
Bosan. Yelena hanya berbaring di sofa dan memainkan remote TV di tangannya. Sesekali dia menghela napas panjang karena rasa bosan yang membunuhnya.
Dia menatap jam denting di sudut ruangan sebelah sana. Masih jam 1 siang. Seperti biasanya, waktu terasa berjalan sangat lambat karena dia tidak melakukan apa-apa.
Yelena beranjak dan meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Dia mencari nama Sean dalan kontak teleponnya. Namun setelah itu dia mulai dilema. Apakah harus meneleponnya atau tidak. Dia takut Sean akan berkata tidak saat Yelena meminta izin untuk pergi keluar.
Akhirnya dia memilih untuk meletakkan kembali ponselnya. Dia melempar ponselnya ke sofa sebelah tempatnya duduk. Lalu bersandar di tubuh sofa dan memejamkan mata.
'Halo?'
Suara yang tiba-tiba muncul itu membuat Yelena berteriak dan beranjak dari duduknya. Dia melihat sekelilingnya, menatap setiap sudut ruangan rumah itu.
'Halo? Yelena?'
Dia masih belum sadar jika suara itu berasal dari ponselnya. Di ambilnya remote TV di meja dan mengangkatnya seperti sebuah senjata.
"Keluar kamu!" ujarnya.
Sedangkan seseorang di ujung telepon sana, saat ini sedang berada di tengah rapat. Rapat mingguan yang selalu di adakan nya itu.
Para pegawainya menatap Sean diam-diam dalam keheranan saat ini. Mengapa? karena mengangkat telepon di tengah berjalannya rapat bukanlah kebiasaannya.
"Yelena? apa kamu masih di sana? apa kamu baik-baik saja?" tanyanya dalam sambungan telepon.
Yelena menurunkan tangannya, kemudian berjalan mendekat ke sofa dan membalik ponselnya yang tengkurap.
Betapa kagetnya dia saat melihat ponselnya sedang terhubung dalam sebuah panggilan. Dia mencoba mengingat-ingat kembali, apa tadi dia sempat memencet tombol telepon atau tidak.
__ADS_1
Namun akhirnya dia tetap tidak menemukan jawabannya. Dia benar-benar lupa.
"Iy- iya, halo Sean.." jawabnya sambil terbata.
Terdengar suara helaan napas panjang dari ujung sana.
"Ma- maaf..aku kira tadi suara hantu," ucap Yelena dengan lemah.
Di tempat nya berada saat ini, Sean membuat semua orang yang duduk di depannya merasa merinding. Si kaku yang tak pernah menunjukkan setidaknya seringaian, saat ini sedang tersenyum tipis.
Mereka semua penasaran siapa bidadari yang telah mampu membuat bos mereka menarik ujung bibirnya itu.
"Jadi ada apa?" tanya Sean.
'Mm.. nggak, mungkin tadi kepencet.'
Yelena terdiam. Sepertinya sudah terlambat untuk membuat alasan.
'Katakan..' ucap Sean.
'Apa aku boleh keluar untuk jalan-jalan?' tanyanya dengan cepat sambil memejamkan mata.
'Kemana?'
Yelena membuka matanya. Jawaban Sean saat ini menunjukkan tanda-tanda baik.
'Entahlah, aku masih belum memikirkannya,' jawab Yelena.
__ADS_1
'Baiklah, aku akan menghubungi Pak Daus untuk mengantar mu.'
'Benarkah? jadi aku boleh keluar?' tanya Yelena dengan antusias.
'Hmm~'
'Terima kasih.. aku akan memasak makanan yang enak malam ini,'
'Ya, terserah.'
tuutt...
Panggilan terputus. Yelena sangat girang dan segera dia berlari ke kamarnya untuk bersiap.
......................
Sean meletakkan ponselnya kembali dan menatap para pegawainya yang menyembunyikan senyum mereka.
Dia mulai mengaktifkan mode gunung es. Tatapan tajam mulai dia perlihatkan yang membuat para bawahannya menunduk.
"Rapat kali ini sampai di sini saja, terima kasih."
Sean meninggalkan ruang rapatnya. Dia merogoh kembali ponsel yang telah dia masukkan ke kantong bajunya. Kemudian membuat sebuah panggilan.
"Ikuti wanita itu dan laporkan padaku jika ada hal yang mencurigakan,"
BERSAMBUNG...
__ADS_1