
Brak!
Suara yang sudah lama tidak Sean dengar, saat ini kembali dia dengar. Ya, suara gebrakan pintu kantornya. Dia memutar kursinya dan menatap orang yang berdiri di depan sana dengan emosi yang siap meledak.
"Apa yang terjadi pada Yelena?"
"Kamu datang jauh-jauh hanya untuk mengatakan itu? Ayolah adikku! kamu pasti sangat lelah setelah melakukan penerbangan selama beberapa jam.. urusi saja dirimu dan pulanglah untuk istirahat!" ujar Sean.
Aiden menutup kembali pintu kantor Sean dan berjalan mendekat ke arahnya, menyanggah tangannya di atas meja Sean dan menatapnya tajam.
"Semalam dia menghubungi ku. Tidak mengatakan apa-apa dan hanya menangis, lalu tiba-tiba memutuskan panggilannya saat aku melakukan panggilan video. Apa hal itu bisa membuatku tenang?"
Sean terdiam.
"Apa kakak telah melakukan hak buruk padanya?"
Sean menghela napas kesal. Kemudian membuka satu kancing atasnya dan melonggarkan dasinya.
"Dasar gadis pengadu itu! aku mulai bosan dengan sikap kekanakannya itu. Apa aku harus membuangnya saja?"
Sean menjentikan jarinya pada pulpen yang ada di mejanya hingga terjatuh.
"Seperti itu.." lanjutnya sembari menatap Aiden dengan wajah tak bersalahnya.
__ADS_1
Benar-benar tidak bisa dimaafkan. Aiden mengepalkan kedua tangannya. Dia melayangkan pukulannya pada Sean, namun dering teleponnya membuat dia menghentikan aksinya.
Panggilan masuk dari Vivian.
Mereka berdua berpencar. Aiden datang ke kantor Sean, sedangkan Vivian datang ke vila yang ditinggali Yelena.
Aiden mengangkat teleponnya, dan dengan sengaja menyalakan loud speaker nya.
'Aiden! Yelena pingsan!'
'Tidak! sepertinya semalam dia tidur di balkon, karna saat aku sampai dia sudah berbaring di balkon dengan balutan selimut nya. Tubuhnya sangat panas saat ini.. kamu cepetan kesini!' ujar Vivian panik dalam teleponnya.
Segera Aiden mematikan teleponnya dan bergegas pergi.
Brak!
Sean melempar vas bunga di mejanya ke pintu. Dia sangat marah saat ini. Marah dengan dirinya sendiri juga dengan kebodohan yang telah dilakukan Yelena.
Dia mencengkeram kepalanya yang seakan ingin meledak itu. Dia menatap pantulan dirinya pada meja kacanya. Benar-benar mengerikan, dia terlihat sangat kacau.
tok tok
Suara ketukan pintu semakin membuatnya kesal, dan pintu pun terbuka. Tanpa melihat siapa yang masuk, Sean membentaknya.
__ADS_1
"Keluar!"
"Sepertinya kamu harus mengambil cuti untuk beberapa hari."
Suara itu membuat Sean menengadahkan kepalanya. Ya, sosok Ibunya yang saat ini berdiri di depan sana.
Gloria Li menatap kekacauan dihadapannya saat memasuki ruangan itu. Pecahan kaca vas bungan yang berhamburan kemana-mana. Dia menghela napas panjang, kemudian berjalan masuk untuk duduk di sofa depan meja kerja Sean.
"Mama kira akan ada reuni kecil-kecilan di sini, karena Mama tadi lihat Aiden naik ke lantai ini saat mama menuju ke ruang recording," ujar Gloria sembari meletakkan tas jinjingnya di atas meja.
"Jadi..ada apa? kamu sedang berselisih dengan adik mu?"
Sean masih tidak ingin membuka mulutnya.
"Apa karena gadis itu?" tebaknya kemudian.
Sean menghela napas panjang kemudian memutar kursinya untuk membelakangi Ibunya.
Gloria sudah menduga hal itu berhubungan dengan gadis yang ada di samping putranya. Dia semakin penasaran dibuatnya, bagaimana rupa gadis itu sehingga bisa membuat kedua anaknya berpihak padanya.
"Mama pikir kamu sudah dewasa, jadi kamu harus bisa menangani masalahmu tanpa harus mempengaruhi pekerjaanmu!"
Gloria beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Mama tidak mau hal seperti ini terjadi lagi," ujarnya sembari menyingkirkan pecahan vas di depan pintu dengan kakinya, kemudian berlalu.