
"Sean!"
"Sean!"
"Sialan!"
Teriak Aiden dalam rumah itu. Sean berdiri mematung di samping meja makan dengan selembar kertas di tangannya.
Aiden menghampiri kakaknya dan memukul wajahnya. Sean hanya diam menerima pukulan itu. Aiden juga tidak akan berhenti memukul jika Vivian tidak menghentikannya.
"Kau lihat beritanya!?" teriak Aiden.
"Aku baru saja mendapat telepon dari nomor Yelena. Saat ku angkat ternyata itu dari pihak rumah sakit!" Aiden mencengkeram kerah baju Sean.
"Korban yang ada di berita itu.." Aiden tak kuasa melanjutkan ucapannya. Tubuhnya merosot ke lantai, air mata mulai membasahi pipinya.
Vivian yang masih berdiri itu juga mulai menitikkan air matanya. Kemarin mereka masih bersama, kemarin mereka masih membicarakan masalah itu bersama. Kemarin Yelena sudah berjanji tidak akan membencinya. Namun mengapa dia meninggalkan nya. Terlebih meninggalkannya untuk selamanya. Vivian merasa menyesal.
Vivian yang baru saja akrab saja merasa sangat menyesal. Bagaimana dengan Aiden yang sejak awal sudah menjaganya. Bahkan Yelena sempat memintanya untuk memanggilnya kakak.
Sedangkan Sean sama sekali tak berekspresi. Tidak tahu apa yang sedang dia rasakan saat ini. Juga apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
...“Jika aku tidak menerima pekerjaan itu. Jika aku tidak datang ke tempat ini. Jika saat itu Malaikat tidak sedang iseng untuk mempertemukan mu dengan ku. Mungkin kamu tidak akan pernah tahu jika aku ada. Kamu tidak akan memilihku untuk menjadi penggantinya. Aku tidak akan di permainkan, dan aku juga tidak akan jatuh cinta padamu! Terima kasih untuk perlakuan manis, pahit, dan juga masam yang telah kamu berikan selama aku menjadi mainan mu.”...
...Yelena, boneka mu.....
Sean meremas kertas yang ada di tangannya. Kemudian melesat pergi dari sana meninggalkan dua orang yang sangat berduka itu.
__ADS_1
Sean mengendarai mobilnya. Dia melajukan nya dengan kencang. Dengan tatapan kosong dan linglung dia mengemudi. Dia menghela napas panjang seraya memejamkan matanya.
Saat dia membuka mata, mobil besar melintas kencang di depannya. Jika saat itu dia tidak mengerem tepat waktu, mungkin hancur sudah mobilnya. Tidak sadar dia melewati lampu yang memberi perintah untuk berhenti itu.
"Ada apa denganmu? fokus, Sean!" dia mengusap wajahnya.
...****************...
"Tumben Tuan sibuk menerima panggilan kita.." sindir Bas.
"Sudahlah, terkadang kita tidak boleh terlalu keras kepada diri sendiri. Nah, minum! nikmati waktumu.." ujar Dias sembari menyodorkan segelas minuman beralkohol itu.
"Oh iya, kau masih memiliki hutang dengan kami!" sahut Jeremy.
Sean menatap Jeremy dari sela gelas minumnya. Dia kemudian meletakkan gelasnya dan menatap lurus Jeremy.
"Cerita. Wanita yang kau gandeng waktu itu, siapa dia? Ah, waktu itu dia juga menjemputmu kemari.." ujar Jeremy.
"Dan lagi, dia mirip dengan Allesa!" sahut Bas.
"Dia?" gumam Sean.
Dia mengusap wajahnya dan tertawa.
"Wanita itu telah mati!" ucapnya di sela tawanya.
"Kau mabuk?" Bas memukul pundak Sean.
__ADS_1
"Aku sadar!"
"Wanita itu telah mati! dia telah menjadi abu!" dia tetap tertawa.
Dia mengisi penuh gelasnya dan meminumnya dalam sekali teguk.
"Dia mati!"
"Apa kalian percaya?"
Dia terus tertawa sembari memijat keningnya, dan terus menggumamkan kalimat yang sama. "Dia mati!"
"Berhenti minum, Sean!" Dias merampas botol minuman itu dari tangan Sean.
"Kembalikan!" bentak Sean.
Mereka bertiga saling menatap. Temannya itu sudah mulai kehilangan kesadaran.
"Wanita itu telah mati!"
Sean merogoh sakunya dan mengeluarkan gumpalan kertas dari dalam sana.
"Lihat, dia hanya meninggalkan ini!" ujarnya masih dengan tawanya.
Tubuhnya mulai tumbang dengan kepalanya yang mendarat di atas meja.
"Seharusnya aku senang.." gumamnya.
__ADS_1