Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Long Time No See


__ADS_3

Tuk..tuk..tuk..


Suara botol kaca minuman yang di ketuk kan di atas meja. Pria yang melakukan hal itu sedang menenggelamkan wajahnya di atas meja.


Sesekali dia mengangkat kepalanya dan meneguk minuman keras di tangannya. Rambutnya telah memanjang, entah sudah berapa lama dia tidak memotongnya. Kumis dan jenggot nya juga tidak kalah. Dengan tubuh yang terlihat jelas tidak terawat.


Selama setahun itu Sean tidak datang ke kantornya. Aiden menggantikan posisi Sean di perusahaan. Dan selama itu Sean hanya mengurung dirinya di rumah. Sebagai Ibunya, Gloria tidak dapat berbuat apa-apa selain membiarkan putranya itu merasakan ganjaran atas perbuatannya sendiri.


Botol bekas minuman keras berserakan di mana-mana. Bungkus sisa makanan yang di pesan secara online juga menumpuk di mana-mana. Rumah yang dulunya terlihat elegan, kini terlihat seperti tempat daur ulang sampah.


Pria yang dulu mencintai kerapian dan kebersihan, kini tak beda jauh seperti seorang gembel di jalanan. Setiap hari dia hanya menggumamkan nama Yelena.


Hari itu dia menatap kalender.


"31 Desember.." gumamnya.


"Peringatan kematian Yelena."


Dia menaiki anak tangga dengan tubuh sempoyongan. Tubuhnya yang dulu kekar bertenaga, kini terlihat seperti tubuh seorang remaja yang sedang dalam masa pertumbuhan. Dia sangat kurus.


Setahun terakhir ini yang dia makan hanyalah sup ayam. Namun sup ayam yang di pesannya tidak sama dengan rasa buatan Yelena. Berulang kali dia mencoba untuk membuatnya, bukannya berhasil dia malah terluka. Itulah alasan mengapa banyak luka sayatan di jari dan tangannya.

__ADS_1


Dia berdiri di depan cermin kamarnya. Dia menatap betapa kacaunya dirinya. Dia mengusap jenggotnya.


"Jika Yelena melihat diriku yang kacau seperti ini, apa dia akan kembali?" ucapnya sambil tertawa pelan.


Dia berjalan ke lemarinya dan mengambil setelah serba hitamnya. Tidak perlu waktu lama dia telah memakainya. Kemudian dia mengambil dasi yang telah tersimpul itu.


"Dasi yang telah kau siapkan masih belum terpakai sama sekali.." gumamnya.


Sentuhan terakhir, dia mengambil tie clip hadiah ulang tahun dari Yelena. Lalu memakainya.


"Kita akan segera bertemu.." gumamnya.


...****************...


"Aku tidak membawa bunga, karena kau alergi terhadap bunga," ujarnya sembari mencabuti rumput liar di sekitar makam Yelena.


Setelahnya dia duduk bersila di samping makam itu. Dengan senyum tulus di wajahnya dia mengusap nisan itu layaknya seperti membelai wajah manusia.


"Sangat menyedihkan!"


"Maaf, Nona?"

__ADS_1


"Tidak.."


Wanita dengan pakaian hitam dan kaca mata warna senada nya itu sedari tadi berdiri di balik pohon sana, yang tak jauh dari makam Yelena. Dia menatap setiap aksi yang dilakukan Sean sejak tadi.


Sesekali dia tertawa puas yang membuat beberapa orang-orang berpakaian serba hitam di sampingnya kebingungan.


Sean mencium nisan itu sebelum bangkit dari duduknya.


"Cih~" decak wanita yang memantau Sean itu dengan tawa kecilnya.


"Ayo.." ujarnya pada pengawalnya.


Wanita bersama pengawalnya itu berjalan ke arah berlawanan dengan Sean. Dari balik kaca mata hitamnya dia menatap Sean yang terlihat sangat kacau dan menyedihkan itu.


Dia merasa senang dan puas. Namun tidak dengan sesuatu yang ada di dalam dadanya. Di dalam sana terasa sangat nyeri.


Dia mengepalkan tangannya saat berpapasan dengan Sean.


"Lama tidak berjumpa.." lirihnya bersamaan dengan hembusan angin kencang yang datang.


Seperti sebuah bisikan suara itu sampai di telinga Sean dengan samar. Sean menghentikan langkahnya dan mendongak menatap langit cerah di atas sana. Dia memejamkan matanya sejenak.

__ADS_1


'Aku merindukanmu..' batinnya.


__ADS_2