Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Yelena & Vivian


__ADS_3

Vivian membantu Yelena untuk duduk. Kemudian menuangkan segelas air untuknya. Dengan perlahan Vivian menuntun tangan Yelena yang masih gemetar itu untuk meneguk minumannya.


"Terima kasih.." lirih Yelena.


Vivian menyentuh kening Yelena, kemudian menyentuh keningnya secara bersamaan. Dia menyamakan suhu tubuhnya dengan suhu tubuh Yelena.


"Demam kamu sudah menurun," ujar Vivian dengan senyum manisnya.


Yelena menatap wanita yang seumuran dengannya itu sedang membereskan baskom kompres. Yelena sedikit merasa malu dengannya. Dia melirik jam dindingnya yang telah menunjukkan pukul 2 siang.


'Jam berapa dia sampai disini? apa karena teleponku semalam?' gumam Yelena.


"Maafkan aku.." ujar Yelena sambil menundukkan kepalanya.


Vivian menghentikan langkahnya yang hendak keluar kamar itu untuk mengembalikan baskom di tangannya. Dia menoleh ke arah Yelena. Kemudian menatap Aiden yang masih berdiri di balkon.


Vivian berbalik dan pergi. Bukan untuk menghindari Yelena, tapi dia ingin menyelesaikan pekerjaannya dulu baru dapat berbicara nyaman dengan Yelena.


Namun Yelena telah salah paham. Dia mengira Vivian marah dengannya.


"Dia akan kembali.."


Yelena menoleh ke arah suara itu berasal.

__ADS_1


"Aw~" dia melupakan infusnya.


Aiden segera bergegas menghampiri Yelena. Namun sudah terlambat, Yelena telah melepas selang infusnya. Dia sangat benci melihat benda itu.


"Apa kamu bodoh!?"


"Astaga...ada apa ini!?"


Teriak Vivian dan Aiden secara bersamaan. Mereka juga secara bersamaan menghampiri Yelena. Yelena menatap ke sisi kanan dan kirinya melihat kedua orang itu.


Tanpa bisa mengendalikan air matanya dia memeluk Vivian. Kejadian semalam masih masih menghantui dirinya. Tubuhnya tiba-tiba gemetar saat mengingatnya. Apa yang akan terjadi saat itu juka Yelena tidak menamparnya? Apa dia benar-benar akan di nodai?


Vivian mengusap punggung Yelena, mengalirkan kehangatan pada tubuhnya yang terasa dingin dan gemetar itu.


"Tenanglah..tak apa, ada aku disini," ujar Vivian dengan lembut.


"Ceritakan semuanya padaku, ada apa?" ucap Vivian sembari melepas pelukannya.


Vivian menyodorkan segelas air kepada Yelena yang masih terisak. Kemudian melirik tangan Yelena yang mengeluarkan darah karena dia mencabut infusnya.


"Sebelum itu kita bersihkan itu dulu.." ujar Vivian sambil beranjak dari duduknya untuk mengambil koyak P3K.


"Kalian benar-benar pasangan yang serasi," puji Yelena saat Vivian menempelkan plester di tangannya.

__ADS_1


"Oh iya?" Vivian tersenyum tipis.


Yelena mengangguk sambil menyunggingkan senyum tulusnya.


"Tahun lalu Aiden juga mengganti perban kepala ku.." ujar Yelena.


"Kalian berdua sama-sama hangat dan baik, kalian sangat cocok," lanjutnya sambil tersenyum kecut mengingat hubungannya dengan Sean.


Vivian memperhatikan raut wajah Yelena yang mulai berubah. Vivian menghela napas kesal kemudian menjentikkan jarinya ke kening Yelena.


"Dasar gadis bodoh!" decaknya.


Yelena menatap punggung Vivian yang pergi untuk mengembalikan kotak P3K. Tidak seperti tampangnya yang galak, ternyata dia adalah wanita yang baik. Batin Yelena.


"Ap- apa yang ka- kamu lakukan!?" teriak Yelena histeris saat tiba-tiba Vivian melepaskan pakaiannya.


"Apa apa denganmu? kita berdua sama-sama wanita! dasar bodoh!"


"Aihh~ aku sungguh sangat gerah setelah seharian merawat mu.." ujar Vivian setelah mengganti pakaiannya dengan yukensi.


Kemudian dia beranjak naik ke ranjang Yelena dan berbaring di sampingnya. Dia meregangkan ototnya mengulet, kemudian tidur dengan posisi miring sambil menyanggah kepalanya dengan tangannya.


"Jadi?"

__ADS_1


"Apa yang telah terjadi kemarin?"


__ADS_2