
Yelena mengehentikan langkahnya. Dia membeku di tempatnya berdiri saat ini. Dia tidak berani menoleh. Namun sebuah sentuhan membuatnya terlonjak.
"Yelena? benar kan?" ujar Allesa.
Yelena berbalik dan menatap wanita itu. Kemudian menatap sosok pria tinggi di belakangnya yang menatap ke arahnya dengan tatapan datar.
"Kenapa kamu disini?" tanya Sean.
'Seharusnya aku yang menanyakan hal itu!' batin Yelena.
"Hanya ingin menemui Dokter untuk konsultasi.."
"Apa kamu sudah membuat janji?"
Yelena hanya mengangguk pelan.
Allesa yang berada di tengah kedua orang itu tampak tak senang. Dia tidak ingin Sean memperhatikan wanita itu.
Dia menatap Yelena yang menunduk seperti orang bodoh. Lalu berbalik menatap Sean yang memalingkan wajahnya karena tidak dapat menatap Yelena. Dia kesal, dia tidak suka.
"Aku.."
"Aw~"
Saat Sean hendak mengucapkan sesuatu, tiba-tiba Allesa merintih. Membungkukkan badannya dan memegangi perutnya seperti merasa kesakitan.
Sean dengan sigap meraih tubuhnya dan menuntunnya untuk duduk di kursi tunggu yang ada di sebelah sana. Dengan perhatian Sean menuntun Allesa untuk meneguk minumannya.
Tidak jauh dari sana Yelena berdiri diam seperti orang transparan, memandangi dua orang itu.
__ADS_1
Yelena membuang wajah, mengalihkan pandangannya dari kedua orang itu. Meski dia tidak dapat melihatnya, tapi dia masih dapat mendengar suaranya. Suara Sean yang berbicara dengan nada rendah pada Allesa.
Hanya mendengarnya saja Yelena sudah dapat membayangkan betapa lembutnya ekspresi Sean saat menatap Allesa.
Yelena memejamkan matanya. Dia memaksa dirinya untuk tetap tenang. Dia membuka matanya perlahan dengan menghela napas beratnya.
Senyum profesional sudah dia siapkan.
"Maaf, aku harus pergi, Dokter sudah menunggu ku.." pamit Yelena untuk meninggalkan tempat yang sesak itu.
"Tunggu hasil pemeriksaan Allesa keluar, lalu aku akan menemanimu.." ujar Sean.
Allesa menengadahkan kepalanya. Dia terlihat kaget mendengar ucapan itu keluar dari mulut Sean. Wajah Allesa sudah jelas-jelas tampak tidak suka. Yelena dapat merasakannya. Dia menatap Allesa sekilas, kemudian tersenyum tipis ke arah Sean.
"Tidak perlu.." ujarnya singkat kemudian berlalu.
Dokter bilang, ingatannya akan kembali pulih jika dia berusaha mengingat kenangannya bersama orang terdekatnya.
Yelena berdiri mematung di depan lobi rumah sakit sembari merenungkan kembali ucapan Dokter.
Penampakan kejadian barusan terlintas kembali di pikirannya. Mengingat betapa dekatnya Sean dan Allesa. Kemudian ucapan Vivian juga kembali berputar di kepalanya.
"Yohan.." gumamnya.
Yelena mengeluarkan ponselnya. Lalu membuka kotak pesannya.
'Jika kamu sudah membuat keputusan, jangan ragu untuk menghubungi ku^^'
Pesan dari nomor tak di kenal.
__ADS_1
'Bagaimana kamu akan membantu ku?'
Yelena membalas pesannya setelah menebak jika itu adalah nomor Yohan. Di luar dugaan ternyata Yohan membalas pesan Yelena dengan sangat cepat.
"Pfftt~" Yelena menahan tawanya setelah melihat notifikasi dengan nama Yohan muncul di layar ponselnya dan membaca jawaban tak masuk akal darinya.
'Rahasia..'
"Apa yang kamu tertawakan?" suara yang tiba-tiba muncul dari belakang itu membuat Yelena tergopoh-gopoh untuk memasukkan kembali ponselnya.
"Tidak..aku membaca pesan lucu dari Vivian," jawab Yelena.
Entah hanya perasaannya saja atau memang benar. Tatapan yang di berikan Allesa bukanlah tatapan biasa. Dia terlihat seperti akan marah setiap kali Sean mengajaknya bicara.
Ha, Allesa yang tak pandai menyembunyikan emosinya..
"Kita akan pulang bersama, tapi aku akan mengantar Allesa ke apartemennya dulu.." ujar Sean.
Lagi-lagi tatapan tak setuju yang dia tunjukkan di belakang Sean. Tebakan Yelena semakin jelas benar setelah melihatnya lagi.
"Kenapa sangat dingin.." ujar Allesa.
Sean menatap Allesa yang ada di sampingnya dengan tatapan khawatir, kemudian melepas jas yang dipakainya untuk dipakaikan kepada Allesa.
Lagi. Yelena seperti manusia transparan. Bahkan Sean tidak ragu menunjukkan perhatiannya terhadap Allesa di depan Yelena. Seperti hal itu bukan apa-apa baginya.
"Taxi ku datang, aku duluan.."
Yelena langsung pergi tanpa menoleh meskipun Sean sempat memanggil namanya.
__ADS_1