Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Pulang


__ADS_3

Seperti orang yang baru lahir ke dunia ini. Rasa tak nyaman mengerubungi hati Yelena. Sedikit perasaan familiar pun tak ada. Seperti tidak pernah mengenal. Asing.


"Kenapa?" tanya Sean yang berdiri di belakangnya.


Yelena yang berhenti di depan pintu itu langsung melangkahkan kakinya masuk. Dia melihat sekelilingnya, sampai berhentilah dia di depan tangga.


"Di-dimana kamar ku?" tanya Yelena ragu.


Sean berjalan mendahului Yelena menaiki tangga. Memandu nya menuju kamar. Di ujung sana dia berhenti, berdiri di depan pintu kamar.


Dia melirik pintu kamar itu, memberi isyarat pada Yelena. Yelena menatap Sean ragu, kemudian mulai membuka pintu saat Sean memberi anggukan.


Kamar dengan dekorasi serba putih membuatnya terkagum.


"Kenapa semuanya warna putih?" tanyanya.


"Karena kamu suka warna putih," jawab Sean.


Yelena berjalan ke arah pintu balkon dan membukanya. Hembusan angin menerpa wajahnya. Membuat tubuhnya bergidik karena dingin.


Seperti Sean yang mudah merubah sikapnya, alam pun juga begitu. Dimana langit yang tadinya cerah, sekarang berubah menjadi gelap.


"Tubuhmu belum sepenuhnya pulih," tutur Sean sembari memakaikan Jas nya pada Yelena.


Yelena menoleh dan tersenyum lembut. Di genggamannya tangan Sean yang ada di pundaknya. Namun secepat mungkin Sean menarik tangannya dan berbalik memalingkan tubuhnya.


'Lagi-lagi seperti itu?' batin Yelena.


"Aku ada meeting siang ini, aku kembali ke kantor dulu. Kamu tidak perlu menunggu ku pulang," ucapnya sembari berjalan keluar.


"Se- Sean?" panggil Yelena dengan terbata.


Sean menghentikan langkahnya, tapi tidak menoleh.


Puk!

__ADS_1


Yelena memakaikan Jas itu kembali pada pemiliknya. Kemudian menyandarkan kepalanya di punggung lebar milik Sean.


"Terima kasih," lirihnya.


Tanpa berkata, Sean berlalu saat Yelena mengangkat kepalanya. Yelena menatap punggungnya yang semakin menjauh dan menghilang di balik tangga sana.


Hufftt~


Dia menarik napas panjang dan menghembusnya dengan perlahan. Lalu menutup pintu kamarnya.


Dihempaskan tubuhnya yang lelah itu ke atas ranjang. Dia menatap langit-langit kamar dengan wallpaper awan di atas sana.


Banyak hal yang ingin dia ketahui. Banyak pertanyaan dalam kepalanya yang terus berjalan seperti film. Kepada siapa dia harus bertanya, dia tidak tahu.


Kakinya yang menggantung hampir ke lantai itu mulai terasa dingin karena terpaan angin dari luar balkon. Dia hanya menatap pintu yang terbuka itu sambil menggosok kakinya. Malas rasanya untuk bangun.


"Nona?"


Suara yang muncul dari balik pintu sana membuat Yelena menoleh kearahnya. Dia tidak bergeming karena tidak yakin jika suara itu benar-benar ada. Namun dia masih menatap pintu itu.


Segera Yelena bangkit dan membuka pintu. Ya.. gadis yang malas menutup pintu balkon tadi, saat ini bangun daei zina nyamannya setelah mendengar nama Bi April.


"Silahkan masuk Bi."


"Boleh Non?" tanya Bibi heran.


Bibi lupa jika gadis itu bukanlah Allesa. Bibi menepuk dahinya pelan.


"Kenapa Bi? kepala Bibi sakit?" tanya Yelena yang langsung memapah Bibi untuk duduk di kasurnya sebelum Bibi menjawab.


Bibi tersenyum kecut.


"Bibi boleh peluk Non Yelena?" tanyanya.


Yelena tersenyum tipis, dan langsung memeluk Bibi tanpa menjawab pertanyaannya. Di balik punggung Yelena Bibi menitikkan air matanya.

__ADS_1


Yelena melepas pelukannya saat merasakan sesuatu membasahi pundaknya.


"Bibi menangis?" tanyanya.


"Non harus kuat ya," ucap Bibi seperti teka-teki.


Yelena mengerutkan keningnya.


"Yelena baik-baik saja kok Bi, Bibi gak usah khawatir," ucap Yelena menghapus air mata Bibi.


"Tapi ada hal yang ingin aku ketahui," lanjutnya.


"Apa Non?"


"Bagaimana aku bisa kecelakaan?"


"Setelah kembali dari luar negeri, Nona tertabrak mobil saat hendak menghampiri tuan muda."


Sangat natural. Kalimat itulah yang diajarkan Sean kepada Bibi. Sean sudah menduga Yelena akan menanyakan hal itu kepada Bibi.


Rasa bersalah semakin membebani hati Bi April. Hatinya sangat berat. Sebelum rasa itu semakin membengkak, segera Bibi mengalihkan pembicaraan. Menghindari Yelena akan menanyakan hal sulit lagi.


"Nona sudah berkeliling?"


Yelena menggeleng.


"Mau Bibi temani berkeliling?" tawar Bibi.


"Nggak Bi, Bibi istirahat aja. Aku juga masih malas untuk jalan,"


"Bibi sudah siapkan makan siang di meja makan. Kalo ada makanan lain yang ingin Nona makan, Nona bisa cari Bibi di Rumah belakang. Nona tinggal ikuti jalan di samping kolam renang," jelas Bibi.


"Terima kasih Bi."


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2