
Dua orang dengan pikiran yang berbeda itu sedang duduk berhadapan. Yelena menatap Sean yang memakan lahap nasi gorengnya. Pemandangan yang sangat langka.
Saat itu, banyak hal yang ingin dia tanyakan. Juga banyak hal yang ingin dia dengar dari mulut Sean. Namun Yelena memilih untuk tetap diam. Ya, mungkin diam adalah pilihan yang tepat saat ini. Karena dia tidak ingin menghancurkan ketenangan itu dengan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan mengganggunya.
Yelena menuangkan segelas air dan menyodorkan pada Sean.
Sean menghentikan kegiatan makannya dan menatap Yelena. Lagi-lagi tatapan yang membuatnya merinding. Dia benar-benar belum terbiasa.
"Kamu gak makan?" tanyanya.
Yelena tersadar dari lamunannya.
"Nanti aja," jawabnya.
Sean melanjutkan makannya tanpa mengatakan apa-apa lagi. Begitupun juga dengan Yelena, dia melanjutkan aksi menatap orang di depannya.
Tatapannya tanpa henti, seperti tak ada bosan-bosannya dia menatap pria itu. Baginya, menatapnya saja sudah membuat dia kenyang.
Namun berbeda dengan orang yang di tatapnya. Dia merasa seperti ada anak panah yang menyerbunya. Menelan nasi gorengnya pun sangat sulit. Kapan lagi dia bisa makan nasi goreng seenak itu. Meskipun buatan Bibi juga enak, tapi rasanya sangat berbeda.
Namun sekalinya dia makan, dia tidak bisa menelannya dengan benar. Dengan berat Sean menelan sesendok terakhir nya. Kemudian meneguk segelas air nya hingga habis.
__ADS_1
"Katakan.." ujarnya.
"Hmm?" Yelena mengedipkan kedua matanya beberapa kali.
"Kamu seperti ingin mengatakan sesuatu pada ku. Katakan saja,"
Yelena memainkan jarinya dan menatap kosong ke sembarang arah. Saat ini dia sedang memutar otak. Mencari cara agar Sean percaya. Berkata tidak ingin mengatakan apa-apa pun dia pasti tidak akan percaya, karena sedari tadi dia telah menatapnya. Dari nasi di piring itu penuh, hingga tinggal sendok nya saja.
Tidak tahu apa yang harus dia katakan. Seperti sebuah memori yang di format ulang. Seperti itulah isi kepala Yelena saat ini. Bahkan hanya untuk membuat alasan kecil pun sangat sulit.
Sean masih menatapnya dengan harapan. Berharap apa yang akan ditanyakan nya bukan hal yang membuatnya tidak bisa menjawab.
Dia mengedipkan matanya kaget saat Yelena menoleh dan menatapnya.
"Saat di rumah sakit.."
Dia menggantung ucapannya.
"Kamu bilang jika aku adalah sekretaris sekaligus tunangan mu bukan?" lanjutnya.
Hampir saja Sean melupakan hal itu jika Yelena tidak mengingatkannya. Memang benar dia adalah sekretaris nya. Tunggu. Bukan, tapi calon sekretaris. Ya, sebelum kecelakaan itu terjadi. Dan sebelum dia mengakuinya sebagai tunangan.
__ADS_1
Dan saat ini jalan ceritanya berbeda. Mungkin dia tidak perlu menjadi sekretaris nya. Karena kemarin dia telah mengatakan di depan sebagian pegawainya jika Yelena adalah tunangannya. Pasti kabar itu telah menyebar seisi perusahaan.
Dia tidak ingin mengambil resiko yang akan membuatnya kehilangan wanita itu. Tidak.
"Ya, tapi sekarang tidak," ujarnya.
Yelena mengerutkan keningnya sambil memiringkan kepalanya bingung.
"Kenapa?" tanya Yelena.
"Kamu tidak ingat kejadian kemarin? hanya karena kepalamu di balut perban, dia tidak mengenalimu sama sekali.. dan juga hampir mencelakai mu!"
Memang benar adanya apa yang telah terjadi kemarin. Tapi untuk tidak mengenalinya karena kepalanya di perban, itu bohong. Apakah memang ada orang yang tidak mengenali seseorang hanya karena kepalanya di perban? omong kosong.
Namun Yelena tetap mempercayai hal itu. Karena dia tidak terlalu berpikir panjang.
Yelena hanya menganggukkan kepalanya pelan. Kemudian meraih segelas air dan meneguknya hingga habis. Berharap dengan segelas air itu pikiran yang tidak perlu ikut terhanyut bersamanya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan selanjutnya?" tanyanya kemudian.
"Kamu hanya perlu memasak untukku.."
__ADS_1
BERSAMBUNG...