
Huu huu~
Meskipun enggan untuk membuka mata, namun suara yang semakin kencang itu memaksanya untuk membuka mata.
Padahal dia sudah memilih tempat yang paling sepi dari luasnya taman itu. Namun hal itu tetap tidak menjamin ketenangannya.
Seorang anak laki-laki sedang menangis di depan sana. Yelena yang tidak tega itu mendekatinya dan berjongkok di hadapannya untuk menyesuaikan tinggi mereka.
"Hei, kok nangis sih.. laki-laki itu tidak boleh menangis, nanti gantengnya hilang loh.." tutur Yelena dengan lembut.
Anak itu menoleh menatap Yelena sambil mengusap ingusnya. Yelena tersenyum tipis kemudian mengeluarkan selembar tisu dari tasnya untuk di berikan kepada anak itu.
"Te- terima kasih kak," ucapnya terbata.
Yelena tersenyum dan mengusap pelan kepala anak itu.
"Kenapa kamu menangis?" tanyanya kemudian.
"Bola aku nyangkut," ucapnya sembari menunjuk bola yang terperangkap di antara ranting pohon di atas sana.
Yelena mendongak.
Tidak terlalu tinggi. Namun jika Yelena meraihnya, tetap saja tidak sampai. Dia mencoba mencari ranting pohon untuk mendorong bola di atas sana.
__ADS_1
Nihil.
Masih tidak sampai meskipun dia melompat setinggi mungkin. Kini dia mulai melepas sepatunya. Mungkin itu akan gagal, tapi siapa yang akan tahu hasilnya jika tidak mencobanya terlebih dahulu.
Ternyata hasilnya cukup mengecewakan. Tidak, bahkan memalukan. Sepatu nya ikut tersangkut di atas sana. Yelena meringis sambil menggaruk rambutnya. Anak itu juga menertawakan aksi Yelena yang gagal.
Tidak ada cara lagi. Dia menatap dengan yakin pohon itu. Satu-satunya cara adalah memanjat. Pohon itu terlihat mudah untuk dipanjat.
Yelena melepas sebelah sepatunya yang masih dipakai. Kemudian mengikat ujung kemejanya yang terbuka di perut. Dia menarik napas panjang bersiap untuk memanjat.
Hup!
Seperti perkiraannya. Benar-benar mudah untuk memanjatnya. Sampai pada tempat dimana kedua benda itu menyangkut, Yelena berhenti. Dia mengalungkan sebelah tangannya di pohon dengan kuat. Sedangkan sebelah tangannya lagi digunakan untuk meraih bola dan sepatunya.
'Celaka! dalam ketinggian ini paling tidak kaki atau tangan ku akan patah! atau mungkin juga kepala ku..' batinnya dalam hati.
Dia memejamkan matanya, berharap keajaiban akan datang.
"Yelena?"
"Apa ini? apa aku sudah berada di surga? apa Tuhan sedang memanggil nama ku?" gerutunya.
"Hei! buka matamu bodoh.. tubuh mu sangat berat!"
__ADS_1
Yelena membuka matanya saat mendengar kalimat kasar itu. Dia mengerutkan keningnya. Tubuhnya dalam pelukan seorang pria.
"Turunkan aku! kamu mesum!" teriak Yelena sambil meronta.
Pria itu menurunkan Yelena.
"Ternyata kamu tetap bodoh seperi dulu!" ujar pria itu.
"Jaga ucapan mu, jangan kurang ajar!"
Sedangkan anak tadi langsung mengambil bola nya dan berlari meninggalkan mereka berdua. Tidak lupa dia mengucapkan terima kasih sebelum meninggalkan tempat yang mulai rusuh itu.
"Hei bodoh! apa kamu tidak mengingat ku?" tanyanya.
Yelena mengerutkan keningnya. Pria tampan yang berdiri dihadapannya itu terlihat sangat asing di matanya. Bahkan terasa seperti tidak pernah melihatnya.
"Tidak, aku bahkan tidak mengenalmu!"
"Permisi, dan terima kasih.." ucap Yelena yang kemudian meninggalkan pria itu terpatung bersama dengan pikirannya.
"Hei Yelena Xu! apa kamu benar-benar tidak mengingat ku?"
"Aku Yohan Audika! teman masa kecilmu di panti," lanjutnya yang membuat Yelena menghentikan langkahnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...