
Dia masih tidak bergeming dari tempatnya duduk saat ini. Matanya terpaku keluar gedung kacanya itu. Entah apa yang dilihatnya, juga entah apa yang ada dalam pikirannya.
Semua pikirannya tercampur aduk seperti bubur. Dia tidak dapat berfokus hanya pada satu masalahnya. Namun benar apa yang dikatakan Ibunya, hal itu tidak boleh mempengaruhi pekerjaannya.
Sean merogoh saku kemejanya dan mengambil ponsel dari dalam sana. Dia menanti pesan dari seseorang yang di tugaskan nya. Namun hasilnya belum juga datang.
tok tok~
"Permisi, apakah boleh saya masuk, Pak?"
Sean memijat pangkal hidungnya. Ya, dia tidak bisa terus seperti itu. Dia menghela napas panjang, kemudian mempersilahkan orang di luar sana untuk masuk.
"Masuk!"
Seseorang dengan pakaian serba hitamnya itu masuk, membungkuk memberi hormat pada atasannya.
"Saya sudah mendapat semua informasi tentang Yohan Audika," ujarnya.
Akhirnya yang dinantikan telah datang. Pria itu adalah mata-mata Sean. Xenon Max. Dia memberikan map coklat kepada Sean yang berisikan semua informasi tentang Yohan.
Sean membuka isi map itu.
Panti asuhan Suka Cita. Jika itu, Sean sudah mengetahuinya sejak dulu. Namun siapa yang menyangka jika Yelena juga datang dari panti asuhan itu.
__ADS_1
Berkat kerja keras Xenon, dia mendapat foto Yelena semasa di pantai asuhan itu.
"Makanya meskipun dia menghilang setahun lebih lamanya tidak ada yang mencarinya. Dia seorang yatim piatu?" gumamnya.
Sebuah foto lagi yang Xenon dapatkan. Yaitu foto Yelena bersama dengan Aiden.
"Ternyata dia benar-benar teman masa kecil gadis itu.." gumam Sean sambil menyeringai.
"Saat ini dia berada dalam naungan SG Entertainment," ujar Xenon.
"SG Entertainment?" tanya Sean tak percaya.
"Ya, perusahaan yang selalu menolak kerja sama dengan perusahaan anda.." jawabnya.
"Sial!" decak Sean.
Sean menengadahkan kepalanya menatap Xenon dengan tatapan 'jangan membuatku menunggu'.
"Mereka akan membuat perusahaan cabangnya di depan sana."
Brak!
Sean menggebrak mejanya.
__ADS_1
"Mengapa aku tidak tau jika bangunan itu akan dijadikan perusahaan cabangnya!?"
"Mereka baru saja membelinya."
"Apa katamu? membelinya? bangunan yang belum sempurna itu!?" Sean semakin meninggikan suaranya.
"Bangunan itu akan selesai sekitar kurang lebih dua tahun lagi. Dengan waktu yang cukup lama itu anda bisa mempersiapkan diri," ujar Xenon.
"Aku tidak membutuhkan~" Sean menghentikan ucapannya dan memijat pangkal hidungnya, kemudian mengibaskan tangannya untuk menyuruh Xenon segera pergi dari ruangannya.
"Ada satu lagi," ucap Xenon membalikkan kembali badannya menghadap Sean. Satu laporan terakhirnya sempat terlupakan olehnya.
"Dia akan datang ke negara ini dalam beberapa hari lagi."
"Hayden Xu! pria sialan ini!" umpatnya.
"Dia benar-benar ingin bersaing dengan ku?"
Hayden dan Sean, tentu saja mereka saling mengenal. Hayden adalah senior Sean saat masa kuliahnya di luar negeri. Sean mengakui kecerdasan dan juga kehebatannya.
Dalam kaca dunia, produksi film DC Entertainment selalu di bawah SG Entertainment. Rating yang dihasilkan dari setiap film produksi dari SG Entertainment selalu di luar perkiraan. Mereka berdua adalah orang-orang yang hebat di negaranya masing-masing.
Sean ingin menciptakan gebrakan dengan menampilkan kolaborasi diantara keduanya. Beberapa kali dia mengajukan proposal kerja sama dengan perusahaan nya, namun Hayden menolaknya. Sean juga pernah secara pribadi datang ke SG Entertainment, dan secara terang-terangan Hayden menolak untuk bertemu.
__ADS_1
Sejak itu, Sean menganggapnya sebagai musuh.
"Aku akan menantikan pertemuan kita.." gumamnya.