Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Yohan Mengetahui Semuanya


__ADS_3

Sakit kepala yang luar biasa menyerangnya saat membuka mata. Dia bangun sangat siang hari itu. Yelena melihat sekeliling kamar yang dalam keadaan sepi itu. Pintu balkon yang semalam terbuka itu masih belum tertutup hingga pagi ini.


Yelena bangkit dari tidurnya dan duduk di tepi ranjangnya. Dia memegang kepalanya terasa sangat menyengat itu.


Dia meraih ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Sean. Seperti biasa telepon darinya bukanlah prioritas. Sean tidak mengangkat panggilan teleponnya.


Yelena turun dari ranjangnya untuk menuju ke dapur. Mungkin dengan minum obat bisa meringankan rasa sakitnya.


Masih dia berdiri di atas tangga, bel rumah berbunyi.


"Ternyata kalian..ku kira siapa," ujar Yelena saat membuka pintu.


Vivian menangkup wajah Yelena yang terlihat pucat itu.


"Apa kamu sudah makan siang?" tanya Vivian.


"Aku baru saja bangun.." jawab Yelena dengan kekehan kecilnya.


"Kebetulan. Cepat ganti baju, kita makan siang bareng!" ujar Vivian sembari mendorong tubuh Yelena masuk.


...****************...


Mereka berdua membawa Yelena ke tempat makan yang jauh dari rumah. Mereka sengaja membawanya keluar agar Yelena dapat menghirup udara segar.


Setelah mengemudi cukup lama, akhirnya mobil berhenti. Itu adalah rumah makan pancing ikan. Mereka akan bersenang-senang terlebih dahulu sebelum makan.


Mereka turun dari mobil.


"Ah, kami juga mengajak seorang teman. Dia orang yang sibuk, tapi dia merelakan sedikit waktunya untuk kita.." ujar Aiden.


Teman? Yelena tampak bingung. Dia takut akan menjadi canggung karena dia tidak mengenalnya.


"Itu dia.."


"Yohan!!" panggil Vivian.


Yohan? batin Yelena. Pasti tidak mungkin Yohan yang waktu itu. Yelena menggelengkan kepala mengusir pikiran ngawur nya.


"Yoo..tuan superstar!" ujar Aiden saling memukul pundak dengan Yohan.


Dia yang tadinya datang dengan senyum ceria di wajahnya, kini senyum itu mulai luntur. Yohan memundurkan kakinya kaget saat melihat sosok perempuan yang sangat di kenalnya.


"Oh iya, ini Yelena. Yelena, ini Yohan.." ujar Aiden memperkenalkan mereka berdua.


"Yelena?" Yohan mengerutkan keningnya, lalu menatap Aiden dengan penuh emosi.


"Kalian masuk dulu. Aku ada sedikit keperluan dengan Aiden.." ujar Yohan yang kemudian menarik Aiden menyingkir.


...****************...


"Yelena.."

__ADS_1


"Bagaimana kau mengenalnya?" tanya Yohan pada Aiden.


"Dia.." Aiden menggantung ucapannya.


"Dia wanitanya Sean."


"Gila! benar-benar gila!" ucap Yohan penuh emosi.


"Apa yang terjadi padanya? katanya dia kehilangan ingatannya!? hah? apa itu benar? bagaimana bisa hal itu terjadi?"


"Tunggu!" ujar Aiden yang bingung dengan ucapan teman lamanya itu.


"Kamu kenal Yelena?" tanyanya kemudian.


"Dia teman masa kecilku di panti."


Aiden tertawa tak percaya, dia mengusap rambutnya dengan gusar lalu mendaratkan tubuhnya di bangku taman. Dia menundukkan kepala dengan memegang tengkuknya.


Tak percaya semuanya akan segera berakhir. Allesa telah kembali dan seseorang yang sangat mengenali Yelena dengan baik juga muncul.


"Cepat katakan!" Yohan meraih baju Aiden dan mencengkeramnya.


Dia tidak tahu harus mengatakan apa pada Yohan. Dia hanya menatap Yohan dengan tatapan kosong.


"Semuanya sudah seperti ini..maka aku hanya bisa meminta bantuan mu," ujar Aiden.


"Buat Yelena mengingat kembali ingatannya, lalu bawa dia pergi jauh dari sini!" lanjutnya.


"Apa kau tidak menganggap ku sebagai teman baikmu lagi!? Jangan lihat aku sebagai teman Yelena! Ceritakan apa yang sebenernya terjadi?" Yohan mempererat cengkeramannya.


Aiden menjeda ceritanya dan menghela napas panjang. Kemudian meraih tangan Yohan yang mencengkeram bajunya.


"Setidaknya lepas dulu!" ujarnya.


Yohan melepas cengkeramannya, lalu mengambil tempat untuk duduk di samping Aiden.


"Wajah Yelena mirip dengan calon tunangannya yang pergi. Dan.. dari sana kau bisa menyimpulkan apa yang terjadi selanjutnya," Aiden tak mampu mengatakannya.


"Jangan bilang.."


Bugh!


Yohan memukul wajah Aiden, mencengkeram bajunya dan menunduk tak berdaya di hadapan Aiden.


"Bagaimana bisa kalian semua melakukan hal itu!" teriak Yohan yang mulai tak sanggup menahan air matanya.


"Dia orang yang sangat berharga bagiku!" ucapnya melemah.


"Maka dari itu aku sangat meminta tolong padamu. Aku juga tidak ingin dia semakin terluka, bagaimana pun juga aku sudah menganggap nya seperti bagian dari keluarga ku sendiri. Lebih baik ingatannya kembali baru mengetahui segalanya, daripada dia mengetahui segalanya sebelum ingatannya kembali!" ujar Aiden.


"Arghh!" teriak Yohan sembari bangkit dari duduknya dan memukul keras pohon di sampingnya.

__ADS_1


"Kalian semua binatang sialan!"


"Bagaimana bisa kalian.." Yohan tak sanggup lagi menahan emosinya. Air mata menggenang di wajahnya.


"Dia..dia gadis yang baik! Selama setahun kalian mengurung dan membodohi nya! Apa dia tinggal bersama pria bajingan itu?"


"Jawab! apa Yelena tinggal satu rumah dengannya!?" bentak Yohan.


"Iya.."


"Gila! kalian semua benar-benar gila!"


"Apa kau yakin selama itu tidak terjadi apa-apa di antara mereka!?"


"Tidak mungkin! hentikan omong kosong mu!"


"Bagaimana jika terjadi sesuatu? bagaimana jika Yelena sudah dirusak olehnya!?"


Bugh!


Sebuah pukulan keras sukses mendarat di wajah Yohan dan membuatnya terlimbung. Aiden menarik baju Yohan dan mencengkeramnya.


"Aku memukulmu bukan karena Sean. Tapi karena ucapan mu yang seolah tak percaya dengan Yelena! Kau yang paling mengenalnya, apakah dia sebodoh itu!?"


Aiden menghela napasnya dengan kasar dan melepas cengkeramannya. Dia membalikkan badan seraya mengacak-acak rambutnya dengan kesal.


"Sejak kapan kau menjadi begitu cengeng?" ledek Aiden mencairkan suasana diantara mereka.


"Dengarkan aku. Semuanya ada pada mu saat ini. Hanya kau yang bisa membuat Yelena mengingat semuanya. Karena kau yang telah menghabiskan waktu selama puluhan tahun bersamanya. Tanpa sepengetahuan Sean aku akan membantu bertemu dengan Yelena setiap hari."


"Ku harap kamu bisa menolongnya.." lanjut Aiden.


"Kenapa kau melakukan nya?" tanya Yohan sembari mengusap air matanya.


"Haha.. bocah kasar ini ternyata benar-benar bisa menangis~" ledek Aiden sembari memukul pundak Yohan.


"Sepertinya wajah bagian kananmu terasa gatal, apa ingin ku pukul juga?" pekik Yohan mengangkat tangannya.


"Ayolah..kita ini kawan!"


Aiden melirik ke arah Yohan yang sedang menatapnya tajam untuk mendapatkan jawabannya.


"Aku sudah mengatakannya tadi, aku telah menganggap nya seperti keluarga ku sendiri!"


Aiden menempeleng kepala Yohan dan menariknya kembali ke tempat Vivian dan Yelena. Karena mereka sudah pergi begitu lama.


"Jangan biarkan aku sampai bertemu dengan lelaki itu, atau aku akan membunuhnya!" teriak Yohan yang kepalanya masih dalam gamitan tangan Aiden.


Aiden tersenyum pahit. Dia tidak menyalahkan ucapan Yohan, karena memang benar jika kakaknya itu seorang lelaki jahat. Dia sudah berusaha yang terbaik untuk menyelamatkan Yelena dari genggaman kakaknya.


"Dan kau! jangan kau pikir dengan berbuat baik kepada Yelena, bukan berarti kau tidak salah! Aku tetap tidak akan memaafkan mu!"

__ADS_1


Aiden melepas tempeleng nya, lalu menendang pantat Yohan.


"Aishh~ kenapa ucapan sama persis seperti Ibu Presdir (Gloria)!" gerutu nya.


__ADS_2