Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Jangan Pernah Menyalahkan Dirimu


__ADS_3

Di tengah kesibukan mereka yang asyik berbincang, mereka tidak menyadari jika Bi April sedang mengintip mereka dari celah pintu yang sedikit terbuka.


Bibi tersenyum lega melihat Yelena yang tersenyum bahkan tertawa lepas.


"Gadis malang itu.." lirih Bibi di balik pintu itu.


Apa yang baru saja terjadi di antara Sean dan Yelena, Bibi menyaksikan itu. Namun Bibi tidak bisa dan tidak berani berbuat apapun.


......................


Yelena berjalan ke depan cermin, mengoreksi pekerjaan Aiden. Kemudian berbalik pada Aiden dan mengacungkan jempolnya.


Aiden memalingkan wajahnya, menyembunyikan senyumnya malu.


"Cepat tidur, ini sudah hampir tengah malam!" tutur Aiden sembari menunjuk jam dinding yang menempel di dinding depan sana.


"Kamu akan pulang?" tanya Yelena.


Aiden menatap Yelena. Setelah kejadian yang baru saja terjadi, mana mungkin tega dia meninggalkan Yelena. Wanita yang tak berdaya memang benar-benar kelemahannya.


"Tidak, aku akan disini."


"Benarkah?" tanya Yelena dengan girang.


Aiden menyeringai. Tebakannya benar, Yelena masih ketakutan dengan apa yang baru saja terjadi. Ya, hal itu tentu saja membuat Yelena bingung. Sikap Sean.


Meskipun sudah dapat membuat Yelena tertawa, namun bukan berarti dia bisa membuat sesuatu yang tak terlihat di dalam sana juga tersenyum. Gadis itu terluka. Terluka dalam hatinya.


'Aishh...ini semua karena si Sean sialan itu!' maki nya dalam hati.


Aiden beranjak dari sofa tempatnya duduk dan mematikan lampu kamar. Namun tak disangkanya Yelena yang tadi masih duduk di sofa langsung berlari ke ranjangnya, dan menutup dirinya dengan selimut.


"Kamu takut gelap?"

__ADS_1


"Mm~ saat kamu mematikan lampunya rasanya sangat menakutkan," ucapnya dari balik selimut.


Tak~


Aiden menyalakan lampu tidur yang ada di meja samping ranjang Yelena. Perlahan Yelena mengintip saat cahaya kuning itu terlihat.


"Cepat tidur!"


Ucap Aiden sambil berjalan ke sofa dan menghempaskan tubuhnya di sana. Dia memejamkan matanya.


Yelena yang masih duduk di atas ranjangnya itu langsung membaringkan tubuhnya. Dia menatap langit-langit kamarnya. Kemudian melirik kebawah, pada Aiden yang tidur di sofa sana.


"Aiden?" panggilnya.


"Hmm~" sahut Aiden.


"Kamu udah tidur?"


"Kalo aku udah tidur, yang jawab tadi hantu gitu?"


"Cepat tidur atau akan ku tinggal pulang!"


Yelena menaikkan selimutnya dan mulai memejamkan matanya.


Hening..


Hanya terdengar rintikan hujan di luar sana. Dia membuka matanya. Sesaat kemudian dia memejamkan matanya kembali. Rasanya tidak nyaman. Dia berguling ke kanan, dan berbalik lagi ke kiri.


Hufftt~


Dia menghela napas panjang.


"Aiden... kamu sudah tidur?"

__ADS_1


"Jika kamu terus berisik bagaimana aku bisa tidur?"


"Aku tidak bisa tidur,"


"..."


Aiden tidak menjawab.


"Aiden?"


"Aiden? kamu sudah tidur?"


"Aiden!" Yelena memanggil Aiden lebih keras lagi.


"Aishh...kamu membuatku gila!" decak Aiden.


"Apa aku salah?" tanya Yelena yang membuat Aiden membuka matanya.


"Dia tidak bisa menatap mataku dengan benar. Dan tadi, hanya karena baju dia bersikap seperti itu. Dia bilang, tidak semua barang yang ada di sini adalah milikku. Apa sebelum kecelakaan aku membuat suatu kesalahan? atau aku bukan benar-benar tunangannya?"


Pertanyaan itu benar-benar membuat Aiden frustasi. Tidak tahu harus berbohong seperti apa lagi. Masih belum setengah jalan saja dia sudah lelah. Tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Aiden menghela napas panjang.


"Dia benci melihat orang yang menutup matanya dengan terbaring lemah. Mungkin karena rasa traumanya saat ayah kami meninggal. Waktu itu tubuhmu penuh dengan darah, dan matamu juga terpejam. Mungkin dia merasa takut saat melihat mata itu. Takut jika mata itu akan terpejam dan tidak terbuka lagi,"


"Dan untuk gaun. Gaun itu adalah baju yang terakhir kali kamu kenakan sebelum pergi ke luar negeri. Ya mungkin dia juga takut saat melihat mu kembali memakai nya. Dia takut jika kejadian ini akan terulang lagi," lanjutnya.


"Jadi satu hal yang harus kamu tau dan kamu ingat. Apapun itu, apapun yang akan terjadi selanjutnya.. itu bukanlah salahmu. Jangan pernah menyalahkan dirimu!"


"Haihh~ kenapa aku jadi seperti orang tua yang menasehati putrinya?" gerutu Aiden.


Yelena tertawa ringan. Perasaannya mulai lega setelah mendengar jawaban itu dari Aiden.

__ADS_1


"Terima kasih. Aku tidak tau harus mengatakan kalimat apa lagi selain itu.."


BERSAMBUNG...


__ADS_2