
Tak terasa seminggu telah berlalu. Namun dia masih belum mendapatkan kembali nafsu makannya. Bahkan untuk bekerja pun dia sangat malas. Selama berhari-hari dia hanya duduk di tempat kerjanya tanpa melakukan apapun.
Selama berhari-hari itu juga Allesa terus menghampirinya dengan membawa makanan. Namun makanan itu juga selalu berakhir di tangan orang lain. Sean memberikannya kepada sekretaris nya, kadang juga pada pegawai yang kebetulan masuk untuk menaruh berkas.
Bicara soal berkas, meja tamunya itu telah penuh dengan map berisi kertas yang harus di tandatangani. Dia sangat betah menatap pegunungan map itu. Bagaimana tidak? bukannya makin berkurang, berkas-berkas itu malah semakin meninggi.
tok tok~
Sudah waktunya, mungkin itu adalah Allesa yang hendak mengantar makanan.
Ternyata benar. Seperti biasa dengan sikap genitnya dia menghampiri Sean. Meletakkan makanannya di meja dan mulai berjalan kebelakang Sean untuk memijatnya.
"Kamu harus menjaga kesehatan mu.." ujar Allesa.
Jika itu dulu, dia pasti sudah menarik Allesa ke pangkuannya. Namun sekarang semuanya telah berubah. Dia bahkan merasa risih dengan kontak fisik yang dilakukannya. Dia merasa tak nyaman.
"Cepat keluar, aku sangat sibuk!" ucapnya dengan datar.
Allesa merasa tak senang dengan ucapan Sean. Dia menggigit bibir bawahnya untuk menahan emosi.
"Sibuk dengan tumpukan berkas yang semakin tinggi itu, atau sibuk memikirkan wanita yang telah mati itu!?" ucapnya ketus. Allesa bukan tipe orang yang mudah menahan emosinya.
"Dia tidak ada urusannya denganmu!" tekan Sean.
"Hah~ apa kau lupa alasan apa yang membuatmu menahannya di samping mu?"
Ujar Allesa sembari berjalan ke depan meja Sean dan meletakkan kedua tangannya di atas sana dengan mencondongkan tubuhnya ke depan Sean.
__ADS_1
Sean menatap wanita itu dengan tajam, kemudian memalingkan wajahnya.
"Jika boleh jujur aku sangat menyesal.."
"Kau tidak perlu menyesal karena aku sudah kembali, aku sudah di sini.."
"Aku bukan menyesal karena mu!"
Sean bangkit dan berjalan ke belakang tempat duduknya. Dia berdiri menatap pemandangan luar dari gedung kacanya itu.
"Jadi benar? kau benar-benar jatuh cinta pada wanita itu? lalu bagaimana denganku!?" teriak Allesa.
"Kau sendiri yang telah menghancurkan segalanya!!" balas teriak Sean.
Di saat seperti itu hanya ada satu cara yang bisa membuat Sean takluk.
Sean membalikkan badan lalu bergegas untuk menghampiri Allesa dan menopang tubuhnya. Di belakang mata Sean, Allesa tersenyum puas.
"Apa ada yang sakit?" tanya Sean dengan khawatir.
Dia tidak menjawab, hanya merintih dan mengusap perutnya.
"Aku akan mengantarmu ke rumah sakit.." ujar Sean yang langsung membopong tubuh Allesa.
Dengan senang hati Allesa mengalungkan tangannya di leher Sean, juga menyandarkan kepala di dadanya.
Sean menghentikan langkahnya dan menatap Allesa dengan kening berkerut. Dia ingin menegurnya, namun dia pikir saat ini yang terpenting adalah kesehatannya. Dia akan membiarkannya kali ini.
__ADS_1
"Antar aku pulang saja, aku mau istirahat.." ujar Allesa.
Sean menghela napas pasrah, kemudian mulai melajukan kembali langkahnya. Saat membuka pintu, seseorang sedang berdiri di balik sana dengan tangan yang dilipat di dada.
"Masih seminggu, Kakak bahkan tidak datang ke pemakamannya. Benar-benar tak punya hati!" ujar Aiden kemudian melirik Allesa dengan tatapan memusuhi.
"Dan dengan membopongnya seperti itu Kakak mau membawanya pergi bersenang-senang kemana!?" sindirnya kemudian.
"Pergi jika kau tidak mempunyai kepentingan! Dia sedang sakit, jangan membuatnya merasa tertekan!" ujar Sean sembari berjalan melewati Aiden.
"Kenapa kamu masih peduli dengannya? 4 tahun dia meninggalkan mu. Dan siapa yang menyembuhkan mu? wanita yang telah mati itu!"
"Kau yang membawanya ke samping mu, lalu saat dia mati kau membiarkannya pergi sendiri!"
"Rasakan baik-baik, Kak. Rasakan dengan benar perasaan mu! bagaimana perasaan mu yang sebenarnya padanya.."
"Dan wanita yang ada di pelukan mu itu.. Kakak masih peduli padanya bukan karena Kakak mempunyai perasaan yang spesial padanya. Itu hanya empati, karena Om Rudi memberi wasiat untuk menjaganya."
Sean membeku di tempatnya. Allesa mengerutkan kening dan menatapnya. Rasa cemas mulai muncul. Dia takut jika Sean akan mendengarkan ucapan Aiden.
Kembali dia mengambil inisiatif untuk membuat Sean berpihak padanya. Air mata palsu mulai menetes.
"Jangan membawa nama mendiang Ayahku dalam hal ini!" ucap Allesa dengan suara parau.
Sean berbalik dan menatap Aiden dengan tajam.
"Aku akan berurusan denganmu nanti!" ujar Sean kemudian melesat pergi.
__ADS_1