
26 Desember..
Seperti biasanya, dia duduk di ayunan taman. Ini sudah sebulan lebih. Namun belum juga ada tanda-tanda akan Sean kembali. Selama sebulan lebih itu juga dia tidak mengubungi Yelena.
Vivian dan Aiden yang seminggu lalu telah kembali, tiga hari kemarin mereka berdua menginap di rumah itu untuk menemani Yelena. Namun kini dia kembali kesepian.
Yohan juga belum menghubungi nya. Dia menghela napas panjang, kemudian mencondongkan tubuhnya ke belakang dengan berpegang pada besi ayunan. Dia menatap langit cerah di atas sana. Kemudian memejamkan matanya, merasakan setiap hembusan angin yang melewatinya.
Namun tiba-tiba menjadi gelap. Sinar yang menerpa wajahnya menghilang. Apa mendung mulai muncul? batinnya. Dia membuka matanya, dan betapa kagetnya dia saat sepasang mata berada di hadapannya.
duk~
"Aw~ sakit Yelena.."
Ya, Yelena yang kaget itu sontak berdiri dan membentur kepala orang yang tiba-tiba muncul tanpa suara dari belakangnya itu.
"Yohan!"
"Lagian ngapain kamu tiba-tiba muncul!? dari belakang dan tanpa suara pula!" protes balik Yelena.
Yohan hanya tersenyum menatap Yelena yang terus mengomel. Kemudian berjalan mendekat, lalu memeluknya.
__ADS_1
"Aku merindukanmu.." bisik nya.
Yelena hanya terdiam. Pelukannya terasa nyaman, seolah tubuhnya telah terbiasa dan familiar oleh pelukan itu. Dia enggan untuk melepas pelukan yang terasa nyaman itu.
Tanpa sadar Yelena membenamkan wajahnya di dada Yohan. Seakan melampiaskan semua rasa lelahnya.
"Beberapa bulan yang lalu, di taman. Kamu meronta saat ku peluk, dan mengatakan jika kamu tidak mengenal ku.." sindir Yohan.
Yelena membuka matanya. Dia mulai menyadari aksinya saat ini. Segera dia menarik diri dari Yohan.
"Kamu boleh bersandar lebih lama lagi kok.." ujar Yohan menepuk dadanya sambil terkekeh.
Yelena memukul pelan dada bidang Yohan, kemudian berbalik karena malu.
"Ya, dia bilang hanya pergi selama sebulan. Namun ini sudah sebulan lebih.." jawabnya.
"Maka kita harus memanfaatkan waktu yang singkat ini sebelum dia kembali," ujar Yohan.
Yelena menatap lama Yohan, kemudian mengangguk setelah beberapa saat. Yohan menghela napas lega, kemudian duduk berselonjor di rerumputan taman.
"Ada satu tempat yang harus kita datangi. Namun tempat itu lumayan jauh dari sini.." Yohan mulai membuka omongan.
__ADS_1
"Tak masalah, selama ingatan ku bisa cepat kembali!" jawab Yelena dengan yakin.
Yohan tersenyum kecut.
"Kamu yakin? apa kamu tidak takut kecewa setelah ingatanmu kembali?"
"Bagaimana jika ternyata hal itu malah semakin menyakiti mu?"
"Bagaimana jika ternyata.." Yohan menghentikan ucapannya saat melihat Yelena mengerutkan keningnya.
"Tapi kamu tak perlu khawatir. Jika hal buruk terjadi, aku akan menjadi perisai mu.." lanjutnya.
Telah banyak dia mendengar kalimat seperti itu. Namun kali ini berbeda. Dia merasa yakin dengan ucapan Yohan. Dia tidak merasa khawatir.
Berbeda dengan saat orang-orang itu yang mengatakannya. Kekhawatiran menyelimuti hatinya. Rasa cemas. Seolah hal buruk akan terjadi.
Yelena tersenyum tipis dan mengangguk dengan yakin.
"Aku percaya padamu, Yohan.." gumamnya.
Yohan tertegun mendengar ucapan itu. Dia memalingkan wajahnya dan tertawa tak percaya. Setelah sekian lama dia tak mendengar kalimat itu dari mulut Yelena.
__ADS_1
Dan saat ini, meskipun Yelena tidak mengingatnya, kalimat itu masih bisa dia ucapkan. Suasana itu seolah membawanya pada masa lalu.
"Besok pagi aku akan menjemputmu. Kita akan pergi ke tempat itu.." ujar Yohan yang dijawab anggukan oleh Yelena.