Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Panti Asuhan


__ADS_3

Sang surya telah keluar dari persembunyiannya, menyebarkan sinarnya ke seluruh penjuru bumi.


Apa yang orang lakukan saat di pagi hari? Ada yang masih terlelap, ada yang olahraga, belanja ke pasar, berangkat bekerja. Ada juga yang masih dalam perjalanannya menuju tempat yang harus di tuju nya. Seperti Yohan saat ini.


Setelah mendarat di Ibu Kota dari luar negeri, dia langsung melanjutkan perjalanannya menuju kampung halamannya. Juga tempat dimana Pantai Asuhan tempatnya di besarkan berada.


Jalanan berbatu dan becek bekas hujan itu dia lalui dengan mobil Jeep nya. Halaman rumah yang sangat luas di depan sana membuatnya sangat bersemangat melajukan mobilnya.


Brak!


Dia turun dari mobilnya dengan senyum cerah di wajahnya. Halaman panti tidak pernah berubah, masih tetap sama seperti dulu. Pohon bunga flamboyan juga masih menjadi ciri khas tempat itu.


"Wah, bukankah itu kakak penyanyi yang muncul di televisi?" ujar beberapa anak yang mulai berkumpul di depan Yohan.


Yohan melambaikan tangannya sambil menampilkan senyum terbaiknya. Semua anak di buat histeris olehnya.


"Kak Yohan?" ujar seorang gadis yang baru saja keluar dari dalam panti.


"Hai..Lilia, apa kabar?" Yohan langsung menghampiri gadis 16 tahun itu dan memeluknya.


"Wah, kau sudah sebesar ini.." Yohan mengacak-acak rambut Lilia.


Lilia mulai cemberut karena dia paling tidak suka kepalanya di pegang. Dan sejak kecil Yohan suka sekali mengganggunya dengan mengacak-acak rambutnya. Lilia mempunyai nasib yang hampir sama dengan Yohan, bedanya Lilia masuk ke panti itu saat usianya masih 4 tahun.


"Kebiasaan buruk kakak tidak berubah!"


"Ayolah..kita kan teman," ujar Yohan sembari merangkul pundak Lilia.


"Kak Yelena tidak ikut?" tanya Lilia.


"Itulah alasanku datang ke sini. Apa Ibu Asih ada di rumah?" tanya Yohan.


"Kak sangat beruntung, Ibu baru saja pulang dari pasar.."

__ADS_1


"Ok, aku akan menemui mu lagi nanti, terima kasih.."


Yohan melambaikan tangannya dan langsung berlari ke dalam panti. Dia menuju ke dapur untuk mencari Ibu Asih.


Di sana, sosok yang sangat dia rindukan. Punggungnya sudah tak setegap dulu, namun tangannya masih sekuat itu untuk memompa air.


"Ibu.." panggil Yohan.


Ibu Asih melepas pompa air nya dan menoleh. Beliau tercengang melihat orang yang berdiri di hadapannya.


"Anakku Yohan.."


Ibu Asih menghampiri Yohan dan menyentuh kedua pipinya. Bulir air mata mulai menuruni pipi Ibu Asih.


"Apakah ini nyata? anakku Yohan sudah tumbuh sebesar ini dan sangat tampan.." ujarnya.


"Iya Ibu, ini Yohan. Yohan sudah tidak se bandel dulu, Bu.." Yohan memeluk Ibu Asih, air matanya juga mulai keluar.


Ibu Asih melepas pelukannya.


"Apa kamu mau makan bersama dengan adik-adik mu?" tanya Ibu Asih kemudian.


"Iya. Yohan tadi sudah bertemu dengan Lilia di depan. Dia sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik.." ujar Yohan.


"Dari semua anak yang tumbuh sejak kecil di sini bersamamu, hanya Lilia yang tersisa. Dia tidak ingin di adopsi, dia ingin tetap di sini bersama Ibu dan membantu menjaga adik-adik barunya yang masuk panti.."


"Sejak kecil dia memang gadis yang baik.." sahut Yohan.


...****************...


Setelah sarapan...


Yohan dan Ibu Asih duduk di kebun belakang panti. Tempat dia ingin mengakhiri hidupnya dulu, kini telah berubah menjadi taman bunga yang sangat indah.

__ADS_1


"Andai Yelena ada di sini.." gumam Ibu Asih.


"Itu juga salah satu tujuan Yohan datang kemari, Bu..Yohan ingin bertemu dengan Yelena," ujar Yohan pura-pura tidak mengetahui apapun.


"Sejak saat dia pergi dari panti ini, Ibu tidak bisa menghubungi nya. Bahkan di hari pertama di pergi pun," keluh Ibu Asih.


Yohan sebisa mungkin menutupi rasa kagetnya. Firasatnya benar jika ada hal tak beres yang telah terjadi.


"Yelena belum sempat bilang sama Yohan mau bekerja di mana.."


"Dia kerja di Ibu Kota. Katanya dia di terima kerja di perusahaan apa ya, Ibu lupa. DC apa gitu.." ujar Ibu Asih.


"DC Entertainment?" sahut Yohan antusias.


"Iya, itu. Kamu tau?" tanya Ibu Asih.


Yohan tertunduk lemas, kemudian mendongak menatap Ibu Asih yang sedang menatapnya khawatir.


"Ada apa, Nak?"


Yohan tidak menjawab. Dia tidak bisa memberi tahu Ibu Asih bagaimana keadaan Yelena saat ini. Dia juga tidak berani bertanya apakah Yelena sudah bertunangan atau tidak. Dia tidak ingin membuat Ibu Asih khawatir, juga tidak ingin menambah beban pikirannya jika ternyata hal itu tidak benar.


"Tidak, Bu. Mungkin Yelena sedang sibuk. Yohan dulu sempat bekerja di sana. Itu adalah perusahaan besar, jadi wajar saja jika Yelena sangat sibuk," tutur Yohan yang membuat Ibu Asih percaya.


Ibu Asih mengangguk mengerti apa yang telah di jelaskan oleh Yohan. Sembari mengusap punggung lebar milik Yohan, Ibu Asih berpesan banyak padanya.


"Apa nanti kamu bermalam di sini?" tanya Ibu Asih kemudian.


Yohan berpikir panjang. Ini sudah hari kedua cuti nya. Dua hari masih tersisa. Jika dia menginap, hanya ada satu hari yang tersisa. Satu hari itu tidak cukup untuk menyelesaikan misteri di balik masalah Yelena.


Namun jika dia tidak menginap..


Dia menatap mata Ibu Asih yang penuh dengan harapan. Melihat hal itu bagaimana bisa dia langsung pergi begitu saja.

__ADS_1


'Aku akan mengambil cuti lagi bulan depan..' batinnya.


"Iya, Yohan bermalam di sini.." jawabnya.


__ADS_2