
Sejak kemarin Yelena tak bosan-bosannya menatap bingkai foto itu. Menatap foto pasangan memuakkan itu. Allesa dan Sean.
Aiden telah menjelaskannya kemarin, foto itu diambil saat fitting baju pertunangan Sean dan Allesa.
"Bodoh!"
"Aku hanya boneka pengganti..kamu hanya pengganti, Yelena!" dia seperti orang tak waras, dia tertawa namun matanya menguarkan air mata.
"Kamu bodoh jika benar-benar mencintainya!" Yelena terus merutuki dirinya sendiri.
tok tok~
Yelena menoleh ke arah pintu kamarnya yang di ketuk dari balik sana. Dia tidak beranjak, dia tahu jika itu Sean. Sesaat kemudian pintu itu mulai terbuka dan menampilkan sosok yang membuat jantung Yelena berdegup dengan sangat hebatnya.
Dia merasa bodoh karena tidak dapat melawan perasaannya sendiri. Tidak, dia merasa lebih bodoh karena telah jatuh hati pada pria itu.
"Yelena?"
Yelena mendongakkan kepalanya menatap pria yang tanpa dia sadari telah berdiri di hadapannya. Namun dia lupa, dia masih dengan tatapan kebenciannya. Dengan tatapan itu dia melihat Sean.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Sean sembari mengambil tempat untuk duduk di samping Yelena.
Segera Yelena merubah tatapannya dan mulai tersenyum profesional.
__ADS_1
"Tidak, aku hanya kepikiran mimpi semalam. Mimpi yang waktu itu datang lagi.."
"Jangan terlalu dipikirkan, itu hanya mimpi.." ujar Sean seraya menarik tubuh Yelena dalam pelukannya.
Dia tidak dapat berbohong, saat ini pun dia masih menginginkan hal yang lebih dari Sean. Tubuhnya benar-benar telah terbiasa dengan pria itu. Juga hatinya. Meskipun pikiran adalah remote kontrol, namun dia tidak dapat mengontrol tubuhnya.
"Sean.."
"Hmm?" sahutnya dengan lembut.
"Tidak.."
Yelena mengurungkan niatnya, dia tidak dapat membicarakan hal itu, karena hal itu mungkin akan membuat Sean waspada terhadapnya.
"Aku merindukanmu.."
Sean melepas pelukannya, lalu meraih wajah Yelena. Tubuhnya semakin condong ke arahnya, wajahnya semakin mendekat. Tinggal beberapa senti lagi jarak antara bibir keduanya sebelum bersentuhan, namun Yelena memalingkan wajahnya.
Sean mengerutkan keningnya merasa tak puas dengan perilaku Yelena. Dia kembali meraih wajah Yelena untuk menghadapnya. Kini Yelena menampilkan tatapan tak suka nya, membuat rahang Sean mulai mengeras.
"Sean, jika aku pergi.. apakah kamu akan mencari seseorang yang mirip denganku?" tanya Yelena dengan tatapan tegasnya.
Tentu saja pertanyaan itu menjadi tamparan keras untuk Sean. Namun tetap saja dia masih dapat bersilat lidah.
__ADS_1
"Tentu saja tidak! karena aku sangat mencintaimu.."
"Pfftt~" Yelena memalingkan wajah dan menutup mulutnya untuk menahan tawanya.
Sean semakin kesal dengan perubahan sikap Yelena yang sangat besar itu.
"Apa yang kamu tertawakan?" tanya dengan ketus.
"Tidak, hanya merasa lucu saja.."
"Oh iya, ngomong-ngomong kamu sudah lancar mengatakan 'aku mencintaimu' ya?" lanjut Yelena kembali menatap Sean dengan senyum miring nya.
Sean mencoba meredam emosinya dengan mengepalkan tangannya. Dia merasa ada yang tidak beres dengan wanita di hadapannya itu. Tatapannya, senyumnya, juga nada bicaranya. Semuanya berbeda seperti biasanya.
Tanpa kata dia mulai bangkit dari duduknya. Lebih baik dia pergi menemui Allesa untuk menghilangkan kekesalannya.
Namun langkahnya terhentikan oleh Yelena yang menahan lengannya. Sean berbalik. Dan serangan ciuman dia dapatkan dari Yelena. Dia tidak dapat menolaknya. Dia meraih pinggang Yelena untuk menariknya semakin mendekat, dan membalas ciumannya dengan lebih dalam.
"Aku hanya bercanda, jangan marah ya.." ujar Yelena saat mereka melepas ciumannya.
Sean menyiah rambut Yelena dan mengecup keningnya.
"Tidak akan.." bisik nya.
__ADS_1