Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Pergi Ke Panti Asuhan


__ADS_3

Jalan berbatu mereka lewati saat ini. Yohan menghela napasnya dengan kesal. Ini bukan yang pertama kalinya dia melewati jalanan berbatu itu. Namun tetap saja hal itu membuatnya kesal karena tidak sabaran.


"Maaf ya.."


Yohan menoleh dan mendapati wajah merasa bersalah Yelena.


"Hei! minta maaf untuk apa? aku melakukan ini semua bukan hanya untukmu, tapi juga untukku.."


"Aku tidak tahan dengan dirimu yang tampak sangat asing dengan diriku.." gumamnya.


"Apa? aku tidak dengar?" ujar Yelena yang samar-samar mendengar gumaman Yohan.


"Tidak apa-apa.." jawab Yohan.


Beberapa saat kemudian mobil mereka sampai di halaman panti. Yelena menatap pohon yang tinggi menjulang itu. Dia turun dari mobil setelah Yohan mematikan mesinnya.


Dia berdiri di depan pohon flamboyan besar itu. Pohon yang terlihat tidak asing itu, entah dimana dia pernah melihatnya. Dia mencoba keras untuk mengingat nya.


"Mimpi itu.." gumamnya.


"Ayo masuk.." panggil Yohan.


Dengan berat Yelena meninggalkan pohon itu. Namun pikirannya masih terus berputar-putar pada mimpinya waktu itu.


"Kak Yelena?"


"Ibu, Kak Yelena pulang Buk.." teriak Lilia yang kebetulan baru saja keluar. Dia kembali berlari kedalam untuk memanggil Ibu Asih.


Yelena mengerutkan keningnya. Bagaimana bisa gadis itu mengenalnya? batin Yelena. Dia menatap Yohan dengan tatapan herannya.


"Dia Lilia. Waktu itu dia masih 4 tahun saat masuk ke panti ini. Dan dulu kita yang merawatnya bersama Ibu Asih.." jelas Yohan menjawab tatapan penuh tanda tanya Yelena.


Yelena mengangguk paham.

__ADS_1


Seorang wanita paruh baya keluar. Dengan tatapan haru nya dia menatap Yelena.


"Nak.. akhirnya kamu pulang," seru Ibu Asih yang langsung menyambar tubuh Yelena.


Pelukan menenangkan yang lainnya. Tidak tahu mengapa wanita yang terlihat asing itu mampu membuat hatinya tenang.


Yelena membalas pelukannya dengan mengusap pelan punggung Ibu Asih.


"Ini Ibu Asih, beliau yang telah merawat kita. Lebih tepatnya juga merawat kamu dari bayi," jelas Yohan setelah mereka berdua melepas pelukannya.


"Kenapa kamu menjelaskan hal itu pada Yelena, Nak?" tanya Ibu Asih heran.


"Dia kehilangan ingatannya, Bu.."


Yohan tahu hal itu tidak baik untuk kesehatan Ibu Asih. Tapi bagaimana pun juga dia harus tetap memberitahunya.


...****************...


"Kamu pasti merindukan masakan Ibu.." ujar Ibu Asih sembari mengusap rambut Yelena.


Ibu Asih berjalan ke dapur dengan air mata yang di sembunyikan nya. Melihat kenyataan bahwa anak rawatan nya yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri itu tidak mengingatnya, hatinya terasa sangat berat dan juga sakit.


"Ibu, maafkan Yohan ya..waktu itu Yohan masih belum bisa mengatakan nya," ujar Yohan yang mengikuti ke dapur.


"Apa yang harus kita lakukan agar ingatannya kembali?" tanya Ibu Asih dengan penuh harapan.


Yohan menunduk, kemudian menggeleng pelan.


"Yohan tidak tau, Bu. Yohan juga berharap dengan membawanya ke sini dapat membuatnya mengingat sesuatu," ujar Yohan.


Ibu Asih mengusap pelan pundak Yohan.


"Ibu tau bagaimana perasaan mu. Kamu harus sabar ya, Ibu yakin Yelena akan kembali.."

__ADS_1


"Ini makanan kesukaan kamu, sup ayam.." ujar Ibu Asih sembari menyodorkan semangkuk sup pada Yelena, setelah kembali dari dapur.


"Sup ayam?" tanya Yelena.


"Iya, dulu kamu juga pernah merengek minta ajarin buat masak sup ayam.." ujar Ibu Asih dengan tersenyum lembut.


Yelena menatap Ibu Asih yang tersenyum padanya, kemudian mulai menyendok makanannya. Rasanya hampir sama seperti sup yang biasa dia masak.


Ibu Asih tak kuasa melihat kenyataan pahit itu. Air matanya mulai menetes. Sembari mengeluarkan sesuatu dari sakunya, Bu Asih berkata,


"Ibu selalu membawa ini kemana-mana, karena ini adalah kenangan terakhir Ibu dengan Yelena. Setiap hari Ibu merindukan Yelena, berharap kamu akan memberikan kabar.."


Sebuah foto di keluarkan nya. Itu adalah foto bersama sebelum Yelena pergi setahun yang lalu. Yelena bersama kopernya dengan anak panti dan Ibu Asih di sekelilingnya.


Yelena meletakkan mangkuknya dan mengambil foto itu. Dia tertegun. Foto itu sama persis seperti gambaran dalam mimpinya. Gadis dengan koper itu..


Yelena menjatuhkan fotonya dan mulai menangis. Dia menutup mulutnya untuk menahan tangisnya. Dia tidak percaya. Tidak.


"Tidak mungkin.." lirihnya.


"Tidak mungkin. Tidak, bukan Sean.." ucapannya histeris kemudian beranjak dari duduknya.


"Yohan, kita pulang sekarang.." ucapnya kemudian berlari keluar.


"Yelena, tunggu!"


"Ibu, maafkan dia ya. Mungkin dia kaget. Lain kali Yohan akan datang lagi dan menceritakan semuanya pada Ibu. Sekarang, yang pasti Ibu jangan khawatir, Yelena akan baik-baik saja.." ucap Yohan yang kemudian mencium tangan Ibu Asih.


"Yohan pamit ya, Bu.."


Ibu Asih menatap kedua anak-anaknya yang pergi. Bohong jika beliau bilang tidak khawatir. Kekhawatiran itu sudah pasti. Karena beliau telah merawat anak-anak itu dari kecil.


"Ibu akan selalu mendoakan kalian, Nak.." gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2