Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Taman


__ADS_3

Setengah jam telah berlalu sejak sambungan telepon itu terputus. Namun Yelena masih belum juga keluar dari walk-in closet nya.


Dia duduk berselonjor di lantai sambil menghela napas panjang. Tidak ada satupun baju santai di dalam lemarinya. Semuanya terlihat mencolok.


Dia melihat baju yang dia kenakan saat ini. Midi dress oblong berwarna peach dengan motif bunga berwarna merah.


"Bahkan baju rumahan saja semewah ini," gumamnya.


"Apa aku memang se glamor ini?"


Dia kembali berdiri dan meraih skinny jeans dari lemari, kemudian memakainya. Dia mencoba memasukkan midi dress nya ke dalam jeans.


Jelek.


Dia berjalan ke lemari tempat tank top berada. Dia mengerutkan keningnya miris. Semua tank top itu crop. Dia mengusap perutnya.


"Bagian ini akan terlihat.." gumamnya.


Terpaksa dia memakainya. Tank top crop berwarna putih.


Dia membiarkan rambutnya terurai, kemudian menyambar flatshoes dan tas selempang nya untuk segera keluar.


Klak~


Dia mengendap-endap masuk kedalam kamar Sean. Setelah mendapat apa yang dia inginkan, Yelena segera keluar seakan tidak terjadi apa-apa.


Ya, dia mengambil kemeja putih milik Sean.


Dia makainya. Kemeja itu terlihat sangat kebesaran di tubuhnya yang mungil. Dia membiarkan kancingnya tetap terbuka dan menggulung lengannya hingga di bawah siku.

__ADS_1


"Sempurna.." gumamnya bangga dengan karyanya.


Pak Daus sudah siap dengan mobilnya saat Yelena keluar. Segera dia masuk ke dalam mobil, dan Pak Daus melajukan mobilnya.


Dia menyandarkan tubuhnya di bangku mobil. Rasa tak sabar melihat dunia luar memenuhi hatinya yang gembira.


"Kita mau kemana Non?" tanya Pak Daus.


"Entahlah, saya tidak tau banyak tempat di sekitar sini kecuali supermarket dan pasar," ujar Yelena.


"Ada taman bermain yang baru di bangun di sekitar sini, tempatnya lumayan luas. Apakah Nona mau ke sana?" tawar Pak Daus.


"Kelihatannya seru. Boleh deh Pak,"


Yelena menyunggingkan senyumnya menatap Pak Daus dari spion, begitupun juga dengan beliau.


......................


Dia berhenti di salah satu pohon besar rindang, dan duduk berselonjor di bawahnya. Dia menyandarkan kepalanya dia tubuh pohon.


Danau buatan di depan sana terlihat berkilauan karena pantulan sinar sang surya. Membuat matanya terasa silau. Namun melihat air yang tenang itu membuatnya juga merasa tenang.


Sayangnya dia sedang sendiri. Andai ada seseorang yang menemaninya untuk mengobrol. Dia mengusap layar ponselnya. Menghubungi Sean pastinya tidak mungkin.


Aiden. Sebuah nama yang muncul di pikirannya.


"Tapi apakah dia tidak sibuk?" gumamnya.


Beberapa bulan yang lalu dia di promosikan sebagai direktur. Meskipun dia putra dari pemilik perusahaan, namun untuk masalah kerja dia tidak ingin di pandang seperti itu. Dia memulai karirnya dari bawah.

__ADS_1


Dia sempat bercerita pada Yelena bawah dia memulainya dari staf biasa. Ibunya, Gloria Li tidak masalah akan hal itu.


Saat ini dia berada di luar negeri, dan negara itu tempat Vivian Mulya berada.


"Ternyata ini tetap membosankan.." gerutunya.


Akhirnya dia memilih untuk menghubungi Aiden.


'Hei?'


'Hei..'


Dia melakukan panggilan video.


'Halo Yelena...'


Wajah tak asing muncul di layarnya. Seorang wanita dengan paras yang menawan.


'Aku Vivian, kekasihnya Aiden..pasti Aiden sudah pernah menceritakan padamu tentangku.'


'Wah, ternyata kamu lebih cantik ya..' ujarnya kemudian.


'Hei, jangan membuatnya bingung!' tegur Aiden.


Satu orang lagi yang masuk kedalam lubang kebohongan itu. Vivian. Aiden telah menceritakan semuanya pada Vivian.


'Beberapa hari lagi aku akan ikut Aiden pulang ke dalam negeri. Saat itu tiba, mari kita jalan-jalan bersama..' ucap Vivian dengan ramah.


'Baiklah..aku akan menunggu hari itu.'

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2