Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Tanggal Pertunangan


__ADS_3

Jumpsuit pendek biru tua dengan dalaman baju warna putih berlengan panjang balon itu sukses membuat Sean melongo.


Sean yang ada di dalam mobil itu keluar dan menatap Yelena dari atas hingga ke bawah, dan sebalik nya. Kemudian menatap baju yang ia sendiri kenakan. Celana jeans dengan kemeja putih.


"Jadi ini couple?" tanya Sean.


Yelena tersenyum tipis.


Kemudian Sean memegang kedua pundak Yelena dan memutar tubuhnya perlahan. Tas selempang putih yang tampak sederhana dan sepatu kets dengan warna yang sama. Benda-benda yang tampak asing itu membuat Sean mengerutkan kening.


"Ada apa?" tanya Yelena.


"Aku tidak pernah memberimu pakaian dan aksesoris seperti ini.." ujar Sean.


"Aku baru membelinya kemarin," ujar Yelena.


"Apa kamu secara khusus membeli baju itu?" tanya Sean sembari melirik sejenak baju Yelena.


"Ya. Semua bajuku terlalu mewah untuk dipakai bermain di taman hiburan..jadi aku membeli yang terlihat sederhana," jawab Yelena.


Sean mengingat kembali, semua pakaian dan aksesoris yang di berikan kepada Yelena adalah selera Allesa. Glamor dan mewah.

__ADS_1


Dia memegang rambut Yelena yang di kepang dua.


'Penampilan nya seperti gadis kecil, sangat imut..' batinnya.


"Tapi aku lebih suka jika rambut mu di urai.." ujar Sean sembari melepas kepangan rambut Yelena.


Yelena hanya diam patuh saat kepangan rambut yang telah dia kerjakan selama setengah jam itu di hancurkan.


Deg!


Sean membelalakkan matanya. Rambut bergelombang itu. Sangat-sangat mirip, lebih mirip daripada saat rambutnya lurus. Ya, karena rambut Allesa bergelombang.


"Kamu lebih cocok dengan rambut bergelombang.." ujar Sean.


Sean mengangguk puas. Dia mengecup kening Yelena, kemudian menuntunnya untuk masuk ke dalam mobil.


Mobil pun melaju. Sepanjang perjalanan Sean menggenggam tangan Yelena dan sesekali menatapnya dengan senyuman di wajahnya. Senyuman yang jarang dan hampir tidak pernah dia tunjukkan.


Yelena menghela napas lega. Bersyukur dengan perlakuan Sean yang semakin hari semakin lembut terhadapnya.


"Sean?" seru Yelena.

__ADS_1


"Hm?" sahutnya.


"Sean, ini sudah setahun lebih sejak aku kehilangan ingatan. Aku tidak tau kapan tanggal pertunangan kita, dan sudah berapa tahun sejak kita sudah resmi menjadi sepasang tunangan.."


Yelena mencoba menanyakan hal yang selalu mengganjal di hati dan kepalanya. Selagi Sean dapat diajak bicara, dia harus menanyakannya.


Sean menoleh sejenak, kemudian kembali fokus pada kemudinya. Dia tidak menjawab. Yelena menatapnya dengan tuntutan untuk menjawab.


Sean menghela napas pasrah.


"5 Oktober.." jawabnya.


Tidak salah. 5 Oktober adalah tanggal pertunangannya dengan Allesa. Pertunangan yang batal di lakukan 4 tahun yang lalu.


"5 Oktober? berarti sudah lewat.." ujar Yelena dengan kecewa.


Yelena menatap layar ponselnya yang menyala. 25 Oktober, tanggal yang tertera di dalam sana. Berarti sudah terlewat 20 hari, batinnya.


Sean menatap wajah kecewa Yelena. Kemudian tersenyum kecut. Mungkin dia hampir merasakan perasaan yang sama dengan Sean. Kekecewaan.


Hari yang tidak ingin dia ingat kembali. Tanggal yang selalu dia benci. Namun penantiannya tidak akan pernah berhenti. Sampai Allesa kembali dengan penjelasan atas semua yang telah terjadi.

__ADS_1


"Itu hanya sebuah tanggal pertunangan. Jangan terlalu memikirkannya. Masih ada tanggal lain yang harus kamu ingat nanti. Tanggal pernikahan kita.." ujar Sean sembari membelai rambut Yelena.


Pernikahan? Omong kosong!


__ADS_2