
Yohan Audika, seorang penyanyi Internasional. Namun dibalik kesuksesannya, tersimpan sebuah cerita kelam tentang dirinya.
Saat masih berusia 7 tahun dia sudah menjadi yatim-piatu. Kedua orang tuanya meninggal setelah mengalami kecelakaan tragis saat hendak menjemputnya pulang sekolah.
Dia dikirim ke panti asuhan karena tidak ada yang merawatnya. Kakek neneknya juga telah tiada. Dan keluarga pihak ayah dan pihak ibunya tidak ada yang mau direpotkan untuk merawatnya.
Dia menjadi pendiam sejak saat itu. Dunianya serasa telah hancur. Dia tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini.
Beberapa hari setelah menjadi bagian dari panti, dia mencoba untuk mencelakai dirinya sendiri tanpa sepengetahuan siapapun. Dia mengambil pisau dari dapur dan membawanya lari ke kebun belakang panti. Namun rencananya gagal saat Yelena mengetahui hal itu.
"Hei bodoh! apa yang kamu lakukan?"
Yelena merebut pisau di tangan Yohan.
"Kembalikan, itu bukan urusanmu!"
Yohan berusaha merebut kembali pisau itu, namun Yelena tetap mempertahankan pisau itu di tangannya. Hingga berakhirlah berebutan itu dengan melukai tangan Yelena. Telapak tangannya tergores. Darah yang keluar tidak kunjung berhenti.
Yohan mulai panik. Dia tidak dapat berbuat apapun. Namun akhirnya dia melepaskan bajunya dan membalut tangan Yelena dengan baju itu. Darahnya mulai berhenti.
tik~
Seperti mengganti rugi darah Yelena yang telah menetes, kini Yohan menangis.
__ADS_1
"Kamu terlihat lebih bodoh saat menangis!" Yelena mengusap air mata Yohan.
Yelena melepas balutan tangannya dan mengembalikan baju itu kepada Yohan.
"Pakai bajumu, nanti masuk angin.."
"Tidak! bajunya sudah terkena darahmu! setidaknya cuci dulu baru kembalikan padaku."
Yelena menatap malas Yohan kemudian duduk di atas rerumputan.
"Aku tau apa yang terjadi padamu. Tapi kamu lebih beruntung dari aku.."
Yelena menghentikan ucapannya dan mengusap tangannya yang mulai perih.
Yohan menatap Yelena yang menundukkan kepala. Hatinya terasa teriris mendengar cerita itu. Dia kemudian mengambil tempat di sebelah Yelena.
Yelena mendongak. Yohan yang mengiranya menangis ternyata tidak. Dia merasa kagum dengan ketegaran Yelena.
"Cuci sendiri bajumu, karena aku seperti ini juga gara-gara kamu!" ucap Yelena yang kemudian pergi.
Sejak saat itu, entah apa yang membuat mereka berdua tidak akur. Mereka memang tidak bertengkar, tapi adu mulut. Jika mereka berdua sudah adu mulut, maka orang di sekitarnya akan pergi. Karena adu mulut mereka sangat awet. Namun setelah adu mulut mereka berdua tertawa, kemudian saling meminta maaf. Memang anak-anak yang aneh.
Suatu hari saat hari ulang tahun Yelena tiba, Yohan menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya. Semua orang terpesona dengan suara merdunya. Saat itu Yelena berkata.
__ADS_1
"Wah, kamu pasti akan sangat terkenal jika menjadi seorang penyanyi.."
Sejak saat itu Yohan mengikuti ekstrakurikuler paduan suara. Kemudian waktu berjalan begitu cepat hingga mereka duduk di bangku sekolah menengah atas.
Saat berusia 17 tahun, Yohan meninggalkan panti untuk mengejar mimpinya. Dia ingin mewujudkannya untuk Yelena.
"Apa kamu perlu pergi? tidak bisakah kamu tetap di sini?"
Semakin besar Yelena semakin cengeng. Mengatakan hal itu dia sambil meneteskan air mata.
"Aku pikir kamu dulu sangat pemberani. Tapi mengapa sekarang menjadi sangat cengeng?" Yohan mencubit kedua pipi Yelena.
"Memangnya tidak boleh aku merasa sedih?" Yelena memukul dada Yohan yang ternyata malah membuatnya tertawa, bukan merintih.
Tawanya semakin memudar. Yohan menatap Yelena dalam-dalam. Kemudian membelai rambutnya.
"Kita akan bertemu lagi saat aku sukses nanti..begitupun juga denganmu. Sampai saat itu tiba, tolong jangan lupakan aku.."
Yohan mengecup kening Yelena. Kemudian menyeret kopernya untuk pergi.
"Hilangkan kebiasaan ceroboh dan cengeng mu itu!" teriak Yohan sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.
BERSAMBUNG...
__ADS_1