Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Mabuk Untuk Menghilangkan Stress


__ADS_3

Sean melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kepalanya sudah tidak dapat berpikir jernih. Dia sangat kacau. Dia tidak tahu kenapa dirinya jadi seperti itu. Kenapa juga dia harus meminta maaf diam-diam pada Yelena.


Selama ini juga seperti itu. Sean sering menghampiri Yelena yang sudah terlelap. Menatap wajahnya yang sedang tertidur pulas, membelai wajahnya. Bahkan hasrat seperti ingin menciumnya selalu muncul saat dia menatapnya.


"Kamu sudah gila Sean!" decaknya.


Jika pekerjaan sudah tidak dapat menolongnya untuk mengalihkan pikiran, maka jalan terakhir adalah minum hingga dia melupakan siapa dirinya.


Dia memutar balik mobilnya menuju bar tempat biasa dia dulu bersama Allesa dan teman-temannya berkumpul. Ya, tadi dia juga sempat menolak ajakan temannya untuk berkumpul karena harus menemui Yelena. Siapa yang tahu jika akhirnya akan seperti ini.


Setelah sekian lama dia berhenti minum, hari ini dia akan kembali. Dia akan membuat dirinya mabuk hingga tak sadarkan diri untuk menyingkirkan pikirannya tentang Yelena.


Namun siapa yang tahu, aksinya kali ini akan menambah masalah baru baginya atau tidak.


"Wah..tuan muda kita sudah datang!"


"Apa yang membuat mu berubah pikiran?"


"Sudah lama kita tidak berkumpul seperti ini.."


Satu persatu temannya menyambut kedatangannya. Jeremy, Dias, dan Bas.


Sean hanya diam dan langsung duduk. Beberapa wanita seksi pelayan bar itu menghampirinya dengan botol minuman keras ditangannya. Seperti seorang penggoda mereka duduk di samping Sean sembari meraba-raba tubuhnya.

__ADS_1


Dia semakin kesal. Tatapan mengerikannya pun mulai keluar sehingga membuat wanita-wanita itu kabur.


"Sepertinya tuan muda kita sedang menjaga hatinya.." ujar Bas.


"Ya, aku juga sempat dengar dia memecat pegawainya karena melindungi kekasihnya.." sahut Jeremy.


"Siapa wanita itu?" ujar wanita yang baru saja datang. Dia adalah Fiona Belia, teman baik Allesa.


"Wah, tuan muda kita sudah menemukan pengganti Allesa ternyata.." lanjut Fiona.


"Tutup mulutmu!" tegas Sean.


"Ayolah..kita ini juga teman meskipun Allesa tidak ada disini. Mari ku tuangkan untukmu.." ujar Fiona sembari menuangkan minuman beralkohol itu pada gelas Sean.


"One shot? apa kamu sedang kesal?" Fiona menyeringai.


Sean tidak menjawab. Dan tanpa kata dia merampas botol minuman itu dari tangan Fiona, kemudian meneguknya seperti orang kehausan.


Keempat orang itu hanya mematung melihat aksi Sean. Mereka tidak berani menghentikannya.


Satu botol itu belum cukup untuk membuatnya mabuk. Dia membuka sebotol lagi dan meneguknya.


"Hentikan! apa kamu sudah gila!?" ujar Fiona merampas botol yang ternyata telah habis itu dari tangan Sean.

__ADS_1


"Apa kamu ingin mati!?" bentak Fiona.


"Berikan kembali botol itu! aku ingin tidur tanpa beban pikiran.."


"Aku akan minum sampai pingsan malam ini.." ujar Sean sambil tertawa. Dia sudah hilang kendali. Dia mulai mabuk.


Teman laki-lakinya saling menatap heran. Mereka tidak pernah melihat Sean seperti itu. Bahkan saat pertunangannya batal pun dia tidak segila itu untuk membuat dirinya sendiri pingsan. Mereka semua penasaran apa yang telah membuat Sean seperti itu.


"Hei Sean..ada apa denganmu?" tanya Jeremy.


"Hei Jeremy! Kau adalah pria paling playboy disini. Apa kamu pernah merasa gila karena satu wanita?" tanya Sean sembari membuka satu botol minuman lagi.


"Ya, aku pernah. Aku pernah sangat mencintai nya. Namun dia pergi meninggalkan ku, mungkin karena aku terlalu mengekangnya. Karena itu saat ini aku hanya bermain-main dengan wanita. Karena aku tidak bisa mencintai lagi. Dia sudah membawa cintaku pergi bersamanya.." panjang lebar Jeremy.


"Apa itu hanya alasanmu saja?" sahut Bas dan Dias menertawakan Jeremy.


"Mengekang?" gumam Sean.


"Ya, aku hanya mengurungnya di dalam rumah. Aku tidak ingin dia keluar. Aku tidak ingin laki-laki dengan mata keranjang menatapnya!" jawab Jeremy.


Mengekang? Sean memikirkan ucapan Jeremy dalam-dalam. Pergi? kehilangan?


Sean menyeringai. Untuk apa mengkhawatirkan hal itu, cepat atau lambat Yelena juga akan pergi. Dia hanyalah seorang pengganti, dan tidak lebih. Batin Sean dalam hati.

__ADS_1


Namun mengapa membayangkan Yelena pergi membuat hatinya terasa sakit. Dia tidak tahu.


__ADS_2