar."


"Dan saat kakak kembali, bisa saja dia melakukan hal yang sama. Tapi ternyata tidak. Dia bersikap seperti biasanya kan? Dia ingin kakak sendiri yang menghentikan permainannya. Tidak. Lebih tepatnya dia mengulur waktu agar menetap sedikit lebih lama. Karena dia benar-benar tenggelam. Dia menyukai mu.."


"Kau terlalu memanjakan Allesa sehingga dia berbuat sejauh itu!"


Matanya mulai memerah karena menahan emosi. Dia mencabut infusnya dengan paksa hingga darah segar menetes dengan deras menuruni tangannya.


"Apa kau gila!?" bentak Aiden yang langsung menahan tubuh terhuyung Sean saat hendak turun dari ranjang rumah sakit.


Sean mendorong Aiden menjauh. Vivian juga tak tinggal diam. Dia memblokir pintunya.


"Aku tidak ingin berbuat kasar.."

__ADS_1


Dia memberi perintah pada Vivian. Namun Vivian masih tak bergeming dari tempatnya.


"Minggir!" bentak Sean seraya menghempas tubuh Vivian untuk menyingkir.


"Sean berhenti!" teriak Aiden.


Dia menolong Vivian untuk bangkit, lalu berlari untuk mengejar kakaknya. Namun terlambat, Sean telah masuk ke dalam taxi.


"Sial!" decak Aiden saat dia tidak menemukan kunci mobilnya di saku. Dia berlari masuk untuk mengambil kuncinya di ruang inap Sean.


...****************...


Tangannya terus mengeluarkan darah. Ujung bajunya telah basah akan darah karena dia gunakan untuk mengelap tangannya.


"Pak, bayar dulu!" teriak supir taxi itu pada Sean yang baru saja turun dan hendak berlari pergi.


"Ambil saja kembaliannya.." ujar Sean seraya melempar jam tangannya.


"Ini.." ucap Pak supir bingung setelah melihat merk jam itu. Namun Sean sudah pergi menjauh.


Dia berlari menuju makam Yelena dengan kaki telanjang tanpa alas kakinya. Berulang kali dia tersungkur ke tanah. Namun dia tidak menyerah, dia bangkit dan terus berlari.

__ADS_1


Di depan sana. Makam yang masih belum kering itu. Dia berdiri di depannya.


...Rest In Peace ...


...Yelena Xu...


...9.07.1997 - 31.12.22...


Sebuah tulisan yang terukir di nisan hitam keramik itu.


Bersamaan dengan air yang keluar dari sudut matanya, hujan deras mengguyur. Dia masih diam di tempatnya berdiri.


Kemudian dengan perlahan dia melangkahkan kakinya mendekat. Dia berlutut, kemudian bersujud untuk memeluk nisan itu.


"Yelena!" teriaknya di tengah derasnya hujan.


Seperti sebuah karma. Ingatan saat dia menghempas tubuh Yelena di tengah hujan muncul di kepalanya. Kini dia berada di posisi itu. Bahkan lebih menyedihkan.


"Maafkan aku, Yelena.. maafkan aku!" teriaknya.


Baju rumah sakit yang ia kenakan telah berganti warna. Dia terlihat sangat kacau, sangat kotor. Namun dia tidak peduli, dia tetap memeluk nisan itu dan menggenggam tanah yang telah mejadi lempung karena air hujan.

__ADS_1


Terlambat. Berbuat seperti itu tidak akan merubah apapun. Dia harus menanggung penyesalan seumur hidupnya.


__ADS_2