
Yelena mengangkat kain lap yang terjatuh di atas genangan air akibat ulah Bibi.
Basah.
Tetesan air meluncur dari kain itu seperti rintik hujan. Seolah air tidak ingin di pisahkan dengan kawanan lainnya di bawah sana.
Yelena menarik napas pasrah.
Akhirnya masak memasak pun di tunda beberapa menit untuk membersihkan dapur yang kacau itu.
"Kita masak dengan bahan seadanya saja.."
"Apa makanan kesukaan Sean?" lanjut tanya Yelena.
"Den Sean tidak pemilih makanan Non.." jawab Bibi.
"Ok, kita buat nasi goreng saja.."
Yelena langsung bergegas saat melihat jam yang terus berputar itu menunjukkan pukul 6 kurang 15 menit.
Dengan cekatan dia memotong sosis dan juga sayuran. Sedangkan Bibi menyiapkan bumbu-bumbunya.
"Den?" ujar Bibi.
Sean yang saat itu duduk di meja makan memberi isyarat pada Bibi agar tidak memberi tahu Yelena akan kehadirannya. Bibi mengangguk lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang lain dan sengaja meninggalkan Yelena.
Saat itu hanya Yelena sendiri di dapur, juga Sean yang duduk di meja makan yang letaknya tak jauh dari sana.
Sean menatap Yelena dari belakang sana. Dia sudah terlihat seperti seorang istri yang melayani suaminya.
__ADS_1
Sean menyeringai.
"Sayangnya itu hanya omong kosong," gumamnya.
Sean menyanggah dagunya di atas meja sambil memandangi Yelena yang sibuk dengan wajan dan sutil nya.
Seperti menonton adegan lucu dalam sebuah film. Sudut bibir Sean mulai naik. Pipinya membentuk benjolan seperti bakpao. Ya, dia tersenyum.
Dan seseorang yang sedang mengepel di sebelah sana juga ikut tersenyum. Ya, Bibi juga sangat merindukan senyum dari tuan muda nya itu. Terakhir kali dia tersenyum adalah sehari sebelum pertunangan di adakan, tiga tahun yang lalu. Setelah itu hanya wajah suram yang selalu dia tunjukkan.
"Aw~"
Suara itu membuat Bibi kaget. Tak terkecuali juga Sean. Sean langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Yelena. Dia menarik tangannya. Darah segar keluar, menetes dari jarinya.
"Dasar ceroboh!"
"Se- Sean? sejak ka~"
Mata mereka bertemu. Kali ini Sean tidak menghindari tatapannya.
"Makanya jangan ceroboh..!" ucap Sean menjentikkan jarinya di kening Yelena.
Yelena mengusap keningnya. Dirinya mulai emosional. Dia terharu. Sean menatap matanya, dan tidak menghindari tatapannya. Meskipun nara bicaranya ketus dan dingin, tapi dia dapat merasakan kekhawatiran dalam ucapannya.
Dia menarik ingusnya yang hampir keluar.
Dia menunduk menyembunyikan air matanya yang sudah sampai di pipi.
"Kamu menangis? apakah sesakit itu?" tanya Sean.
__ADS_1
Sean menggapai dagu Yelena dan mengangkatnya agar dia menghadapnya. Dia tertegun. Apa sentilannya terlalu keras? atau tangannya yang masih sakit? Dia mulai berpikir keras.
Sean menghapus air mata Yelena, kemudian mengecup keningnya.
"Ma- maafkan aku..aku terlalu keras menjentik mu,"
"Tidak.. tidak! bukan karena itu!"
Yelena menggeleng dan mengibaskan tangannya di depan dada. Kemudian memalingkan wajahnya. Apakah dia berhak membuat pernyataan? pikirnya.
Sean mengerutkan keningnya. Kemudian memegang kedua pundak Yelena. Dengan sedikit membungkukkan badan dan menundukkan kepala, dia menatap Yelena.
Tidak. Air matanya semakin deras di pipi.
"Jika kamu tidak mengatakannya, bagaimana aku bisa tau apa yang terjadi padamu!?"
"Itu karena kamu!" jawabannya di sela sesenggukan nya.
"Kamu kerasukan apa? kenapa kamu jadi perduli?"
"Dan kenapa kamu tidak menghindari tatapan mataku?" lanjutnya.
Yelena menundukkan kepalanya, tangannya tak berhenti memukul dada bidang pria itu.
Sean menghela napas beratnya. Kemudian menangkap kedua tangan Yelena yang terus menyerangnya. Dia memojokkan Yelena ke kitchen counter.
Sebuah ciuman mendarat tepat di bibir Yelena. Sean ********** beberapa kali. Dan Yelena mendorongnya saat Sean mencoba menyelipkan lidahnya.
Napas keduanya tersengal-sengal. Sean menatap mata Yelena dalam-dalam, membuat Yelena semakin merinding tak terbiasa dengan tatapannya.
__ADS_1
"Karena kamu adalah tunangan ku," ucap Sean.