
18.30 ~
Jam digital yang berdiri di meja .
Yelena yang ketiduran di sore tadi baru saja bangun. Petir di luar sana menyambar dengan keras. Hujan deras telah turun entah sejak kapan.
Yelena membuka separuh pintu balkon. Di bawah sana rumput taman telah tenggelam oleh air.
"Apa Sean belum pulang?" gumamnya khawatir.
Dia keluar kamar dan memeriksa apakah sosok yang dikhawatirkan sudah pulang atau belum. Setapak demi setapak dia menuruni anak tangga.
Sepi. Rumah besar itu hanya terlihat perabotannya saja. Tidak ada orang.
Dia membuka pintu depan, dan angin kencang pun sukses menerpa wajahnya, membuatnya memalingkan wajah.
Segera dia menutupnya kembali.
Bibi juga tidak terlihat dimana pun. Yelena tidak ingin merepotkan Bibi, jadi dia kembali begitu saja ke kamarnya.
Yelena menarik gagang pintu, hendak membukanya. Namun tiba-tiba rasa penasaran menghampirinya. Rasa penasaran akan kamar Sean.
Di lantai atas sana hanya ada empat pintu. Dia menebak-nebak, dari ketiga kamar lainnya itu manakah yang merupakan kamar Sean. Dia menatap pintu kamar diujung sana, jauh berseberangan dengan kamarnya.
Dengan yakin dia menghampiri kamar itu. Dia mencoba membuka pintunya.
__ADS_1
Tidak dikunci.
Dia membuka pintu lebih lebar lagi dan masuk. Jika dekorasi kamarnya serba putih, maka kali ini dekorasi kamar Sean serba coklat. Yelena duduk di atas ranjang. Matanya mulai berpetualang, mencari sesuatu yang menarik di dalam sana.
Ketemu.
Sebuah bingkai foto di atas meja kerjanya. Yelena berdiri dan mendekatinya. Ditatapnya foto itu dengan heran.
Di ambilnya bingkai foto itu dan berjalan ke depan cermin. Dia bercermin kemudian menatap foto itu. Berulang kali dia melakukannya.
"Apa ini aku?" gumamnya.
Dia menyentuh wajahnya. Menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Melihat kedua sisi wajahnya. Kemudian menyentuh balutan kain kasa yang melingkari kepalanya.
Yelena mengamati foto itu lagi. Dia mulai mengerutkan keningnya.
"Apa yang membuatnya terlihat begitu bahagia?" lirihnya.
Dalam foto itu Sean merangkul pundak sosok wanita di sampingnya, dan menatapnya dengan tatapan penuh kasih sayang. Juga senyum penuh warna di wajahnya.
Kita semua tahu jika itu bukan Yelena, melainkan Allesa.
Yelena meletakkan kembali foto itu pada tempatnya saat sebuah pikiran terlintas di kepalanya. Kemudian segera kembali ke kamarnya.
Walk-in closet menjadi sasarannya. Dia mencari-cari sesuatu di dalam sana. Tidak ada. Dia mencoba mengingat dimana dia meletakkannya.
__ADS_1
Namun Yelena bukanlah dia. Tunangan Sean. Mengingat pun percuma, karena dia bukanlah pemilik sesungguhnya.
Dia duduk di kursi yang ada di sana. Lelah mencari barang yang tak kunjung ketemu.
Bruk~
Sesuatu menimpanya daei belakang. Dia yang kaget pun langsung beranjak dari duduknya, dan dengan setengah berlari dia menjauh.
"Ya ampun..." serunya sambil tersenyum kikuk.
Sebuah manekin dengan baju yang di carinya. Knee length dress dengan motif floral. Dia tersenyum ceria dan segera melepas baju itu dari patung manekin.
Gaun itu terlihat sangat anggun. Yelena tidak sabar untuk memakainya.
Dia berputar di depan kaca besarnya.
"Sean pasti senang. Syukurlah aku menemukan sedikit petunjuk," gumamnya dengan sangat senang.
Dia menatap jam dinding. Sudah hampir jam 8 malam. Hujan tak kunjung berhenti, begitu pun juga dengan Sean yang tak kunjung kembali.
Yelena merasa bosan.
Dengan baju yang dikenakannya itu, dia turun ke bawah menuju dapur.
BERSAMBUNG...
__ADS_1