
Brak~
Yelena menutup pintu mobil dengan kekuatan sedang. Sedikit kesal karena Sean menurunkannya di luar gerbang rumah.
Dia berjalan dengan kaki yang terpincang-pincang. Sesekali dia menghentikan langkahnya karena kakinya yang semakin cenat cenut.
Sekali lagi dia berhenti, dan kini berjongkok untuk memijat kakinya. Di lepasnya heels yang dia kenakan. Lalu mendongak menatap bangunan rumah yang masih jauh didepan sana. Masih jauh. Dia menghela napas panjang, kemudian melanjutkan langkahnya.
Sampainya di depan rumah, dia duduk berselonjor di lantai teras. Angin sore terasa sangat sejuk saat itu. Dia memejamkan matanya, merasakan setiap hembusan angin yang menerpa tubuhnya.
Tak~
"Aw~" rintih nya yang kemudian membuka mata.
"Apa kamu mau masuk angin!?"
Yelena melirik mobil Benz putih yang tak tahu sejak kapan sudah terparkir di depan rumah. Dia tidak mendengar suara mobil yang masuk itu. Apa lagi langkah kaki dari pria yang ada di hadapannya saat ini. Aiden.
"Sakit.." rengek Yelena sambil memanyunkan bibirnya.
Aiden mengerutkan keningnya. Kemudian ikut duduk di samping Yelena. Dia menatap wajah Yelena dari samping. Tangannya mulai terulur mengangkat dagu Yelena yang secara refleks membuatnya menoleh. Aiden menatap bibir itu.
__ADS_1
Dia menyeringai, kemudian melepaskan tangannya dari wajah Yelena dan membuang muka.
"Apa bibir mu habis di gigit semut?" sindirnya.
Yelena membelalakkan matanya dan sontak menutup bibirnya dengan telapak tangan. Bagaimana dia bisa tahu, pikir Yelena.
Sedangkan Aiden, dia semakin tak habis pikir dengan kakaknya. Dia menekuk lututnya dan menyandarkan kepalanya di sana.
Semuanya akan semakin sulit. Yelena akan semakin sakit dengan harapan-harapan yang diberikan oleh Sean. Hatinya akan semakin hancur saat ingatannya kembali nanti. Aiden tidak menginginkan hal itu terjadi.
Dia menengadahkan kepalanya, menatap Yelena yang juga entah sejak kapan sudah menatapnya.
"Kak~" serunya.
"Jangan tertawa seperti itu, itu membuatku~" Aiden menghentikan ucapannya kemudian mengalihkan pandangannya.
Harus mengatakannya atau tidak. Aiden tak yakin. Dia tidak ingin Yelena membencinya saat itu tiba. Saat dia mengetahui semua kebenarannya.
Kini dia kembali menatap Yelena serius. Membuat Yelena mengerutkan keningnya bingung.
"Apapun yang terjadi nanti, aku harap kamu tidak membenciku. Aku ingin kamu tau..saat ini, sebelum hari itu datang..aku akan tetap melindungi mu,"
__ADS_1
"Tidak, kamu pasti juga akan tetap membenci ku nantinya.." gumamnya.
Lagi-lagi Yelena mengerutkan keningnya. Apa yang sedang diucapkan Aiden, pikirnya. Dia memukul Aiden menyadarkannya.
"Jangan bercanda dengan ucapan yang menyeramkan.." ucapnya.
"Ya, aku harap kamu menganggap ucapan ku seperti itu," lirihnya.
Aiden kembali menyelonjorkan kakinya, menopang badannya dengan kedua tangannya. Lalu menengadahkan kepala dan memejamkan matanya. Merasakan setiap hembusan angin yang menerpanya. Dan membiarkan kekhawatirannya pergi bersama hembusan angin sore itu.
Yelena tersenyum tipis, kemudian mengikuti aksi Aiden. Dia menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan membuang pikiran yang tidak perlu. Dia tidak ingin memikirkan hal yang macam-macam. Dia hanya perlu fokus untuk saat ini.
Tiba-tiba ingatan saat ciuman itu melintas di kepalanya. Dia langsung membuka mata dan menegakkan tubuhnya. Diliriknya Aiden yang masih dalam posisi tetap dengan mata yang terpejam.
Dia menggelengkan kepalanya mengusir ingatan yang membuat pipinya bersemu. Perlahan dia menyentuh bibirnya. ******* itu masih terasa jelas di bibirnya.
"Pfftt~"
Suara itu membuat Yelena kaget dan segera menurunkan tangannya. Dia menatap Aiden dengan tatapan merajuk.
Aiden menyeringai melihat pipi Yelena yang bersemu merah. Membuatnya semakin ingin menggodanya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...