
"Terima kasih, Aiden.."
Tanpa mengundangnya untuk masuk atau menunggunya hingga pergi, Yelena berbalik begitu saja dan masuk ke dalam rumah.
Aiden melihatnya dengan khawatir. Kakaknya benar-benar keterlaluan.
Gelap. Dia di sambut oleh kegelapan saat memasuki rumah. Hal yang paling di benci dalam hidupnya. Dia mengepalkan tangan dan memejamkan matanya sejenak. Dia pasti bisa melawan rasa takutnya.
Dia meraba-raba tembok di belakangnya. Lampu berhasil dia nyalakan. Dia menghela napas lega. Dia berjalan ke kamarnya dan menghempaskan tubuh lelahnya di atas ranjang.
Lampu kamarnya sengaja tak dinyalakan. Hanya lampu di meja samping tempat tidur yang memancarkan cahaya kuning lembut.
Menakutkan, namun lebih menakutkan saat ucapan buruk yang dia terima berdengung di kepalanya. Dia bangkit dan membuka pintu balkon.
Angin dingin meniup.
Sudah lewat jam sebelas malam. Lampu mobil Sean bum terlihat di bawah sana. Yelena menggenggam erat ponselnya. Apa boleh jika dia menghubungi Sean? Dia ragu. Namun akhirnya dia mencoba untuk menghubungi nya.
Tidak ada jawaban. Sekali dan dua kali lagi. Tetap tidak tersambung. Yelena menyerah. Dia kembali ke kamarnya dan menghempas kembali tubuhnya di ranjang. Dia membiarkan tubuhnya telentang dengan kaki menggantung ke bawah. Dia memejamkan matanya, dia benar-benar lelah.
Klak~
__ADS_1
Yelena yang baru saja terlelap itu mengerutkan keningnya. Cahaya terang menyerang matanya yang masih buram.
Entah sejak kapan selimut itu menutupi tubuhnya. Dia mengusap matanya, seorang pria duduk di sampingnya dan sedang menatapnya.
"Sean?" lirih Yelena.
Sean melonggarkan dasinya sembari memalingkan wajah.
Yelena menatap jam yang menunjukkan pukul 12 tengah malam. Lalu menggeser tubuhnya yang masih terbaring dan memeluk pinggang Sean yang duduk di sampingnya.
"Kamu pulang terlambat.." ujar Yelena.
"Apa ada masalah?" ujar Sean dengan dingin.
Dia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya dia tidak mengatakan apa-apa. Ruangan itu sunyi, hanya suara napas mereka yang terdengar.
Sean menoleh menatap Yelena yang membelakanginya. Lalu menarik pelan pundaknya. Tanpa kata dia mulai menciumnya. Menciumnya dalam-dalam tanpa memberi ruang bernapas untuk Yelena.
Dia melonggarkan ciumannya dan melepas dasinya. Dia menutup mata Yelena dengan dasinya. Yelena mengulurkan tangannya, menyentuh dasi yang menutupi matanya.
Dia seperti kehilangan penglihatannya. Gelap gulita. Dia sangat membencinya. Dia benci gelap. Dan saat ini Sean dengan sengaja menutup matanya.
__ADS_1
Sean mengunci tangan Yelena di atas kepalanya. Dia mulai meraba tubuh Yelena. Kali ini dia berhasil meremas dadanya. Dengan gaun Yelena yang dominan terbuka itu dia bisa leluasa menciumi setiap inci tubuh Yelena dan meninggalkan bekas merah di sana.
Yelena hanya diam tak meronta. Tenaganya seakan menghilang dalam seketika.
"Apa kamu lupa aku takut gelap?" ujar Yelena dengan dingin.
"Tidak bisakah kamu membuka dasinya?"
"Mataku.. apakah tidak terlihat cukup indah? atau mata itu tidak cukup memuaskan mu? karena tidak sama dengannya.."
"Omong kosong apa yang kamu katakan?" ujar Sean kaget mendengar ucapan itu keluar dari mulut Yelena.
Tangannya yang menahan Yelena melonggar. Yelena menarik kembali tangannya dan melepas ikatan di matanya.
Selama ini dia hanya menebak-nebak, dan hari ini akhirnya dia menemukan jawabannya. Alasan Sean tidak menatap matanya dengan benar.
"Jangan terlalu banyak berpikir.."
"Kamu adalah tunangan ku, dan dia.." Sean menggantung ucapannya.
"Dia hanya teman masa kecilku," lanjutnya dengan tegas.
__ADS_1
Sean meraih Yelena kedalam pelukannya.
Dia menyerah. Dia tidak dapat melawan. Dia hanya dalat menurut dan berbaring dalam pelukan Sean. Ucapan Sean barusan sudah cukup menenangkannya. Dia tidak ingin berpikir lebih jauh lagi. Dia lelah.