Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Dimata Orang


__ADS_3

Sepanjang koridor Yelena mengekor di belakang Sean. Pria di depannya itu terlihat sangat mencolok hingga menyita perhatian orang-orang sepanjang koridor Rumah Sakit yang mereka lewati. Sedangkan Yelena terlihat seperti seorang penguntit.


Tidak terlihat seperti pasangan. Hal itu terbuktikan setelah mereka sampai di depan ruangan dokter. Seorang perawat keluar dari dalam ruangan itu dengan beberapa tumpuk berkas di tangannya.


"Nona Yelena Xu..." panggilnya.


Perawat itu terlihat bingung karena hanya seorang pria yang tampak di depannya. Ya, karena tubuh mungil Yelena terhalang oleh tubuh kekar Sean. Perawat itu menatap Sean dengan penuh tanda tanya. Sedangkan Sean juga hanya diam di depan pintu itu tanpa berkata apapun.


Perawat itu sedikit mengintip ke belakang Sean, kemudian tersenyum pada gadis yang ada di belakang itu.


"Nona Yelena Xu?" tanyanya.


"Iya," jawab lirih Yelena.


Perawat itu melirik Sean sekilas kemudian melewatinya untuk menghampiri Yelena.


"Silahkan.." ucap Perawat itu memandu Yelena untuk masuk.


Lagi-lagi saat melewati Sean Perawat itu meliriknya, kemudian menghentikan langkahnya.


"Seharusnya anda menggandeng adik anda untuk masuk, bukan malah menghalangi jalannya untuk masuk!" ucapnya kemudian melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


'Adik? ternyata di mata orang kami terlihat seperti itu.' batin Yelena.


Yelena mencoba mengontrol ekspresi nya untuk tetap tenang. Menyangkal pun tak mungkin dia lakukan. Karena nyatanya mereka memang terlihat seperti itu.


Dari belakang sana Sean menatap Yelena yang berlalu dihadapannya. Dia merasa terganggu karena melihat Yelena yang tidak menunjukkan reaksi apapun meskipun telah mendengar hal yang tak enak didengar.


"Ck!" decaknya.


Kemudian dia melangkahkan kakinya menyusul Yelena dan menggenggam tangannya. Yelena yang kaget itu hanya bisa menatap Sean dengan bingung.


"Dia adalah tunangan saya," tegasnya pada Perawat yang ada di sampingnya, kemudian menyeret Yelena untuk masuk.


"Silahkan Nona..." ucap Dokter mempersilahkan Yelena untuk duduk di atas crank bed.


Dari atas sana Yelena menatap Sean yang tampak tak perduli. Dia bahkan memalingkan wajahnya. Jika seperti itu apa bedanya dengan berangkat sendiri.


"Shh~" rintih Yelena.


"Maaf ya, tahan sebentar..kasa nya sedikit lengket," ujar Dokter dengan berhati-hati melepas kasa di kening atas Yelena.


"Permisi..anda bisa memegang tangannya agar Nona Yelena tidak tegang," lanjut ucapnya pada Sean.

__ADS_1


"Dia wanita yang kuat. Silahkan lanjutkan, saya permisi mengangkat telepon terlebih dahulu.."


Dia berlalu begitu saja..


Dokter menghentikan aktivitasnya dan menatap Yelena, dalam tatapnya beliau seakan bertanya 'apakah anda baik-baik saja?'.


Dia tidak mampu berkata-kata. Namun dia mengangguk pelan, mengisyaratkan Dokter untuk melanjutkan tugasnya.


Di saat seperti itu yang terbesit dipikiran nya adalah Aiden. Andai Aiden yang menemani nya saat ini. Atau mungkin lebih baik jika Aiden yang mengganti perbannya.


"Permisi Dok, apa boleh jika lukanya hanya ditutup dengan kasa dan plester saja? saya sedikit kurang nyaman dengan perban yang membalut kepala saya.." ucap Yelena saat Dokter hendak menggulung perban.


"Boleh. Asalkan hal seperti ini tidak terulang kembali. Usahakan jangan terkena air dulu!" tutur Dokter.


Yelena meringis kikuk.


"Ngomong-ngomong siapa yang mengganti perban sebelumnya? sangat rapi dan telaten. Apa pria yang tadi?" tanya Dokter memecah keheningan.


"Tidak. Adik ipar saya yang mengganti nya.."


Iya, bukan pria yang menyebabkan perbannya basah itu yang menggantinya. Dia bahkan tidak bertanggung jawab dan pergi. Sama seperti saat ini.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2