
Sean meletakkan tubuh Allesa di ranjangnya dengan perlahan. Kemudian langsung berbalik begitu saja tanpa berkata-kata. Namun Allesa menahan lengannya.
"Jangan pergi.."
Sean menggenggam pergelangan tangan Allesa, kemudian melepas dari tangannya. Namun sekali lagi Allesa menariknya.
"Kamu nggak dengerin ucapan Aiden kan?" tanyanya.
"Aku mencintaimu, Sean.." ucapnya kemudian.
Sean masih tidak menunjukkan reaksi apapun. Dia terdiam.
"Sean? kau mendengarkan ku kan?"
Allesa meraih wajah Sean. Dia bisa meraihnya tapi tidak untuk pandangannya. Sean tidak menatap Allesa.
Allesa mendekat untuk mencium Sean. Namun Sean menghempas tubuh Allesa. Dia bangkit dari duduknya dengan emosi yang ditahannya.
"Jangan memaksa ku untuk berbuat kasar terhadap mu!" tegasnya lalu segera keluar dari sana.
Brak!
Dia membanting pintu mobilnya. Lalu memukul stang mobilnya beberapa kali.
"Sial!"
Dulu dia menatap Yelena sebagai Allesa. Namun saat ini dia menatap Allesa sebagai Yelena. Dia mengusap kepalanya dengan frustasi.
Dan sekali lagi dia dibuat kesal dengan ponselnya yang terus berbunyi.
'Halo, Tuan?'
'Saya di kediaman anda saat ini..'
__ADS_1
'Bersama tawanan kita.'
tuutt~
Sean mematikan panggilannya dan melempar ponselnya ke bangku sebelah. Lalu mulai bergegas untuk menancap gas nya.
"Aku akan membunuh dalang di baliknya!" gumamnya.
...****************...
Sean turun dari mobilnya dengan segera. Dia tidak sabar untuk menghajar tawanannya. Belum sampai di depan pintu rumahnya, dia menghentikan langkahnya saat melihat dua orang yang berdiri di sana.
Dia kaget melihat pria yang ada di genggaman Xenon itu. Dia mengepalkan tangannya dengan kuat. Rahangnya juga terlihat mulai mengeras. Dengan tatapan penuh amarah dia berjalan ke arah mereka.
Bugh!
"Kau mantan supir Allesa kan!?" bentaknya.
"Kau yang telah membunuh Yelena!"
Sean mencengkeram baju pria itu. Kemudian menyeretnya ke belakang rumah. Dia menghempaskan tubuh pria itu ke tanah, kemudian meraih cangkul yang tergeletak di sana.
"Jika kau mati di sini apa ada yang mencari mu!?" ancam Sean dengan cangkul yang ada di tangannya.
Pria itu masih terdiam dengan senyum yang membuat Sean semakin ingin membunuhnya. Sean menggenggam erat gagang cangkul. Dia mencoba untuk menahan emosinya yang sedikit lagi akan meledak.
"Arghh!" dia mengangkat cangkulnya dan melayangkannya ke kaki pria itu. Seperti seorang psikopat pria itu tertawa.
Sekali lagi Sean melakukannya. Tawa pria itu membuat Sean semakin ingin menghabisinya. Kali ini dia benar-benar telah di buat kehilangan akal. Untuk yang terakhir kalinya dia telah bertekad untuk memukul kepala pria itu.
"Sean!" suara teriakan itu membuat Sean yang telah mengangkat cangkulnya itu menghentikan aksinya.
"Apa kau sudah gila!? apa kau ingin berakhir di penjara!?" bentak Aiden yang berjalan menghampiri Sean.
__ADS_1
Sean melempar cangkulnya ke sembarang arah. Lalu mendekati Aiden dan mencengkeram kerah bajunya.
"Dia yang telah membunuh Yelena!" teriaknya di depan wajah Aiden.
"Lalu apa itu penting saat ini!?" bentak balik Aiden.
"Sudah terlambat, Kak! kau pikir dengan membunuh pria itu akan membuat Yelena hidup kembali!?"
Sean terdiam seribu bahasa. Dengan lemas dia melepas cengkeramannya di baju Aiden.
"Mama menyuruh mu datang ke perusahaannya. Di sana ada masalah yang lebih penting.." ujar Aiden kemudian.
Sean berbalik dan menatap pria yang terbaring masih dengan senyum menantangnya itu. Aiden yang melihat hal itu juga ikut kesal di buatnya.
"Aku akan mengurus sisanya.." ujar Aiden.
Bugh!
Aiden menendang wajah pria itu setelah Sean pergi dari sana. Darah segar mulai mengalir dari hidung dan bibirnya.
Belum puas. Aiden mengambil cangkul yang di lempar Sean tadi.
"Memang membunuh mu tidak akan bisa membawa Yelena kembali lagi. Tapi setidaknya kau harus merasakan setidaknya seperempat dari penderitaannya! Meskipun tidak kehilangan nyawa, kau harus kehilangan sedikit dari bagian tubuh mu!" tegas Aiden.
"Arrghhh!" teriak pria itu.
Seperti air mengalir darah itu keluar dari bagian paha pria itu. Ya, Aiden menancapkan benda tajam itu ke paha pria yang telah menabrak Yelena.
"Wanita itu juga harus merasakannya juga! Allesa!" teriak pria itu sambil berderai air mata.
Aiden mengehentikan langkahnya sejenak. Kemudian melajukan kembali langkahnya.
"Kau suruhan Kakakku?" tanyanya pada Xenon di depan rumah.
__ADS_1
"Iya, Tuan Muda.." jawab Xenon.
"Urus pembunuh itu!" ujarnya sebelum pergi.