Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Wahana


__ADS_3

Berdiri di depan pintu masuk taman hiburan dan menatap kagum beraneka macam wahana yang ada di dalam sana. Itulah yang di lakukan Yelena saat ini.


Perlahan Sean mendekat dari belakang sana, kemudian memberikan back hug pada Yelena. Yelena menjingkat kaget, karena pelukan tiba-tiba itu.


"Sean~ banyak orang yang melihat.." seru Yelena.


"Biar saja, biar mereka tau kalau kamu milikku. Rasanya aku ingin mencongkel mata pria yang sedang menatapmu!" bisik nya di telinga Yelena.


Yelena melepas paksa pelukan Sean, kemudian menggamit tangannya untuk masuk kedalam sana.


Tiket sudah mereka beli. Yelena menatap bahagia tiket gelang yang ia kenakan. Kemudian menatap Sean dengan senyum lebar di wajahnya.


"Wahana apa yang ingin kamu coba pertama kali?" tanya Sean.


Yelena menunjuk ke arah komedi putar. Sean mengikuti arah jari Yelena, wahana itu di penuhi oleh anak-anak. Tidak ada seorangpun orang dewasa yang menaiki wahana itu. Dia mengerutkan keningnya merasa ragu.


Yelena menarik tangan Sean antusias. Dengan perasaan terpaksa Sean mengikutinya dengan malas. Untuk pertama kali dalam 28 tahun masa hidupnya dia datang ke tempat seperti ini dan memainkan wahana anak-anak.


Sejak kecil dia paling tidak menyukai taman hiburan. Karena menurutnya tempat itu sangat berisik. Jadi dia lebih memilih di luar loket untuk menunggu Aiden dan kedua orang tuanya kembali.


"Kamu pernah naik wahana ini sebelumnya?" tanya Yelena.


Sean menggeleng.


"Maka kamu harus mencobanya bersama ku!" ujar Yelena menarik paksa tangan Sean untuk menaiki wahana itu.

__ADS_1


"Aishh~ gadis ini sangat menyebalkan!" gerutu nya di belakang sana.


Yelena tersenyum ceria saat wahana itu mulai berputar. Dia membentangkan kedua tangannya seolah terbang di atas awan.


"Pegangan! aku tidak akan menolong mu jika jatuh!" seru Sean.


Yelena terkekeh pelan.


Sean menatap senyum ceria yang hampir tidak pernah dia lihat di wajah Yelena. Perlahan, ujung bibirnya mulai naik. Dia tersenyum.


"Seru kan?" ujar Yelena.


"Ehemm~" Sean berdehem pelan dan secepat kilat merubah ekspresi wajahnya kembali menjadi poker face.


................


Yelena duduk bersandar di bawah pohon rindang. Dia menatap langit sore yang hampir gelap itu. Hembusan angin menerpa wajahnya, membuat rambut terurai nya menari.


"Kenapa duduk di sini? di sini kotor! aku tadi menyuruhmu untuk duduk di bangunan sana.." ujar Sean yang datang dengan sekantung makanan dan minuman.


Yelena tersenyum tipis dan menepuk tempat kosong di sebelahnya. Sean menatap tempat kosong itu.


"Ck!" decaknya.


Dia mengeluarkan makanan dan minuman dari kantung kereseknya, kemudian meletakkannya di atas pangkuan Yelena.

__ADS_1


"Apa-apaan itu?" Yelena tertawa ringan saat melihat aksi konyol Sean.


Kantung keresek bekas makanan tadi dia gunakan untuk alas duduknya.


"Lebih baik makan saja makananmu!" ujar Sean.


Yelena menatap makanan yang ada di pangkuannya. Dia mengambil satu roti dengan rasa kesukaannya, krim blueberry.


"Kamu gak makan?" tanyanya pada Sean.


"Tidak."


Yelena mengembungkan pipinya dan mengangguk. Kemudian mulai memakan rotinya. Dia menyelonjorkan kakinya dan menghentakkan nya perlahan. Persis seperti anak kecil.


Ternyata masih banyak sisi lain dari Yelena yang tidak Sean ketahui. Salah satunya.. sisinya yang seperti anak kecil ini.


"Dasar.." gumam Sean dengan senyum kecilnya.


"Kenapa?" tanya Yelena dengan mulutnya yang penuh dengan roti.


"Kalo mau ngomong di telan dulu.." ujar Sean sembari menekan kedua pipi Yelena dengan satu tangannya.


"Persis seperti seekor babi."


Sean tertawa. Kali ini dia tidak menyembunyikannya. Yelena tercengang, sampai-sampai dia tidak dapat mengunyah ataupun menelan rotinya.

__ADS_1


Dia ikut menyunggingkan senyumnya dengan mulut balonnya itu. Sean menarik kembali tangannya kemudian mengacak-acak rambut Yelena.


"Sudah, cepat habiskan.." ujarnya sembari membuka segel tutup bolot air mineral.


__ADS_2