
Allesa~
Suara semalam itu serasa masih berdengung di telinganya. Kalimat yang diucapnya semalam juga masih menempel seperti sebuah memo di kepalanya.
Dia ingin menanyakan hal itu pada Sean. Namun apakah dia akan menjawabnya? Yelena merasa goyah. Tapi saat ini dia ada di pelukan Sean. Hal itu sudah cukup membuatnya tenang.
'Rasanya nyaman..' batin Yelena.
Dia memejamkan mata sejenak, merasakan kehangatan yang mengalir dari tubuh Sean. Kemudian mendorong tubuh Sean. Sean yang merasakan dorongan itu pun melonggarkan pelukannya, namun bukan berarti melepaskannya.
"Lepaskan aku, Sean!" lirih Yelena.
Sean melepas pelukannya dan memegangi kedua bahu Yelena.
"Dari mana saja kamu?" tanyanya.
"Aku ketiduran di mobil.." jawab Yelena.
"Mobil?"
Tiba-tiba Sean memikirkan tentang semalam, bagaimana dia bisa sampai rumah. Dia mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Bagaimana semalam aku bisa pulang?" gumamnya.
"Kamu meminta ku untuk menjemput mu.." ujar Yelena.
"Aku?"
Sean mengingat-ingat kembali. Namun tetap saja dia tidak dapat mengingat apa yang terjadi kemarin. Tapi yang pasti dia tidak mungkin mengubungi Yelena.
'Apa Fiona?' batinnya.
"Kamu yang membawa mobilnya?" tanya Sean kemudian.
"Lalu apakah kamu?"
__ADS_1
Hening.
Yelena menepis tangan Sean yang ada si pundaknya dan berdiri. Kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu Sean berdiri. Sean menatap uluran tangan itu, kemudian menatap Yelena.
Sean membuang muka, lalu berdiri dengan kekuatannya sendiri. Dia berlalu dari hadapan Yelena tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Yelena melirik ke arah dapur. Apakah dia masih perlu memasak? batinnya. Dia menghela napas panjang, kemudian mulai menghampiri dapur.
Setengah jam lamanya dia sibuk di dapur, dan akhirnya selesai. Dia menata makanan hasil masakannya di meja makan.
Kemudian Sean turun. Dia hanya melewati ruang makan. Yelena menatap Sean yang tak menoleh sedikitpun itu.
"Sean.." panggilnya.
Sean menghentikan langkahnya, namun tidak menoleh. Kepalanya sedang menunduk, tangannya juga terlihat sibuk. Entah apa yang sedang dilakukan pria itu.
Yelena menghampirinya karena merasa penasaran. Dia berdiri di hadapan Sean dan melihat hal seru apa yang sedang dia lakukan hingga seserius itu.
"Pfftt~" Yelena menahan tawanya.
Sean menghentikan tangannya yang sibuk, kemudian menatap Yelena dengan tajam.
"Apa kamu mau mencekik lehermu sendiri?" tanya Yelena dengan wajah mengejek.
Tanpa kata Sean maju satu langkah ke arah Yelena. Gunung es itu tidak mengatakan apapun selain menengadahkan kepalanya, bahasa isyarat untuk Yelena memasangkan dasinya.
Yelena tersenyum tipis dan menggeleng heran dengan pria itu.
"Bungkuk kan sedikit tubuh mu..!" ujar Yelena sembari meraih dasi di leher Sean.
"Dasar pendek!" gerutu Sean.
"Kamu saja yang ketinggian!" balas Yelena.
Yelena memasang dasi Sean dengan telaten. Matanya fokus pada benda di tangannya itu. Sedangkan Sean, dia fokus pada wanita di hadapannya. Dia menatap wajah Yelena dengan rinci.
__ADS_1
"Aku sudah membuat sup ayam untuk menghidras~" Yelena menghentikan ucapannya saat mengetahui Sean menatapnya.
Tangannya berhenti menyimpul dasi, matanya terpaku oleh tatapan Sean.
Debaran jantung mereka saling bertaut. Sean meraih wajah Yelena dan membelainya dengan lembut. Tangannya mulai turun hingga ke tengkuk, lalu menariknya mendekat hingga hidung mereka saling bersentuhan.
Yelena memejamkan matanya.
Sean tersenyum miring melihat hal itu, seolah diberi izin untuk menciumnya. Dia mengecup bibir Yelena, kemudian ********** dengan lembut, tidak seperti biasanya yang kasar dan penuh dengan nafsu.
Yelena mencengkeram erat dasi di tangannya, sembari mengikuti gerakan bibir Sean.
"Kamu sangat menikmatinya.." ujar Sean saat melepas ciumannya.
Yelena membelalakkan matanya, kemudian memukul dada Sean pelan dan memalingkan wajahnya. Wajahnya mulai merah padam.
"Makanlah dulu, aku sudah membuat sup ayam untukmu.." ujarnya mengalihkan pembicaraan.
Sean menyeringai, kemudian meraih wajah Yelena dan mengecupnya sekali lagi.
"Aku ingin memakanmu.."
Yelena tercengang dengan ucapannya.
"Aku beri kamu kesempatan sampai besok, sabtu.. untuk memikirkan kemana kamu ingin pergi jalan-jalan," ujarnya yang kemudian berjalan pergi.
"Waktumu tidak banyak, jadi cepat pikirkan hal itu!" lanjut Sean dalam perjalanannya.
"Sean?" panggil Yelena membuat Sean menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Bolehkah nanti aku keluar bersama Vivian?" tanyanya dengan wajah memelas.
"Jangan pulang terlalu malam!" jawabnya kemudian berlalu.
Yelena masih membeku di tempatnya berdiri. Apakah semua yang didengarnya hanya ilusi? batinnya. Yelena menyentuh bibirnya.
__ADS_1
"Ciumannya tidak seperti biasanya.. sangat lembut," gumamnya.
Mungkin hari itu adalah satu-satunya pagi yang terindah bagi Yelena selama tinggal bersama Sean.