
"Tidak mungkin.."
Yelena membuka matanya. Bulir bening yang tersorot sinar matahari itu tampak berkilauan. Mimpi yang panjang itu seolah meninggalkan bekas.
"Mereka semua pembohong.."
"Mereka semua pembohong!"
"Arghh!"
Yelena melempar jam digital yang ada di meja sampingnya hingga membentur lemari kecil yang ada di depan sana.
"Kamu bodoh Yelena!" dia menjambak rambutnya sendiri.
"Bodoh!" teriaknya.
Dia bergegas turun dari kasurnya lalu berlari menuju kamar Sean. Tanpa ragu dia membuka pintunya dan masuk.
Foto yang tahun lalu dia lihat, tidak dapat dia temukan di manapun. Dia keluar dari kamar Sean.
"Pasti ada!" gumamnya.
Dia memasuki setiap ruangan yang ada di dalam rumah itu. Sebelumnya dia memang tidak pernah memeriksa satu per satu ruangan yang ada dalam rumah itu.
"Gudang? pasti ada gudang di sini.." gumamnya kemudian.
Dia berlari ke belakang rumah. Sudah pasti letak gudang ada di belakang kan? Benar, sebuah ruangan kecil ada di sana. Namun sayangnya pintu itu terkunci.
Segala cara dia pikirkan untuk dapat membuka pintu itu. Cangkul, sebuah cangkul tergeletak di sebelah sana. Ya, bagaimana pun juga Yelena harus membuka pintu itu, meskipun harus merusaknya.
Yelena mengambil cangkul itu dan menggenggam gagangnya dengan erat.
prang!
Dalam 3 kali pukulan keras, kenop pintu mulai terjatuh. Tidak hanya dengan tenaga, namun Yelena juga memasukkan emosi kedalam pukulannya itu.
Yelena menarik napas panjang sembari memejamkan matanya, kemudian menghela napasnya dan mulai membuka matanya. Perlahan dia membuka pintu itu.
Gelap.
Kegelapan menyambut kedatangannya. Namun ketakutannya terhadap gelap seolah sirna. Dia memasuki ruangan itu dan mencari sakelar lampu.
Betapa kagetnya dia saat lampu kuning ruangan itu menyala. Tempat itu tidak seperti gudang. Semuanya tertata rapi. Entah benda apa yang di tutupi kain putih itu. Tanpa pikir panjang lagi dia membukanya.
"Pakaian wanita?" gumamnya.
__ADS_1
Semuanya adalah gantung pakaian yang berisi pakaian wanita. Yelena tidak peduli dengan itu. Ada sebuah lemari di pojok sana. Dia lebih tertarik dengan sesuatu yang mungkin ada di dalamnya.
Beberapa album foto dan pigura yang ada di dalamnya saat Yelena membuka lemari itu.
"Jadi ini?"
"Mungkin kemarin aku memang benar-benar bodoh. Ingatan ku hilang dan otak ku juga ikut menghilang.." ucapnya.
Dia menggenggam erat pigura yang ada di tangannya. Kemudian pergi dari sana tanpa menutup kembali pintunya.
"Yelena.."
"Hei bocah..kau di mana?" teriak Vivian di luar sana sambil mengetuk pintu.
Vivian datang bersama Aiden. Namun rumah itu terlihat kosong. Juga tidak ada jawaban. Vivian terus membunyikan bel.
Klak~
Pintu terbuka. Yelena yang sehabis membuka pintu itu langsung berbalik tanpa menyambut mereka. Vivian merasa ada yang aneh dengan sikap Yelena hari itu. Dia mengekor di belakang Yelena.
Namun tiba-tiba Yelena berhenti dan berbalik. Penampilannya terlihat sangat buruk, rambutnya yang kusut bekas di acak-acak nya tadi, juga matanya yang sembab.
"Hei, ada apa denganmu?" tanya Vivian khawatir.
Dia menghampiri Yelena dan membekap wajahnya. Namun Yelena menepis tangan Vivian dengan kasar.
"Kalian semua pembohong~" ucapnya dengan suara serak.
"Yelena.." panggil Vivian yang kemudian mencoba menyentuh pundak Yelena untuk menenangkan nya.
"Jangan menyentuh ku!" teriaknya.
Yelena bangkit dari jongkoknya diikuti oleh Vivian.
"Aku tau semuanya! Aku sudah ingat semuanya!"
"Kalian semua pembohong! kalian tega!" teriaknya didepan Vivian.
"Kenapa? kenapa kalian lakukan itu..kenapa?" suaranya mulai melemah.
"Yelena, ini bukan sep~"
"Apa? apanya yang bukan?"
Aiden gagal melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Kawan-kawan, aku membawa makanannya..wah, kalian berdua tega meninggalkan ku di san~"
"Yohan~"
Ucapannya terhenti karena Yelena yang tiba-tiba memeluknya.
"Mereka semua pembohong, Yohan.."
"Yelena..ini.." Yohan bingung harus berkata apa.
"Mereka tidak ingin melukai mu..mereka malah meminta tolong padaku untuk membantumu mendapatkan kembali ingatanmu."
"Jadi kamu tau? kamu tau?" Yelena melepas pelukannya dan mencengkeram baju Yohan.
"Jawab aku! kamu tau semuanya?"
"Iya.."
"Kenapa kamu tidak mengatakannya saja pada ku? kenapa?" teriaknya.
"Apa kamu percaya? kamu saja tidak dapat mengingat ku. Kamu lebih percaya pada pria itu!" tegasnya yang membuat Yelena terdiam.
...****************...
Yelena masih sesenggukan setelah mendengar semuanya dengan jelas dari mulut Vivian dan Aiden.
"Apa yang selanjutnya akan kamu lakukan? apa kamu mau ikut denganku ke luar negeri?" tanya Yohan.
"Tidak. Aku akan tetap melanjutkan permainan ini. Sampai Sean sendiri yang mengakhirinya.." ucapnya dengan tegas.
"Kalian berdua, aku minta tolong jangan beri tau Sean tentang ingatan ku yang telah pulih.." lanjutnya.
"Sekali lagi maafkan aku Yelena..aku benar-benar tidak bermaksud menyakiti mu," ucap Vivian.
"Tidak. Bagaimana pun juga aku harus tetap berterima kasih kepada kalian berdua. Terima kasih karena telah menjaga dan memperlakukan ku dengan baik selama ini,"
Vivian mulai menitikkan air matanya. Tidak disangka semuanya akan segera berakhir. Seharusnya itu menjadi hal yang baik, karena Yelena tidak dipermainkan lagi. Namun dia merasa sedih karena mungkin dia akan segera berpisah dengan gadis baik seperti Yelena. Dengan teman baik pertamanya. Dia meraih tubuh Yelena dan memeluknya erat.
"Terima kasih.. terima kasih karena tida membenciku."
"Kalian sudah meminta ku berjanji, apapun yang terjadi aku tidak boleh membenci kalian. Apa kalian lupa?"
"Terlebih kamu, Aiden..sejak awal kamu selalu melindungi ku. Terima kasih," lanjut Yelena.
Hari itu dipenuhi oleh air mata. Yelena telah mendapatkan ingatannya kembali. Namun ingatannya saat hilang ingatan masih dapat dia ingat. Itulah yang menyakitkan untuknya.
__ADS_1
Meski begitu bukan berarti hubungan baiknya dengan Vivian dan Aiden hancur. Yelena tidak ingin menghancurkan hubungannya dengan orang-orang yang benar-benar tulus dengannya itu.
'Hanya dia. Aku tidak bisa melepaskannya. Kamu harus membayarnya, Sean!' batinnya.