Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Hasrat


__ADS_3

Dengan langkah kecilnya dia mengendap-endap masuk ke kamar yang gelap itu. Perlahan dia duduk di tepi ranjang luas yang hanya di tempati oleh lelaki itu. Sebuah sinar dari lampu balkon di luar sana menerobos masuk melalui celah gorden yang setengah terbuka, menerpa sebagai besar wajah Sean.


Yelena menatap wajahnya yang terkena pantulan sinar itu. Tampan. Dia mengulurkan tangannya ingin mengusap rambut hitamnya itu. Namun..


"Aw~"


Sean menarik tangannya, memutar tubuh mungil Yelena yang kini berada di bawah tindihnya. Dia menahan kedua pergelangan tangan Yelena di samping kepalanya.


"Apa yang ingin kamu lakukan dengan mengendap-endap masuk ke dalam kamar ku?" tanya Sean.


"Ti-tidak! Aku hanya takut membangunkan mu saja.." jawab Yelena tergagap.


"Ah, aku tau. Apa kamu mau memintanya? ciuman selamat malam.." godanya.


"Tidak! jangan terlalu percaya diri!" elak Yelena.


Sean melepas sebelah tangannya dan membelai rambut Yelena. Kemudian mendekatkan wajahnya yang membuat Yelena memejamkan mata.


"Kamu sudah mulai berani..apa kamu ingin dihukum?" bisik nya yang kemudian mengecup sekilas bibir Yelena.


Yelena tercengang. Dalam kamar yang gelap itu hanya ada mereka berdua. Dan posisi mereka saat benar-benar membuatnya berdebar.


Sean tersenyum puas menatap Yelena yang telah terpancing oleh godaannya. Wajah paniknya yang terlihat dalam kegelapan itu membuatnya semakin ingin menggodanya.


Sean menghempaskan tubuhnya kesamping, lalu merengkuh tubuh Yelena ke dalam dekapannya. Boneka nya itu membuatnya merasa nyaman.

__ADS_1


Namun melihat bagaimana orang-orang begitu membelanya dan mencoba untuk memisahkan dengannya, membuat Sean ingin merusaknya sedikit sebelum membuangnya. Dia ingin membuat goresan kecil untuk melihat bagaimana reaksi orang-orang yang berada di pihaknya. Semarah apa orang-orang itu pada Sean setelah dia merusaknya.


Bohong jika dia mengatakan tidak ingin melakukan hal apapun pada Yelena. Setiap kali dia menatapnya, menyentuhnya, atau bahkan menciumnya. Hasrat seperti ingin merusaknya selalu muncul dalam benaknya.


Dia semakin merapatkan dekapannya. Perlahan tangannya mulai menyelinap masuk ke balik baju Yelena. Meraba pinggang dan juga perutnya.


"Sean, hentikan!" Yelena menahan tangan Sean yang mencoba untuk bergerak lebih ke atas.


'Sial! aku kehilanagan kendali!' batin Sean.


Sean melepaskan pelukannya, lalu mengusap rambutnya dengan gusar.


"Apa kamu mencintaiku?" tanya Sean tiba-tiba.


Bagaimana itu cinta? Dia tidak tahu. Namun yang dia rasakan selama ini seperti berdebar dan juga perasaan nyaman, apa itu termasuk? Yelena berpikir keras.


Sean menarik tubuh Yelena untuk menghadapnya. Yelena menatap kedua bola mata Sean. Setiap kali dia menatap mata itu, dia tidak dapat menemukan sebuah ungkapan. Orang bilang tatapan mata dapat mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya. Namun hal itu tidak dapat dia temukan dalam tatapan Sean. Tatapan datar dan dingin itu selalu membuatnya ragu.


"Jika aku mengatakan aku mencintaimu, apa kamu juga akan mengatakan hal yang sama?" tanya Yelena dengan tatapan tegasnya.


Sean mengerutkan keningnya, dia tidak tahu darimana Yelena mendapatkan banyak keberanian itu. Selama ini dia hanya diam dan patuh. Tapi akhir-akhir ini dia terlalu berani.


"Aku.." Sean menggantungkan ucapannya.


Yelena menatapnya penuh penantian. Mulut memang bisa berbohong, namun jangan lupakan jika hati dan pikiran merupakan alat pengontrol mulut.

__ADS_1


"Aku lelah, sebaiknya kamu juga segera tidur. Hari ini cukup menguras banyak energi.." ujar Sean yang langsung tengkurap dan memalingkan wajah.


Yelena tersenyum kecut.


'Apakah sesulit itu? Kenapa kamu selalu membuatku menyimpan banyak keraguan, Sean..' batinnya.


Yelena beranjak dari ranjang, namun Sean menahan tangannya.


Sean merogoh saku celananya, entah apa yang dia cari dari dalam sana. Dia terlihat sangat sibuk dengan sesuatu yang tak kunjung ditemukannya di dalam sana.


"Aishh.. menyebalkan!" gerutu nya sembari bangkit dari tidurnya dan kini mulai dalam posisi duduknya.


"Nah~" serunya.


Dia melempar sebuah benda yang akhirnya berhasil dia temukan dalam sakunya. Gelang tali berwarna merah dengan gantungan bintang kecil.


"Ini.." Yelena menggantung ucapannya.


"Kamu tadi menatapnya cukup lama, jadi aku membelinya.."


Selalu saja seperti itu. Saat keraguan mulai menghampiri, rasa percaya kembali muncul dengan tindakan kecilnya. Yelena, dia goyah.


"Terima kasih.." ucap Yelena yang kemudian mengecup pipi Sean.


Dia memakai gelangnya lalu beranjak pergi dari sana. Meninggalkan Sean yang masih duduk mematung dengan perasaan kacaunya.

__ADS_1


__ADS_2