
Barang tiruan?
Yelena memandang wanita itu dengan aneh. Semakin dia melihat, semakin dia merasa bahwa mereka memang sedikit indentik. Bagian mata yang paling jelas.
Entah apa yang mereka berdua bicarakan di depan sana. Sean tampak memandangnya dengan serius, sedangkan wanita itu terus melemparkan senyumnya.
"Yelena? kamu baik-baik saja?" tanya Aiden.
Baik-baik saja? Hal itu tidaklah mungkin. Yelena lebih memilih pura-pura menipu diri sendiri dari pada harus merusak kedamaian.
Dia mengangguk sembari tersenyum penuh keyakinan. Vivian datang menghampiri, tersenyum kecut ke arah Aiden kemudian mengusap pelan punggung Yelena.
Mereka berdua juga sama terkejutnya dengan tamu yang tak di undang itu. Bisa-bisanya wanita tak tahu malu itu datang di saat seperti ini. Mereka berdua tidak tahu apa yang harus di lakukan. Yang dapat mereka lakukan hanyalah diam, selagi Yelena tidak mengatakan apapun.
Gloria masih belum mengetahui hal itu. Entah bagaimana reaksinya saat mengetahui wanita tak diundang itu datang.
"Jadi itu Allesa?" tanya Yelena.
Vivian dan Aiden saling menatap.
"Iya.." jawab Aiden.
"Apa boleh jika aku menghampirinya?" ujarnya tiba-tiba.
Aiden benar-benar menganggap Yelena sebagai bagian dari keluarganya sendiri. Bagaimana pun juga dia tidak ingin Yelena terluka. Tapi sekarang wanita itu muncul seperti jelangkung. Semuanya ada di tangan Sean saat ini, dia yang memegang kendalinya.
__ADS_1
"Kamu adalah tunangannya.." ujar Aiden dengan berat. Dia hanya dapat pasrah dan menyerahkan semuanya di tangan Sean.
Yelena menatap dirinya di pantulan kaca gelap sebelah sana. Rambut itu, entah mengapa dia merasa mulai membenci rambutnya. Juga kalung yang melingkar di lehernya.
Dia mengangkat tangannya, menggenggam erat kalung itu. Sejenak dia memejamkan matanya, lalu menarik dengan kuat kalung itu hingga terlepas dari lehernya.
Dia menggenggam erat kalung itu. Lalu memasukkannya ke dalam saku blazer dan menukarnya dengan sesuatu yang lain di dalam sana. Kalung identitas nya. Ya, seharusnya dia tidak melepas barang keramat yang selalu terpasang di lehernya selama 25 tahun itu. Dia memasang kembali kalung miliknya sendiri. Tidak lupa dia meringkas rambutnya dan menyanggulnya.
Setelah mempersiapkan diri dengan matang, dia berjalan menuju Sean dan wanita itu. Bagaimana pun tetap saja wanita itu hanyalah tamu perjamuan acara hari ini, meskipun tidak di undang. Yelena pikir statusnya lebih berpengaruh di sana.
"Sean~" lirihnya.
Sean menoleh. Dia hampir terkejut saat melihat penampilan Yelena yang berubah. Lalu kalung itu...
Sean memalingkan wajahnya sejenak. Allesa mengenakan kalung yang sama. Dan saat ini Yelena telah melepas miliknya.
Dan tentunya banyak mata yang lebih fokus melihat ke arah Yelena. Wanita yang sempat di gandeng Sean itu kini terlihat sangat kaku setelah wanita lainnya datang. Mereka seperti sedang menunggu pertunjukan bagus dari pemandangan itu.
Sekuat hati Yelena mengendalikan emosinya. Dia berjalan melewati Sean, lalu dengan senyum sopan nya dia menghadap Allesa.
"Halo?" sapa nya dengan ramah.
Allesa juga tersenyum, lalu membalas sapaan Yelena.
"Halo~"
__ADS_1
Yelena mengulurkan tangannya, masih dengan senyum profesional nya.
"Yelena.."
Allesa menatap uluran tangan Yelena tanpa ekspresi, lalu menatap Yelena dengan tatapan yang sama.
'Dia pikir dia siapa!?' batin Allesa saat itu.
Dia melirik sejenak kearah Sean. Lalu menerima uluran tangan Yelena dengan senyum palsunya.
"Allesa.." ujarnya.
"Jadi, siapa wanita ini Sean?"
Deg!
Yelena membelalakkan matanya kaget. Pertanyaan itu yang seharusnya dia tanyakan kepada Sean. Dia yang seharusnya bertanya, bukan wanita itu. Dia tidak dapat mengatakannya karena menghargai Sean, dia tidak akan bertanya sebelum Sean mengatakannya sendiri. Namun wanita itu dengan mudahnya mengatakan hal itu seolah dia memiliki hak.
Yelena menoleh, namun dia sedikit kecewa. Ekspresi tak berdaya Sean saat ini seolah dia tidak dapat menjawab pertanyaan yang sudah jelas jawabannya itu.
'Ya, aku adalah tunangan mu. Jawab seperti itu Sean, katakan kalau aku adalah wanita mu!' Yelena menatap Sean dengan pikiran seperti itu.
"Selamat malam para tamu yang kami hormati.."
Microphone itu berbunyi di saat yang tepat. Sean menghela napas leganya. Namun siapa sangka yang menyelamatkannya adalah Ibunya sendiri.
__ADS_1
Gloria menggenggam erat microphone yang ada di tangannya. Dia tak berdaya menatap pemandangan menyakitkan yang ada di depan sana.
"Mari kita panggil bintang kita malam ini untuk meniup lilinnya.." ujarnya dengan suara parau menahan tangisnya.