
"Arghh!! dasar pria tua menyebalkan itu!"
Begitu Sean keluar dari pintu rumah, Vivian masuk ke dalam. Rumah yang baru saja sepi itu kembali berisik karena suara teriakan Vivian.
"Ada apa denganmu!?" tanya Yelena kaget karena sosok yang tiba-tiba muncul itu dengan teriakannya
"Pria itu tidak pernah berubah!" gerutunya sembari berjalan ke arah kulkas, mengambil sekaleng soda dan meminumnya dengan kesal.
Yelena tertawa ringan kemudian menghampiri Vivian dan duduk di meja makan. Tangannya mulai sibuk dengan mangkuk dan centong sup nya. Dia menyendok beberapa bagian sup nya ke mangkok kecil.
"Kamu sudah sarapan? mau sarapan bareng aku?" tanya Yelena.
Vivian melirik ke arah meja makan.
"Wah~ sup ayam.. itu kesukaan ku!" ujarnya yang kemudian duduk di depan Yelena.
Yelena tertawa melihat sisi kekanakan Vivian saat melihat makanan kesukaannya. Dia menyodorkan mangkuk kecil berisi sup itu kepada Vivian.
"Silahkan.." ujarnya.
"Kamu buat sendiri?" tanya Vivian sembari menerima mangkuk pemberian Yelena.
Yelena mengangguk.
Mata Vivian mulai berbinar setelah memakannya sesendok, seakan berkata, 'ini adalah sup ayam terenak yang pernah ku makan'.
Tanpa memakan banyak waktu, semangkuk sup nya telah habis. Vivian menyandarkan tubuhnya pada bahu kursi sembari mengelus perutnya yang sudah kenyang.
__ADS_1
"Ayo berangkat.." ujar Vivian yang langsung bangkit dari duduknya.
"Sekarang?" tanya Yelena heran.
Vivian mengangguk sebagai jawaban.
"Sebentar, aku mau bereskan ini dulu dan ganti baju.." ujar Yelena.
Vivian menatap Yelena dari atas ke bawah dan sebaliknya. Kemudian mengerutkan keningnya dengan ekspresi aneh.
Celana jeans dengan baju atasan piyama yang di beri blazer. Ya, itu adalah baju versi buru-buru nya semalam saat menjemput Sean. Pagi ini pun dia masih belum sempat mengganti bajunya.
Vivian menggeleng tak percaya. Kemudian mengibaskan tangannya untuk mengisyaratkan Yelena agar segera berganti baju.
"Bagaimana mana bisa kamu memakai baju aneh seperti itu.." gumamnya.
"Aishh...apakah kamu perlu menanyakan hal itu?" ujar Vivian yang lagi-lagi membuat Yelena terkekeh.
...****************...
Tujuan mereka hari ini adalah mall. Vivian menggandeng tangan Yelena sepanjang perjalanan mereka menyusuri isi mall.
Banyak benda-benda yang menarik perhatian Yelena.
"Kamu bawa senjata kita hari ini?" tanya Vivian.
Yelena merogoh tasnya dan mengeluarkan dompet dari dalam sana. Dari dalam dompet, dia mengeluarkan kartu hitamnya pemberian dari Sean.
__ADS_1
"Ini?" tanyanya yang mendapat anggukan dari Vivian.
"Apakah benar-benar tak apa?" tanya Yelena dengan ragu.
"Kartu itu sekarang ada di tanganmu, berarti itu milikmu!" jawab Vivian.
"Sebentar.." ujar Vivian kemudian sembari mengentak hentakkan kakinya pelan. Dia menyilangkan kakinya dengan tidak nyaman.
"Kaki kamu sakit?" tanya Yelena khawatir.
Vivian menghela napas panjang.
"Aku ingin buang air kecil.." jawabnya yang membuat Yelena terkekeh.
"Cepat sana, aku akan menunggumu di sini.."
Vivian langsung melesat pergi setelah mendapat persetujuan Yelena.
"Aku akan segera kembali," ujarnya yang sudah ada di depan sana.
Yelena duduk di bangku yang tersedia di setiap sudut mall itu. Dia menatap orang-orang yang berlalu lalang di hadapannya. Kemudian dia menundukkan kepalanya dan tersenyum bahagia karena akhirnya dia bisa bermain dengan wanita sebayanya.
"Wah...wah.. siapa ini?"
Yelena mengangkat kepalanya karena merasa wanita yang berhenti didepannya itu sedang berbicara dengannya.
Yelena membelalakkan matanya melihat wanita itu.
__ADS_1
"Wanita ini..." gumamnya.