Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Map


__ADS_3

Klak~


Tanpa ketukan, tanpa ucapan izin, pintu langsung di buka. Sudah pasti itu bukan pegawainya. Gloria memutar kursinya untuk membelakangi meja kerjanya. Dia memejamkan matanya dan menghela napas panjang.


Pikiran itu datang. Dia sendiri masih tidak percaya dengan berita yang baru saja dia dapatkan. Bagaimana pun dia adalah Ibu kandung Sean. Meskipun seburuk apapun putranya, dia tetaplah Ibunya. Dia juga tidak ingin putranya terluka.


Dia membuka matanya dan menatap pemandangan di luar sana dari gedung kacanya. Langit cerah itu, seseorang telah tinggal di atas sana.


"Maafkan aku, Suamiku... maafkan Tante, Yelena~" gumamnya.


"Ma?" panggil Sean yang baru saja masuk.


"Duduk!" ucapnya tanpa berbalik menghadap Sean.


Terdengar Sean telah menempati tempat duduknya. Namun Gloria masih belum juga berbalik ataupun angkat suara.


Hening.

__ADS_1


Keduanya saling diam. Gloria masih belum bisa mengatakan nya. Sean yang mengira dia akan di ceramahi pun juga diam karena dia sedang malas untuk berdebat.


Gloria menarik napas panjang dan menghembuskan nya perlahan. Kemudian mulai berbalik dan menatap putranya. Sean pun tak menghindari tatapannya.


"Apa kamu masih memiliki perasaan terhadap Allesa?" tanya Gloria tiba-tiba.


Kini Sean mulai menghindari tatapan Gloria. Gloria masih tak melepas tatapannya dan malah semakin tajam.


"Ck~" decak Sean sembari mengusap wajahnya dengan kesal.


"Tidak tau.." jawabnya kemudian.


Plak~


Sebuah map Gloria lempar di depan Sean. Mungkin hanya dengan itu dia bisa menyadarkan putranya. Hanya dengan itu dia bisa menjawab ucapan Sean barusan.


Sean mengerutkan keningnya bingung. Kemudian menatap Ibunya dengan tatapan penuh tanda tanya.

__ADS_1


"Lihat sendiri!" ujar Gloria.


Dengan ragu-ragu Sean mengambil map itu dan perlahan mulai membukanya. Beberapa foto yang cukup untuk membuatnya diam. Juga selembar kertas yang mampu membuat tangannya bergetar hebat.


"Ini..." ujarnya tanpa daya.


"Seperti yang telah kamu baca dan lihat.." jawab Gloria dengan santai.


Dia memberi waktu bagi putranya untuk mencerna semuanya. Mungkin hal itu lumayan berat baginya. Meskipun saat ini rasa itu telah hilang, namun setidaknya rasa itu pernah ada. Wanita itu telah membohonginya dan mengorbankan pertunangannya.


"Tahun itu Allesa pergi bukan karena mencari donor ginjal. Tapi dia hamil. Demi ketenaran dia rela memberikan tubuhnya untuk Direktur Perusahaan tempatnya dikontrak.." jelas Gloria.


"Bagaimana Mama bisa tau?" tanya Sean dengan suara rendah.


"Mama tidak ingin punya menantu yang tidak benar. Jadi Mama meminta seseorang untuk mengawasinya. Rencana dia meninggalkan pertunangannya Mama juga tau. Mama hanya diam karena tidak ingin membuatmu lebih hancur. Mama telah mengawasinya selama 4 tahun terakhir ini.."


"Dan lagi..kabar yang baru Mama dapatkan beberapa hati yang lalu. Bahwa dia juga dalang di balik insiden kecelakaannya Yelena."

__ADS_1


"Jika Mama tau rencana itu sejak awal, Mama pasti akan mencegahnya. Dan Yelena tidak akan pergi seperti ini. Gadis malang itu tidak akan kehilangan nyawanya!" ucapnya sambil terisak.


Sean yang tidak pernah menunjukkan kelemahannya di depan Ibunya, saat ini dia menitikkan air matanya. Dia menahan emosinya dengan mengepalkan tangan dan mengeraskan rahangnya. Namun malah air matanya yang menggantikan perasaan tertekannya itu untuk keluar. Sean menggebrak meja lalu bergegas pergi dari sana.


__ADS_2