Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Takut Kehilangan


__ADS_3

Bianglala menjadi wahana terakhir yang mereka naiki. Pukul 7 kurang 15 menit, malam. Sudah saatnya mereka kembali pulang.


Yelena berjalan mendahului Sean karena masih merasa malu dengan kejadian yang baru saja terjadi. Pipinya masih terasa panas, begitupun juga dengan jantungnya yang tak kunjung diam.


Tapi dia benar-benar sangat bahagia hari ini. Dia tidak akan pernah melupakan hari ini. Batinnya.


Bruk~


Tak sengaja Yelena menabrak seseorang di depannya setelah lepas dari lamunannya.


"Yoo..gadis cantik~" ujar lelaki yang tak sengaja di tabrak nya.


Yelena menoleh kebelakang untuk mencari perlindungan kepada Sean. Sayangnya Sean yang jauh di belakang sana tengah sibuk dengan teleponnya dan tidak sedang menatap ke arahnya.


"Maaf, saya tidak memperhatikan jalan.." ujar Yelena dengan sopan.


Namun pria itu malah bertindak kurang ajar kepada Yelena. Dia hendak menyentuh rambut Yelena, tepat sebelum dia melakukannya Yelena menepis tangannya.


Pria itu menyeringai.


"Gadis manis ini suka permainan kasar rupanya.." gumamnya.


Pria itu mendekat ke arah Yelena.

__ADS_1


"Bagaimana jika aku mentraktir mu minum?" ujarnya sambil terus mendekat pada Yelena.


Yelena mulai merasa panik dengan situasi itu. Dia berbalik hendak berlari ke arah Sean. Sayangnya pria itu menghentikannya dengan menarik lengannya.


"Lepaskan!"


"Sean~" teriaknya.


Sepertinya jarak mereka terlalu jauh sehingga suara Yelena tak sampai padanya. Yelena terus meronta untuk terlepas dari cengkeraman pria itu. Dia mencoba untuk menendang kelemahannya, sayangnya hal itu gagal.


Pria itu menarik pinggang Yelena.


Tempat parkir itu lumayan sepi untuk mencari bantuan. Maka dia harus mengandalkan dirinya sendiri. Yelena berteriak semampunya dan terus memberontak. Hingga akhirnya ada sebuah celah untuk menampar pria itu.


"Kau berani memukul ku? hah? aku sudah berniat baik ingin mentraktir mu minum, tapi kau malah memperlakukan ku seperti ini!? dasar pelacur sialan!"


Yelena meringkuk dengan ketakutan saat pria itu mengangkat tangannya. Dia menutup matanya rapat-rapat. Sekali pukul mungkin hanya sakit sedikit saja, pikirnya pasrah.


'Sean, tolong aku..' batinnya.


Bugh!


"Beraninya kau brengsek!"

__ADS_1


Yelena membuka matanya saat mendengar suara yang terdengar familiar itu. Sean, dia sedang memukuli pria itu tanpa ampun. Dia menindih tubuh pria itu dan terus memukulinya.


"Sean.." gumam Yelena.


"Sean, hentikan!"


Rasa sakit dia rasakan di pergelangan kakinya saat mencoba untuk berdiri. Dengan terpincang-pincang dia berlari ke arah Sean dan memeluknya dari belakang.


"Hentikan Sean! kamu bisa membunuhnya jika terus memukul.."


Sean menghentikan pukulannya dan menarik pria itu untuk berdiri. Sekali lagi pukulan itu dia layangkan ke wajahnya.


"Pergi sebelum aku menghabisi mu!" bentak Sean.


Napasnya tersengal-sengal, tangannya penuh dengan bercak darah dari pria yang dipukulinya. Dia membuka satu kancing bajunya dengan gusar, kemudian berbalik dan mendapati Yelena yang sedang tersungkur lemas di tanah.


"Sean.." panggil Yelena dengan suara parau nya.


Sean berlutut dan langsung menyambar tubuh Yelena kedalam pelukannya. Dia memeluk erat tubuh Yelena dan mencium ubun-ubun nya.


'Ada apa dengan diriku..' batin Sean.


Saat melihat tubuh Yelena di hempas oleh pria itu, Sean langsung berlari sekencang nya. Perasaan khawatir sekaligus marah bercampur aduk menjadi satu dan membuat amarah nya meledak. Dia tidak ingin terjadi hal buruk kepada Yelena.

__ADS_1


Sebenarnya, dalam hati kecil Sean, tersimpan perasaan tak rela akan kehilangannya. Entah itu murni tulus untuk Yelena, atau karena rasa trauma akan ditinggal pergi oleh Allesa.


__ADS_2