Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Berkumpul


__ADS_3

"Tante~"


Panggilan itu membuat Yelena dan Gloria menoleh.


"Yelena belum menyentuh nasinya!" lanjut Vivian.


Gloria menatap Yelena dengan alis berkerut nya.


"Benar itu?" tanyanya pada Yelena.


"Yelena tidak bisa makan sendiri Tante.." ujar Yelena dengan malu.


"Gadis ini!"


"Tante sudah makan malam? mari kita makan bersama.." ajaknya dengan canggung.


"Ayo~"


Mereka berdua berjalan berdampingan. Pemandangan itu membuat Vivian cemberut. Dia berlari kearah kedua wanita itu. Lalu meraih tangan Gloria dan bersandar di pundaknya.


"Wah~ Vivian juga kangen di gandeng sama Tante.."

__ADS_1


Gloria tertawa pelan, lalu mengusap pelan rambut Vivian. Gadis ceria itu selalu dapat mengambil hati Gloria. Meskipun satu didikan dengan Allesa, tapi Vivian lebih dapat menempatkan dirinya.


"Sebenarnya siapa yang anak kandung di sini?" gerutu Aiden saat mereka bertiga melewatinya begitu saja.


Gloria hanya melirik Sean yang berdiri di belakang Aiden. Lalu membuang wajah seperti tidak terjadi apa-apa.


...****************...


Meja makan yang biasanya hanya diisi dua orang atau hampir tidak pernah terpakai itu, kini terisi lengkap.


"Meskipun kamu baik terhadap Yelena, bukan berarti kamu juga tidak salah. Mama tetap menyalahkan mu!" bisik Gloria pada Aiden setelah selesai makan.


Aiden tersenyum kecil. Ketiga orang lainnya sedang penasaran hal seru apa yang Ibu anak itu bicarakan. Sean menatap Gloria, kemudian memalingkan wajah saat Gloria memutuskan perbincangan nya dengan Aiden.


"Kalau gitu aku juga menginap disini. Aku gak mau meninggalkan tunangan ku sendiri.." jawab Sean santai.


Vivian dan Aiden saling menatap. Permusuhan diantara Sean dan Ibunya terlihat sangat jelas. Suasana menjadi hening. Namun untungnya ada pemecah keheningan di sana, Vivian.


"Kalau gitu, gimana kalau kita membuat rancangan acara ulang tahun Sean?" ujar Vivian.


"Kekanakan!" gumam Sean yang mendapat lirikan tajam dari Gloria.

__ADS_1


Vivian menggandeng Yelena untuk pergi dari meja makan. Pergi dari lubang es antara Gloria dan Sean.


Kini tinggal mereka bertiga di meja makan. Aiden berdehem pelan lalu meneguk segelas airnya. Sedangkan Gloria menatap kosong ke sembarang arah.


"Kamu menggandeng dia dengan status apa saat di pesta nanti?" ujar Gloria saat Sean hendak bangkit dari kursinya.


"Bagaimana kamu menjelaskannya pada orang-orang?" lanjutnya.


"Mama tidak perlu mengkhawatirkannya.." ujar Sean kembali duduk.


Aiden menatap kakaknya dengan tatapan memusuhi. Tidak menyangka orang yang selau dia kagumi dan hormati berubah menjadi begitu keji, bahkan terhadap Ibunya sendiri.


"Kakak benar-benar sudah berubah.." ujar Aiden.


Sean melirik Aiden dengan malas, kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan pergi ke lantai atas. Yelena yang ada di ruang tamu menatap punggung Sean yang menaiki tangga itu. Sejak tadi mereka belum berbincang sama sekali.


Gloria menatap Yelena yang memfokuskan pandangannya ke atas sana. Memang dalam hal ini dia tidak dapat berbuat apapun. Mencegah pun sudah terlambat, menghentikan pun pasti sulit dan akan menghancurkan segalanya.


Maka dengan itu Gloria memutuskan untuk diam dan mengawasi. Gloria menebak, sudah pasti Yelena mempunyai perasaan terhadap Sean. Namun entah putra nya itu merasakan hal yang sama atau tidak.


"Mama benar-benar kacau, Mama tidak tahu harus bagaimana lagi.. gadis itu sangat malang," ucapnya pada Aiden.

__ADS_1


"Semuanya akan baik-baik saja, Ma. Yelena adalah gadis yang bijaksana, jika suatu saat ingatannya kembali..dia pasti dapat memberi pengertian terhadap kita. Tapi entah bagaimana dengan perasaannya. Aiden rasa dia benar-benar menyukai Sean.." ujar Aiden.


__ADS_2