Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Mimpi Itu Datang Lagi


__ADS_3

"Kenapa kamu lari?" tanya Yohan di tengah perjalanan pulang mereka.


Yelena hanya diam dan menggeleng. Kemudian dia mulai merasa bersalah atas apa yang telah terjadi. Yohan dengan susah payah membawanya ke sana, namun dia malah bersikap seperti itu.


"Maaf.."


"Yohan, apa mimpi bisa digunakan sebagai petunjuk?" tanya Yelena kemudian.


"Mungkin..kenapa?"


"Kemarin aku bermimpi. Aku memimpikan tempat yang kita datangi tadi. Aku melihat seorang wanita yang akan pergi dari sana. Lalu aku mengikutinya, dan wanita itu tertabrak," jelas Yelena.


"Itu kamu.."


"Nggak mungkin!" ucap tegas Yelena.


"Kenapa nggak mungkin? lalu siapa wanita itu?" tanya Yohan.


"Yang jelas bukan aku! jika itu aku, tidak mungkin Sean menabrak ku!"


"Apa?" Yohan sontak menepi kan mobilnya dan berhenti.


"Dalam mimpi ku Sean menabrak wanita itu.."


Senang yang bercampur dengan sedih Yohan rasakan. Dia menenggelamkan wajahnya di stang mobilnya. Bahkan mimpinya pun telah menunjukkan kebenarannya, namun Yelena tetap percaya pada pria itu.


'Yelena benar-benar telah jatuh padanya..' batin Yohan.


...****************...


"Terima kasih, dan maaf.." ucap Yelena setelah turun dari mobil Yohan.


"Hmm..malam, semoga mimpi indah,"


'Tidak, mungkin ini terlalu kasar. Tapi, semoga mimpi itu mendatangi mu lagi, agar kamu semakin yakin dengan kebenarannya.' batin Yohan.


Yohan menatap punggung Yelena yang semakin menjauh, lalu menghilang dari balik pintu sana.

__ADS_1


"Tolong jangan terlalu lama untuk kembali, aku akan menunggumu, Yelena.." gumam Yohan yang kemudian melajukan mobilnya pergi.


......................


hufftt~


"Air dingin memang yang terbaik.." gumam Yelena setelah keluar dari kamar mandi, dan menghempaskan tubuhnya ke kasur.


Hari itu sudah cukup melelahkan baginya. Dia mulai memejamkan matanya.


"Semoga mimpi itu tidak datang lagi.." gumamnya.


Namun sayangnya orang yang menginginkan mimpi itu datang berharap lebih besar daripada harapan Yelena. Ya, Yohan menang.


Mimpi itu datang..


Dia kembali ke tempat itu. Panti Asuhan.


"Kenapa aku di sini?" dia seperti sadar di dalam mimpinya.


Sekali lagi dia melihat adegan yang sama. Namun sayangnya tetap wanita itu tak terlihat jelas wajahnya.


"Yelena harus pergi, Bu..besok sudah mulai masuk kerja.."


Yelena menghentikan langkahnya yang tinggal selangkah lagi.


"Tidak mungkin..wanita itu menyebut namaku!?"


"Aw~" adegan yang sama. Wanita itu menembus tubuh Yelena.


Dalam mimpi itu Yelena sepenuhnya sadar. Dia berbalik menatap wanita yang pergi itu.


"Tidak, aku tidak boleh membiarkannya celaka. Dia tidak boleh tertabrak!"


Seperti dalam lucid dream, dia bisa mengatur dan melakukan segalanya atas keinginannya. Kini dia berlari menyusul wanita itu.


"Tidak boleh!"

__ADS_1


Yelena terus berlari dan berlari. Namun semakin dia berlari semuanya semakin menghilang. Wanita itu menghilang, sekelilingnya menjadi gelap.


"Tidak, jangan..kamu tidak boleh celaka!"


"Aku mohon Tuhan.."


Brakk~


Yelena tersungkur dan memejamkan matanya. Dalam kegelapan itu, meskipun tidak dapat melihat apapun, Yelena yakin suara koper yang menghantam benda keras itu..Itu pasti..


Yelena membuka matanya. Semuanya tidak berubah. Tetap. Pemandangan di hadapannya kini, wanita itu berbaring dengan darah yang menggenang. Isi koper yang berhamburan kemana-mana.


Lalu pria yang keluar dari dalam mobil itu tetaplah sama. Sean. Yelena menangis, dia masih tidak percaya. Dengan berani dia menghampiri wanita yang terbaring tak berdaya itu.


Wajahnya tertutup oleh rambut panjangnya. Yelena mengangkat tangannya, tidak yakin apakah dia dapat menyentuhnya atau tidak, karena sebelumnya tubuhnya tembus oleh wanita itu.


"Ku mohon.." gumamnya yang kemudian mulai menyentuh rambut wanita itu.


Terasa. Yelena dapat merasakannya. Yelena memejamkan matanya dan kemudian menyibak rambut wanita itu. Dia meraba wajahnya. Lalu perlahan dia membuka matanya.


"Ahh~"


"Tidak mungkin! itu bukan aku! bukan!" teriaknya.


Namun kenyataannya itu memang dirinya sendiri. Dia hanya tidak dapat menerima kenyataan yang sudah pasti itu.


'Kamu harus kembali Yelena!'


'Di sana bukanlah tempat mu!'


'Kembali!'


Suara-suara itu mulai menerornya.


"Tidak! pergi kamu!"


'Kembali Yelena..'

__ADS_1


'Semua orang sudah menunggu mu..'


'Kembali!'


__ADS_2