
Sesuai dengan keputusan yang telah mereka buat hari itu, Bibi kembali ke kediaman keluarga Li. Mereka hanya tinggal berdua saat ini.
Semua tugas rumah dan memasak menjadi tugas Yelena. Setiap pagi Yelena memasak sarapan untuk Sean. Tak terlewat juga makan malam. Sean selalu pulang ke rumah tepat waktu. Dan mereka pun selalu makan malam bersama.
Lama-lama cerita itu mengalir dengan sendirinya. Tanpa di rencanakan. Tak terasa satu tahun sudah berjalan.
Yang tak berubah dari Sean, dia tetap bersikap dingin. Memang itu ciri khasnya. Namun Yelena tetap bersyukur karena dia sudah tidak menghindari tatapannya.
Satu hal yang perlu disayangkan. Sekalipun Sean tidak pernah mengajaknya keluar. Berlibur ataupun hanya sekedar menonton dan makan malam diluar. Dia juga ingin merasakan kesenangan sederhana itu. Namun sayangnya hal itu sangat sulit dan hampir menjadi kata mustahil.
tok tok..
Lima belas menit setelah Sean selesai sarapan, Yelena selalu menghampiri kamarnya.
Hari itu, setelah kejadian yang memalukan di tahun kemarin, dia mendapat izin untuk membantunya bersiap berangkat kerja. Menyiapkan setelan jas yang akan dikenakan nya, juga mencocokkan dasi dengan setelan hari itu.
Yelena menumpuk setelan yang telah dipilihnya di atas ranjang. Kemudian mencari dasi yang cocok untuk setelan itu sambil menunggu Sean keluar kamar mandi.
__ADS_1
Menghindari kejadian memalukan saat itu terulang kembali, setelah keluar kamar mandi Sean mengenakan baju dan setidaknya celana pendek.
Yelena membantu mengikat dasi setelah Sean memakai setelannya. Kemudian bertanya,
"Apa nanti kamu makan malam di rumah?"
"Hm~" seru Sean dengan ringan.
Yelena kembali fokus dengan simpul yang dibuatnya, kemudian mendongak menatap Sean dan tersenyum padanya.
Meskipun tahu jika akhirnya selalu di acuhkan, Yelena tetap mengucapkan kalimat yang manis untuk Sean setiap ada kesempatan.
"Ok," Sean menanggapi dengan dingin dan berbalik untuk pergi.
Yelena melihat punggung Sean yang perlahan mulai menjauh, tetapi tidak merasakan apa-apa. Awalnya dia merasa sakit di dadanya. Hingga akhirnya dia mulai terbiasa dengan ketidakpedulian pria itu.
Memang benar semuanya berjalan dengan lancar hingga saat ini. Yelena juga sudah tidak terlalu memikirkan ingatannya yang belum juga kembali.
__ADS_1
Dia menjalani harinya dengan apa adanya. Membuat kenangan dan cerita baru dengan ingatannya saat ini.
Namun juga lama-kelamaan dia mulai bosan. Bosan dengan dirinya yang tidak melakukan apa-apa. Dia ingin bekerja, setidaknya pekerjaan yang ringan. Setelah Sean berangkat, dia hanya berbaring di sofa dan menonton acara TV. Karena semua pekerjaannya telah selesai.
"Rasanya seperti di kurung," gumamnya.
"Seperti bukan tunangannya.. tapi peliharaannya,"
Pada awalnya, pikiran seperti Sean masih menyukainya atau tidak selalu menghantuinya. Karena Sean selalu menunjukkan sikap yang membuatnya tidak nyaman.
Namun kemudian setelah dia menghabiskan waktu yang lama untuk bersama, secara bertahap dia mulai yakin dan lega. Karena karakter nya memang seperti itu. Seperti gunung es.
Dia menunggu waktu untuk gunung es itu mencair. Namun selama ini dia masih tidak dapat menaklukkan dan membuat gunung es itu mencair. Bukan menyerah atau pasrah. Meskipun gunung es itu tidak mencair, dia sudah merasa cukup. Merasa cukup dengan status yang dimilikinya saat ini. Yaitu sebagai tunangannya.
Namun kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Apa kebahagiaannya masih bisa bertahan dan berlanjut?
BERSAMBUNG...
__ADS_1