Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Sebulan Sendirian


__ADS_3

drrtt drrtt~


Yelena segera mengangkat teleponnya saat melihat nama seseorang yang ditunggunya muncul di layar ponselnya.


'Halo, Yohan?'


'Aaah~ Yelena, maafkan aku. Mungkin selama sebulan ini kita tidak bisa bertemu dulu. Aku ada jadwal syuting ulang, dan itu sangat mendadak..'


Yelena terdiam. Kenapa di saat terberatnya yang penuh dengan beban pikiran ini dia sendiri.


'Halo? Yelena? apa kamu masih di sana?'


'Iya~'


'Maafkan aku. Aku janji, saat jadwalku selesai aku akan segera menemui mu!'


"Yohan! cepat ke ruang ganti!" suara yang terdengar di dalam sana.


'Kenapa kamu masih sempat menghubungi ku padahal kamu sedang sibuk?'


'Karena kamu sangat berharga bagiku. Aku juga ingin agar ingatanmu segera kembali. Setiap kali melihatmu yang menatapku dengan pandangan asing itu membuat hatimu terasa sakit.'


'Aku akan menutup teleponnya, sampai jumpa..' tutup Yohan.


Yelena menjatuhkan ponselnya, lalu menenggelamkan wajahnya di telapak tangannya. Dia mulai menangis. Menangis semenjadi jadinya. Sebenarnya ada apa dengan dirinya.


Mimpi itu, apa itu petunjuk? batinnya. Dia mengangkat kepalanya dengan wajahnya yang telah basah akan air mata.


Dia berdiri dan berjalan ke arah lemari kecil yang ada di depannya. Dia membukanya. Kosong. Lalu semua laci juga dia buka. Semuanya kosong.

__ADS_1


Tidak ada petunjuk.


Betapa bodohnya dia. Ya, dia sangat bodoh. Selama ini dia hanya fokus dengan Sean dan semua yang dikatakan Sean. Sampai-sampai dia lupa jika dia tidak memiliki satupun tanda pengenal.


Dia mengusap layar ponselnya dan membuka kotak kontak telepon. Hanya ada 6 kontak dalam teleponnya. Sean, Yohan, Aiden, Vivian, Gloria, dan juga Pak Daus, supir yang sering mengantarnya pergi.


"Bodoh!" gumamnya.


"Apa mungkin wanita 25 tahunan hanya memiliki 6 kontak dalam teleponnya?" gumamnya sambil tersenyum bodoh.


Yelena mengacak-acak rambutnya, lalu menghentikan tangannya yang masih memegang rambutnya itu. Dia menatap rambutnya. Menatap rambutnya yang masih bergelombang itu.


"Pertama, ayo kita merubah kembali rambut ini.." ucapnya dengan menatap benci rambutnya sendiri.


...****************...


Dia menghempaskan tubuhnya di kasur dengan telentang. 3.25 angka yang ditunjuk jarum jam. Dia telah melewatkan sarapan dan makan siang. Namun dia tidak merasa lapar.


drrt drrt~


'Halo?'


'Yelean..aku di depan,'


Segera dia bangkit dari rebahan nya dan turun untuk membuka pintu. Vivian dengan dua kantung keresek di tangannya itu masuk.


"Wah, diluar benar-benar panas. Aku harap hujan akan turun.." gerutunya.


"Nih aku bawakan makanan..kita makan bareng. Juga mungkin ini akan menjadi acara makan-makan terakhir kita.." ujarnya.

__ADS_1


"Ahh.. aku dan Aiden akan kembali ke luar negeri, ada sedikit masalah di sana!" lanjutnya tiba-tiba dengan sangat heboh.


"Kenapa semua orang pergi.." ujar Yelena dengan ekspresi kecewa di wajahnya.


"Semua? siapa?"


"Sean, Yohan, dan kalian berdua.."


"Sean? Sean juga pergi? Oh, mungkin perusahaannya akan membuat projek baru," tutur Vivian sembari membuka makanannya.


"Kamu kapan akan kembali?" tanya Yelena.


"Mungkin pertengahan Desember.."


"Satu bulan.." gumam Yelena.


"Aah~ lalu sebulan ini apa yang harus aku lakukan sendirian??" rengek Yelena.


Vivian tertawa. Lalu dengan tiba-tiba tawanya mulai pudar. Dia menatap Yelena yang sedang membenamkan wajahnya di atas meja.


'Kasihan juga dia, tapi mau bagaimana lagi. Kenapa semuanya sama-sama pergi sih..Yohan juga!' gerutu Vivian dalam hati.


Vivian mengacak-acak rambut Yelena.


"Ayo makan dulu. Aku janji, setelah pekerjaan ku di sana selesai, aku akan segera kembali dan menemui mu.."


"Yohan juga mengatakannya seperti itu tadi. Tapi mengapa aku malah semakin sedih. Seolah-olah kalian meminta ku untuk menunggu!" gerutu Yelena.


"Anak ini..sejak kapan kamu mulai merengek seperti bocah?" ujar Vivian sembari mencubit pipi Yelena.

__ADS_1


__ADS_2