Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Malam Tahun Baru


__ADS_3

Yelena masih menunggu. Dia memang telah bertekad untuk pergi malam itu. Tapi hatinya masih berkata, 'jika Sean pulang malam ini, aku akan mengurungkan niatku untuk beberapa hari'.


Namun semua percuma, dia berharap pada orang yang salah. Orang itu memang benar-benar tidak memiliki perasaan sedikit pun padanya. Apa yang dia dengar kemarin bukan omong kosong belaka.


Hampir jam 11 malam. Dia bahkan masih belum menghubungi Yohan. Yohan pasti khawatir.


tuutt.. tutt..


Tak perlu menunggu lama Yohan langsung mengangkat teleponnya.


'Aku siap..' ujar Yelena dalam panggilan teleponnya.


'Tunggu di sana, aku akan segera datang.'


'Tidak, kita bertemu di taman yang waktu itu. Jika aku menunggu di sini, aku khawatir jika tiba-tiba Sean pulang,' ujar Yelena.


'Baiklah, hati-hati di jalan..'


Panggilannya terputus.


Yelena menghela napas panjangnya, kemudian menatap sekeliling isi rumah itu. Apa yang ingin dia lakukan sebelum pergi, telah dia lakukan. Terakhir, dia meletakkan selembar surat di atas meja makan.


Vivian dan Aiden. Yelena tidak memberitahukan hal ini kepada mereka. Dia tidak pamit. Biarkan ini menjadi hukuman kecil bagi mereka berdua. Biarkan penyesalan kecil itu bersarang di hati mereka.


"Meskipun kalian telah berbuat baik padaku, tapi tetap saja kalian membohongiku.." gumam Yelena.


Yelena keluar dari rumah itu tanpa membawa satupun barangnya. Karena semua barang yang dia pakai adalah pemberian dari Sean. Dia juga tidak tahu di mana barang-barangnya yang dia bawa dari panti. Koper, tas, ponsel, dan juga dompetnya.


Taxi yang dia pesan telah sampai. Yelena kembali menoleh kebelakang, lalu tersenyum kecut.


"Selamat tinggal.." gumamnya yang kemudian mulai masuk ke dalam taxi.


"Halo Nona? dia keluar dengan taxi."


'Ikuti dia. Jika ada kesempatan, buat dia celaka, lenyap kan dia! akan lebih bagus jika kamu membuat tubuhnya menjadi abu.'


'Dengan begitu Sean akan kembali padaku..'


"Baik, Nona."


...****************...

__ADS_1


Yelena telah sampai di depan taman. Namun mobil Yohan belum terlihat di sana. Dia menunggu di sana, dia duduk di bangku yang ada di pinggir trotoar.


Tempat itu lumayan sepi. Hanya beberapa orang yang singgah di taman depan sana. Dia mendongak menatap langit malam berbintang.


Dia ingat dulu pernah membuat rencana ingin mengajak Sean ke sini saat malam tahun baru. Tapi itu sebelum ingatannya pulih. Dan sekarang semuanya berubah. Harapannya saat ini adalah agar lekas pergi dari Kota itu.


Sebuah mobil berhenti di depan sana. Mungkin Yohan tidak menyadari keberadaan Yelena saat ini.


"Yohan!" panggil Yelena saat Yohan menurunkan kaca mobilnya.


Yelena mulai tersenyum lega. Akhirnya dia akan segera pergi. Dia bangkit dari duduknya, dan dengan segera dia menghampiri Yohan yang ada di seberang sana.


"Kenapa mobil itu semakin melaju kencang?" gumam Yohan.


Dia melihat Yelena yang sudah terlanjur menyebrang, namun mobil itu tak mengurangi kecepatannya.


"Yelena, berhenti di sana! jangan kemari!" teriaknya sembari turun dari mobil.


Namun mungkin Yelena tak mendengar, karena jarak mereka berdua yang lumayan jauh. Tanpa mengulur waktu lagi Yohan berlari menghampiri Yelena sambil terus berteriak.


"Jangan kemari!"


"Sial! mobil itu memang sengaja mengincar Yelena!" gumamnya.


Mobil itu hampir mendekat, namun jarak Yohan masih lumayan jauh dengan Yelena.


"Kembali Yelena!"


Cerobohnya, Yelena yang melihat Yohan berlari kearahnya itu membuat dia menghentikan langkahnya karena heran. Dia bahkan tidak sadar jika ada mobil yang sedang mengincarnya.


'Tuhan, tolong jangan buat dia menderita lagi..'


Yohan mengerahkan segenap kekuatannya. Sebelum mobil itu datang, dia berhasil meraih tubuh Yelena dan mendekapnya.


Brak!


Tubuh mereka berdua melayang hingga melewati atap mobil yang menabraknya karena saking kerasnya tabrakan itu.


Yohan tetap tak melepas dekapannya meskipun rasa sakit dia rasakan di sekujur tubuhnya. Yelena yang sadar itu membuka matanya karena mencium bau amis yang memenuhi hidungnya.


Sebuah cairan kental dia rasakan di telapak tangannya. Bulir bening mulai menuruni pipinya saat melihat tangannya yang penuh dengan cairan warna merah. Bukan dari tubuhnya, tapi tubuh seseorang yang mendekapnya.

__ADS_1


"Tidak.." dia bangkit, dia melepaskan diri dari dekapan Yohan.


"Yohan!"


"Yohan, buka matamu!" teriaknya.


Tubuhnya bergetar hebat melihat tubuh pria yang terbaring lemah itu di penuhi darah.


"Jangan menangis, kamu membuatku semakin sakit.." ucap Yohan tanpa tenaga.


Yelena menangis hebat. Di sekelilingnya tidak ada orang. Anehnya lagi mobil yang telah menabraknya tadi berhenti tepat di samping mereka.


"Keluar kamu!" teriak Yelena.


"Keluar!"


Dia sangat bingung harus melakukan apa.


"Yohan, genggaman tanganku! kamu harus bertahan.." tangannya yang gemetar itu mencoba untuk menggenggam tangan lemas Yohan.


"Kening mu terluka.." lirih Yohan.


"Apa itu penting!?" Yelena terus menangis histeris.


"Dengarkan aku. Mungkin ini terlalu cepat, tapi..selamat tahun baru~" ucap Yohan.


"Aku menyayangimu, Yelena.." lanjutnya.


'Kak, kenapa kau lama sekali..' batinnya berharap Hayden segera datang.


"Aku juga menyayangi mu. Kamu orang paling berharga dalam hidupku, Yohan.."


Yelena memeluk tubuh Yohan yang terbaring itu. Dia menangis di dadanya.


.


.


.


Duuaarrr~

__ADS_1


Mobil itu meledek.


__ADS_2